Pola Tidur Buruk di Usia Paruh Baya Percepat Penuaan Otak

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Pola Tidur Buruk di Usia Paruh Baya Percepat Penuaan Otak Ilustrasi.(Magnific)

KUALITAS tidur di usia paruh baya rupanya mempunyai akibat nan jauh lebih besar terhadap kesehatan otak daripada nan diperkirakan sebelumnya. Studi terbaru nan diterbitkan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia menunjukkan bahwa pola tidur tertentu berangkaian erat dengan tanda-tanda percepatan penuaan otak di masa depan.

Para peneliti mengidentifikasi tiga kebiasaan tidur jelek nan menjadi pemicu utama, ialah kualitas tidur nan rendah, pola tidur nan terganggu, dan rasa kantuk berlebihan di siang hari. Peserta penelitian nan melaporkan beberapa masalah tidur sekaligus condong menunjukkan karakter otak nan tampak lebih tua dibandingkan usia kronologis mereka nan sebenarnya.

Hubungan Tidur dan Struktur Otak

Meskipun studi ini tidak membuktikan bahwa masalah tidur secara langsung menyebabkan penuaan otak, para mahir menekankan ada asosiasi kuat nan tidak boleh diabaikan. Salah satu temuan kunci adalah akibat dari kualitas tidur nan jelek secara konsisten, seperti kesulitan untuk terlelap, sering terbangun di malam hari, alias merasa tidak segar saat bangun pagi.

Menurut para peneliti, perseorangan dengan gangguan tidur nan berkepanjangan lebih mungkin menunjukkan perubahan struktural pada otak nan biasanya dikaitkan dengan penuaan. Hal ini diperparah oleh pola tidur nan tidak teratur, seperti waktu tidur nan berubah-ubah, nan dapat mengganggu ritme alami tubuh.

Pentingnya Fase Pemulihan: "Tidur adalah waktu bagi otak membersihkan produk limbah dan melakukan reset untuk hari berikutnya. Jika proses itu berulang kali terganggu, perihal itu dapat berakibat jangka panjang pada kesehatan otak," catat para peneliti dalam studi tersebut.

Kantuk di Siang Hari sebagai Sinyal Bahaya

Faktor ketiga nan disorot adalah rasa kantuk berlebihan di siang hari. Merasa capek terus-menerus meskipun sudah merasa cukup tidur di malam hari bisa menjadi sinyal bahwa rehat nan dilakukan tidak restoratif alias tidak memulihkan kegunaan tubuh secara optimal.

Dalam studi tersebut, kondisi ini dikaitkan dengan perubahan materi putih (white matter) pada otak nan sering terlihat pada orang dewasa lanjut usia. Temuan ini menunjukkan bahwa bukan hanya satu malam tidur nan jelek nan menjadi masalah, melainkan pola nan terbentuk selama bertahun-tahun.

Faktor Risiko nan Bisa Diubah

Madeline Ally, penulis utama studi dan peneliti dari Departemen Psikologi, menyatakan bahwa berita baik dari temuan ini adalah perilaku tidur merupakan aspek akibat nan dapat dimodifikasi.

"Tidur adalah salah satu aspek akibat nan berpotensi dapat diubah. Jika kita dapat meningkatkan kualitas tidur, perihal itu dapat membantu mengurangi akibat penuaan otak dan apalagi mungkin menurunkan akibat demensia seperti penyakit Alzheimer," ujar Ally.

Para mahir menyarankan beberapa langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas tidur, antara lain:

  • Menjaga agenda tidur dan bangun nan konsisten setiap hari.
  • Membatasi penggunaan layar (gadget) sebelum tidur.
  • Menciptakan lingkungan bilik tidur nan tenang dan nyaman.

Bagi perseorangan nan secara rutin mengalami kesulitan tidur alias merasa sangat capek di siang hari, para mahir merekomendasikan untuk segera berkonsultasi dengan ahli kesehatan guna mendapatkan penanganan nan tepat sebelum berakibat pada kesehatan kognitif jangka panjang. (Newsweek/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia