Polisi: Tak Ada Kelalaian Petugas saat Sekeluarga Tewas di Glamping Temanggung

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Evakuasi jenazah korban glamping maut Posong, Temanggung. Foto: Dok. RSUD Kabupaten Temanggung

Polisi memastikan tidak ada unsur kelalaian dari pihak pengelola lokasi wisata Posong, Temanggung dalam kasus satu family tewas saat glamping. Polisi memastikan kasus ini murni kecelakaan.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng Kombes Pol Anwar Nasir mengatakan, satu family ini tewas lantaran keracunan karbon monoksida nan berasal dari tungku pembakaran untuk menghangatkan badan.

Tungku ini memang disediakan oleh pengelola, namun sudah ada standar operasional prosedur (SOP) nan kudu dipatuhi pengunjung.

"Tungku itu disediakan oleh pengelola, namun dua orang saksi ialah penjaga glamping sudah meminta agar tungku diletakkan di luar tenda lantaran bisa menyebabkan kebakaran dan mengganggu pernafasan," ujar Anwar dalam bertemu pers, Senin (15/6).

Namun, rupanya tungku pembakaran itu diletakkan para korban di dalam ruangan tepat di depan pintu masuk. Hal itu diduga memicu terperangkapnya gas karbon monoksida di dalam tenda.

"Kita juga sudah memeriksa manajemennya dan memastikan pengelola mempunyai SOP, nan ditempelkan dan diinfokan kepada para pengunjung," jelas dia.

Selain itu, dia menyebut tenda glamping itu mempunyai ventilasi. Namun saat kejadian seluruh ventilasi itu ditutup rapat oleh para korban.

"Tenda glamping mempunyai tiga ventilasi namun saat kejadian kondisinya tertutup rapat," imbuh Anwar.

Untuk itu, dia menegaskan unsur kelalaian tidak terbukti lantaran pihak pengelola mempunyai SOP dalam pengelolaan glamping.

"Kami juga tidak menemukan adanya unsur kelalaian dari pihak pengelola lantaran prosedur keselamatan telah dijalankan dan petugas pengelola sudah memberi peringatan kepada korban untuk tidak menyalakan tungku di dalam tenda lantaran berbahaya," tegas Anwar.

Sementara itu, Kabid Dokkes Polda Jateng Kombes Pol Agung Hadi Wijanarko menjelaskan bahwa hasil autopsi dan pemeriksaan toksikologi menunjukkan para korban mengalami keracunan karbon monoksida nan mengakibatkan meninggal lemas.

“Pemeriksaan forensik terhadap korban dan sampel darahnya menunjukkan adanya tanda-tanda keracunan karbon monoksida. Kami juga tidak menemukan luka akibat kekerasan di tubuh para korban maupun kandungan unsur berbisa lain seperti sianida nan dapat menyebabkan kematian,” ungkap Agung.

Temuan tersebut diperkuat oleh hasil pemeriksaan laboratorium dan simulasi nan dilakukan oleh tim Bidlabfor Polda Jateng di letak kejadian. Hasilnya, paparan gas monoksida dalam glamping tersebut mencapai 2000 ppm jauh dari pemisah aman.

"Konsentrasi gas nan dihasilkan mencapai 2000 ppm nan sangat rawan bagi manusia. Bahkan ketika dilakukan uji pembakaran di luar tenda, gas karbon monoksida tetap berpotensi masuk ke dalam dan melampaui periode pemisah kondusif (200 ppm)," kata Sutarto.

Polisi saat melakukan pemindahan jenazah satu family nan meninggal bumi saat glamping di Posong, Temanggung. Foto: Dok. Polres Temanggung

Sebelumnya, satu family nan terdiri dari ayah Muhamad Ali Munawar (52), ibu Maghfirah (43), anak sulung Bagas Amar Hakiki (21), serta anak bungsu mereka Alvino Evan Hakim (16) ditemukan tewas pada Rabu (27/5) sore.

Mereka awalnya menginap di tenda glamping di lokasi wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sejak Selasa (26/5) sekitar pukul 21.05 WIB.

Namun, keesokan harinya alias pada Rabu (27/5), tidak ada respons dari para korban ketika waktu sewa habis. Petugas lampau terpaksa membuka pintu tenda pada pukul 15.30 WIB dan menemukan keempat korban sudah terbujur kaku.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan