PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk mengembangkan potensi biomassa di desa dan wilayah tertinggal.
Kolaborasi ini membuka kesempatan bagi Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan masyarakat memanfaatkan residu pertanian dan perkebunan menjadi biomassa bagi pembangkit listrik, sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru di pedesaan. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat transisi daya sekaligus mendorong kemandirian ekonomi desa.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa Kemendes PDT, Tabrani, mengatakan kerja sama tersebut bermaksud memberdayakan masyarakat desa, sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya lokal untuk mendukung kebutuhan daya nasional.
"Kita ketahui bahwa 75.262 desa mempunyai banyak potensi untuk memenuhi kebutuhan daya nan dibutuhkan oleh PLN EPI dalam corak biomassa," kata Tabrani dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/8).
Menurutnya, potensi tersebut dapat dikembangkan baik melalui BUM Desa maupun lembaga ekonomi desa lainnya. Sehingga aktivitas ekonomi desa tidak berakhir pada produksi komoditas pertanian, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari rantai pasok daya nasional.
"Target kita, sepanjang di situ ada PLN EPI, mudah-mudahan kita bakal bisa bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan itu. Dan itu sudah dimulai pada tahun 2026 ini," ujarnya.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pelibatan masyarakat desa dalam rantai pasok biomassa telah melangkah melalui penyediaan biomassa untuk 52 titik PLTU di seluruh Indonesia. PKS ini diharapkan memperluas keterlibatan BUM Desa melalui kemitraan nan lebih terstruktur.
"Hampir semua pasokan biomassa nan sudah kita deploy di 52 titik pembangkit tenaga uap kita di seluruh Indonesia itu membuka celah untuk keterlibatan masyarakat desa secara langsung," kata Hokkop.
Hokkop mengatakan kerja sama dengan Kemendes PDT dapat menjadi pintu masuk bagi BUM Desa untuk membangun kemitraan dengan PLN EPI. Kemitraan tersebut tidak hanya sebatas memasok biomassa, tetapi juga dapat dikembangkan dalam corak investasi bersama.
Ia menjelaskan BUM Desa tidak hanya berkesempatan menjadi pemasok biomassa, tetapi juga dapat berkolaborasi dengan PLN EPI dalam membangun akomodasi produksi maupun hub biomassa untuk memenuhi kebutuhan program co-firing pembangkit PLN.
Menurut Hokkop, Indonesia mempunyai sekitar 200 juta ton residu agro setiap tahun dan sekitar 80 juta ton di antaranya berpotensi dimanfaatkan sebagai biomassa. Saat ini sekitar 12 juta ton dimanfaatkan sektor industri, 8–10 juta ton diekspor, sedangkan PLN memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton untuk kebutuhan co-firing pembangkit.
PLN EPI menargetkan pemanfaatan biomassa meningkat menjadi 10 juta ton per tahun pada 2030, sehingga membuka kesempatan optimasi sekitar 60 juta ton potensi biomassa nan selama ini belum termanfaatkan.
"Semakin meningkat pertanian dan industri pertanian di Indonesia, maka biomassa juga bakal semakin meningkat. Kepentingan untuk mengganti molekul-molekul fosil ke tubuh pembangkit kita itu juga makin mudah kita dapatkan sampai nomor 10 juta ton di tahun 2030," katanya.
6 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·