Polisi Selidiki Teror Api dan Kebakaran Berulang di Rumah Fia Sleman

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Yogyakarta, CNN Indonesia --

Polisi akhirnya turun tangan menyelidiki kejadian teror api misterius nan memicu kebakaran berulang di kediaman Mutfiana namalain Fia, wilayah Seyegan, Sleman, DIY.

"Kami mengumpulkan kebenaran ada unsur kesengajaan alias tidak dalam peristiwa ini," kata Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Mateus Wiwit Kustiyadi di Pemkab setempat, Senin (15/6).

Wiwit menekankan, kepolisian tak buru-buru mencari ada tidaknya unsur pidana dari kejadian ini. Mereka bakal melakukan pendalaman berbekal hasil penelitian secara ilmiah nan telah dilakukan oleh para peneliti UGM, UPN, BPPTKG hingga BRIN.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada beberapa bahan-bahan nan sudah dari mahir langsung dari rekan-rekan BPBD nan sudah kami dapatkan. Dan itu kelak apakah menjadi perangkat bukti alias tidak, apakah nantinya ini bakal berkembang menjadi suatu penegakan norma alias tidak, itu bakal kami dalami lebih lanjut," ucap Wiwit.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro sementara itu menyebut bahwa penyelidikan diserahkan kepada kepolisian lantaran hasil penelitian secara ilmiah tak menemukan bukti kuat bahwa api di rumah Fia muncul secara alami.

"Latar belakang dari kepolisian sendiri, lantaran belum menemukan penyebabnya itu apa. Karena tidak ada hubungannya dengan gas alam di sana, maka kelak ini tugasnya satreskrim dengan timnya nan bakal mencari penyebab munculnya api," kata Bambang.

BPBD juga telah menerima laporan hasil akhir penelitian oleh tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM. Yakni, berasas uji sampel dari residu jejak kebakaran nan ada di letak kejadian, setelah dianalisis berasosiasi dengan adanya resin PVC nan mudah terbakar jika berjumpa dengan sumber api.

Lalu, merujuk hasil pengamatan pengetahuan bumi lapangan dan kajian geofisika oleh UPN "Veteran" Yogyakarta, tidak ditemukan hubungan antara peristiwa kebakaran berulang dengan kondisi pengetahuan bumi sekitar dan keterdapatan gelembung gas di sungai Nepen.

Adapun hasil uji dari BPPTKG juga menunjukkan bahwa belum ditemukan adanya indikasi gas dari alam nan membahayakan hingga menyebabkan kebakaran. Serta berasas pengukuran suhu, belum ditemukan anomali suhu nan signifikan nan menunjukkan pemicu timbulnya api.

"Kandungan gasnya baik metana mulai dari hidrogen, gas fosfin, maupun gas rawa dari masing-masing ini tadi itu tidak bisa, alias di bawah periode pemisah untuk bisa menimbulkan api. Sehingga penelitian ini dari beliau beliau sudah cukup dan memberikan rilisnya kepada kami," papar Bambang.

Sebelumnya, Tim PKPE FT UGM memastikan pemicu kejadian api misterius di kediaman Mutfiana namalain Fia, wilayah Seyegan, Sleman, DIY bukanlah gas alam.

Tim tidak menemukan cukup bukti-bukti kuat bahwa api muncul secara alami dan dapat menyala lantaran pemantik elektromagnetik maupun nyala sendiri mengikuti norma self-ignition.

Tim menyimpulkan bahwa kejadian api misterius di rumah Fia tidak berasosiasi dengan gas alam, macam gas hidrogen (H2) alias gas fosfin (PH3), melainkan kandungan resin poly vinyl chloride (PVC).

Resin PVC ini mudah terbakar jika berjumpa sumber api (ignition). Kandungan ini ditemukan dari residu kebakaran nan secara tidak umum ada di permukaan tembok keramik maupun kayu alias tripleks di rumah Fia. Kandungan ini ditemukan melalui metode FTIR.

Temuan kandungan resin PVC ini mengindikasikan kejadian api di rumah itu tidak muncul secara spontan.

Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM, nan tergabung dalam tim PKPE, Sarju Winardi mengatakan, timnya menduga resin PVC ini berasal dari campuran solvent alias unsur pelarut.

"Residu dari poly vinyl ini diduga berasal dari substansi nan awalnya adalah campuran. nan residu itu adalah sisa dari solid materialnya. nan menjadi sumber dari, api itu adalah campuran solvent-nya. Jadi rupa-rupanya materi ini awalnya adalah sesuatu nan sifatnya bercampur ya, dengan sesuatu pelarut, solvent. Nah, pelarut inilah nan kemudian lepas sebagai, nan menghasilkan api," jelas Sarju di FT UGM, Sleman, DIY, Sabtu (14/6).

Residu berupa resin PVC ini, menurut Sarju, biasanya ditemukan pada sisa pembakaran benda-benda nan mengandung solvent macam lem alias cat.

Hanya saja, Sarju menekankan bahwa unsur pelarut ini tidak bisa terpantik dan menyulutkan api dengan sendirinya. Solvent juga tidak bisa mengalami self-ignition hanya dengan suhu kamar.

"Solvent inilah nan dia terbakar. Nah, terbakarnya solvent itu ada pemantiknya," jelas Sarju.

"Ini kudu dipantik oleh sesuatu nan kami tidak tahu, karena, lantaran kami tidak pada tahap sampai ke sana," sambungnya.

Sarju mengatakan bahwa timnya tak menginvestigasi alias menyimpulkan pemantik alias sistem api akhirnya bisa tersulut di rumah Fia.

(kum/dal)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional