PLTS-Mesin Pengering, Local Hero Pertamina Nyalakan Harapan Petani Saat Mendung

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos di Cilacap. Foro: Pertamina

Dulu, penduduk Desa Mernek Jenek, Kabupaten Cilacap, kudu menengadah ke langit untuk menentukan nasib hasil panennya. Matahari berfaedah angan agar gabah sigap kering, sementara mendung bisa berfaedah padi kudu kembali diselamatkan dari hujan. Namun, di desa itu, sekarang keringnya padi tak lagi hanya diharapkan datang dari langit.

Energi sinar mentari ditangkap oleh panel surya, disimpan, lampau digunakan untuk membantu mengeringkan padi melalui mesin pengering. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, daya bersih menjadi jawaban atas persoalan nan sangat dekat dengan kehidupan petani.

Suyitno merupakan penggerak para petani setempat, dengan memanfaatkan teknologi mesin pengering berjulukan Pinky Rudal untuk mengeringkan gabah menjadi lebih sigap dan meningkatkan hasil panen. Sebelum dikenal sebagai Local Hero Pertamina, dia adalah pedagang mini nan memproduksi keripik tempe dari nol.

Keterlibatannya dalam beragam aktivitas desa, mulai dari BUMDes hingga area wisata pertanian, kemudian membawanya pada persoalan nan jauh lebih besar, ialah gimana membantu petani menghadapi beragam tantangan di kampungnya.

“Program DEB di desa kami itu nan pertama adalah mengeringkan padi nan Alhamdulillah sampai saat ini juga tetap melangkah nan terutama untuk musim hujan, lantaran jika musim hujan kan susah mengeringkan padi, jadi kita dengan Pertamina membikin inspirasi ialah dengan adanya Pinky Rudal,” jelasnya saat berbincang berbareng kumparan.

Inovasi nan digawangi Suyitno tersebut berjulukan pengembangan Kawasan Wisata Pertanian (Kawista) dan penemuan rice cycle dengan teknologi mendatar drying Pinky Rudal sebagai perangkat pengering padi. Program ini memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mendukung pompa hidroponik, pengering padi (rotary dryer), dan area agrowisata.

Sebelum ada penemuan tersebut, para petani Desa Mernek Jenek mengalami keterbatasan akses pengering ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi nan berakibat pada kualitas hasil panen. Para petani kemudian terpaksa menjual padi nan tetap basah dengan nilai rendah, berkapak kepada rendahnya pendapatan petani.

“Sebelumnya jika pengeringan padi kita jemur manual paling ya jika di musim hujan tuh 4 sampai 5 hari baru kering. Nah jika setelah ada Pinky Rudal, itu sehari langsung kering. Hematnya tuh di situ, sigap ,” jelas Suyitno.

Selain itu, Suyitno menyebut bahwa teknologi tersebut juga sukses meningkatkan produktivitas hasil panen, menjadi sekitar 1.5 ton per hari. Inovasi ini juga berfaedah untuk mengurangi aktivitas jemur padi di jalanan nan mengganggu aktivitas masyarakat.

PLTS tidak hanya menjadi berkah bagi operasional pengeringan padi. Suyitno menyebut bahwa terdapat aktivitas perkebunan hidroponik di dalam rumah kaca namalain greenhouse nan dilaksanakan para ibu-ibu, nan juga mengandalkan daya bersih dari matahari.

“Alhamdulillah sampai saat ini PLTS tetap sangat berguna, dan bukan hanya untuk Pinky Rudal saja, di sini juga kami ada greenhouse nan dikelola oleh ibu-ibu KWT, kita menanam buah melon, selada, hidroponik dan juga bayam,” tutur Suyitno.

Hasil panen perkebunan tersebut juga dijual langsung oleh golongan Kawista, sehingga menambah pendapatan para anggota. Dari jasa pengeringan padi, hasil panen, sayur dan buah-buahan tersebut bisa meraup omzet sekitar Rp.20 jutaan setiap tahunnya. Potensi peningkatan pendapatan petani juga bisa mencapai diatas Rp.90 jutaan per tahun.

Selain menjadi petani, Suyitno sebelumnya juga berdagang keripik tempe nan dia produksi dan menjadi salah satu UMKM bimbingan Pertamina, sekaligus sudah aktif mengembangkan program Kawista dan melakukan edukasi kepada penduduk desa sekitar. Pada tahun 2019, dia akhirnya mengikuti aktivitas Cerdas Sadar Lingkungan dan dipilih menjadi Local Hero.

“Sempat juga dari desa-desa lain memandang gimana caranya menanam padi beragam macam jenis, mereka bisa pilih jenis padi apa saja nan sekiranya bagus untuk ditanam di wilayah mereka masing-masing,” tuturnya.

Ia berterima kasih atas seluruh support nan disalurkan melalui program DEB, selain pembangunan PLTS, juga termasuk sistem pengairan sawah, pompa vertikal, pupuk, hingga beragam penunjang operasional greenhouse.

Seluruh support tersebut, lanjut Suyitno, pun berakibat pada penghematan energi. Ia menyebut PLTS tersebut juga menyalurkan pasokan listrik untuk penerangan jalan di desanya, nan sebelumnya tidak ada sama sekali.

“Hemat waktu dan juga irit biaya. Seumpamanya biaya jika 1 ton ya kita bayar ke orang nan ngeringin padi itu Rp 100 ribu lah ya. Jadi lebih murah lah ya dibandingkan itu. Misalnya 100 kali 4 kan Rp 400 ribu. Tapi jika dikeringkan sama Pinky Rudal kan 1 hari selesai,” ungkap Suyitno.

Ke depannya, Suyitno apalagi bermimpi menciptakan akomodasi olahraga nan layak bagi masyarakat Mernek Jenek. Ia tengah membangun sebuah lapangan untuk jogging track, nan nantinya juga bisa dimanfaatkan untuk aktivitas kemasyarakatan lainnya nan tetap memegang erat sifat kekeluargaan dan gotong royong.

“Kami punya rencana, ini kan sedang pengurukan lapang untuk kelak dibikin jogging track, dan kami mempunyai kemauan dan permintaan kepada Pertamina untuk ke depannya bisa dikasih lampu-lampu di situ di sekeliling lapangan untuk aktivitas penduduk di Desa Mernek,” tandasnya.

Perjalanan itu mungkin tetap panjang. Namun, perubahan nan dimulai dari panel-panel surya telah menunjukkan bahwa Desa Energi Berdikari bukan hanya soal membangun pembangkit.

Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan bahwa Pertamina melalui program DEB mencoba membangun ekosistem nan berkesinambungan.

"Ketika daya berjumpa dengan pertanian, upaya warga, dan ruang publik. Dari padi nan sekarang tak lagi terlalu berjuntai pada panas mentari langsung, program DEB di Desa Mernek Jenek sedang belajar bahwa kemandirian juga bisa dimulai dari langkah baru memanfaatkan sinar nan sama," ujar Baron.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan