Seorang anak memakai masker saat melintasi jalan nan diselimuti kabut asap kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (3/7/2026)(ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
GURU Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof Dr R Budi Haryanto SKM MKes MSc menegaskan paparan polusi udara berakibat serius terhadap kesehatan anak. Dampak tersebut meliputi akibat gangguan pertumbuhan otak, penurunan kegunaan paru-paru, hingga penyakit kronis.
Menurut Budi, tingginya eksposur beragam unsur polutan di udara serta penggunaan bahan bakar berbobot emisi rendah nan tidak sehat meningkatkan akibat penyakit kronis pada usia dini.
“Maka ya risikonya semakin banyak, ada penyakit-penyakit kronis dari gangguan seperti paru, penyakit jantung apalagi stroke, anak-anak, jadi bukan milik orang dewasa saja sekarang, lantaran eksposurnya tinggi ini jadi masalah untuk anak-anak,” ujar Budi dalam aktivitas International Council on Clean Transportation (ICCT) di Jakarta, Selasa (4/8).
Ia menjelaskan, anak-anak menjadi golongan paling rentan terhadap paparan polusi udara lantaran organ tubuh dan sistem kekebalan mereka tetap dalam tahap tumbuh tumbuh kembang.
Di sisi lain, tingkat aktivitas bentuk anak nan tinggi membikin volume dan gelombang udara nan dihirup jauh lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Dalam kondisi normal, seseorang bernapas sekitar 20 kali per menit dengan volume udara masuk mencapai 500 mililiter sekali dihirup. Namun, saat anak aktif berlari alias bersepeda, gelombang tersebut bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat.
“Bayangkan jika sekali bernapas normal saja itu sekitar 500 ml udara nan masuk, alias katakanlah 9 meter kubik selama satu menit. Kalau itu frekuensinya semakin sigap ya semakin banyak dua kali lipat, tiga kali lipat. Bayangkan nan dimasukkan dalam paru-paru itu apa saja semakin banyak makin cepat,” tutur Budi.
Risiko Penurunan IQ
Lebih lanjut, Budi memaparkan bahwa akibat polusi udara terhadap sistem pernapasan manusia—mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia—sangat berjuntai pada jenis serta kadar polutan nan terhirup.
Partikel lembut seperti PM2.5 sanggup menembus paru-paru hingga meresap ke aliran darah sebelum beredar ke organ vital lainnya, termasuk jantung. Dalam jangka panjang, paparan ini memicu asma, pneumonia, bronkitis, hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
“Terus bronkitis, gangguan kegunaan paru itu terutama jika sudah long term, terus kemudian ini bakal meningkat menjadi penyakit-penyakit paru nan PPOK ya,“ jelasnya.
Selain menyerang organ pernapasan, senyawa kimia rawan dalam polusi udara juga bisa melintasi pembuluh darah dan mengganggu sistem saraf pusat. Dampak neurologis ini berisiko memicu demensia, penurunan kegunaan kognitif, Alzheimer, stroke, hingga halangan perkembangan kepintaran pada anak.
“Kalau kita teliti itu kaitannya kelak dengan penurunan IQ, jadi jika dilihat rapotnya itu tidak tinggi-tinggi nilainya tingkat prestasi belajar itu juga terganggu, itu semuanya otak. Pokoknya terganggu di susunan saraf pusat ya udah segala macam ada di sana nan mengenai dengan otak,” pungkas Budi. (Ant/P-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·