Wakil Ketua DPR Saan Mustopa menanggapi soal memanasnya situasi di Selat Hormuz usai perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kandas mencapai kesepakatan.
Saan berambisi ketegangan di area Timur Tengah dapat mereda meski perundingan antara Amerika Serikat dan Iran tidak membuahkan hasil maksimal. Ia mengingatkan kondisi tersebut bisa berakibat luas terhadap situasi global, termasuk Indonesia.
“Kita berharaplah ya suasana dunia semakin bisa berhujung dengan baik ya. Terus juga kita berambisi dan mungkin dalam bahasa tertentu ya, mendoronglah agar perdamaian gencatan senjata nan dua minggu ke depan ini walaupun kesepakatan maksimal tidak didapat,” ujar Saan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4).
Ia menekankan pentingnya tercapai kesepakatan parsial guna menjaga stabilitas area dan mencegah akibat nan lebih luas.
“Minimal kesepakatan-kesepakatan antara Iran Amerika ini hal-hal nan lainnya ini diharapkan bisa lebih membaik agar suasana dunia kita semakin baik juga,” ujar Saan.
“Karena jika suasana di Timur Tengah enggak kondusif, pasti berakibat sama kita. Dan tentu kita juga kudu mulai mempersiapkan diri mengenai dengan situasi nan ada di Timur Tengah,” lanjutnya.
Saan juga menanggapi rumor nan berkembang mengenai potensi kebijakan Iran terhadap kapal-kapal nan melintas di Selat Hormuz, termasuk mulai menerapkan tarif transit sebesar USD 2 juta.
“Ya itu kelak diharapkan Iran juga tidak memanfaatkan situasi ini dan kita juga pasti yakin. Saya termasuk nan berkeyakinan pemerintah bakal berupaya keras ya agar situasi di Timur Tengah juga itu tidak terlalu berakibat sama kita,” ucapnya.
Menurutnya, pemerintah Indonesia bakal memperkuat komunikasi diplomatik dengan beragam pihak untuk meredam akibat bentrok tersebut.
“Makanya komunikasi pemerintah kita dengan Iran maupun dengan pihak-pihak mengenai pasti lebih intensif. Dan saya percaya dan percaya pemerintah sudah melakukan langkah-langkah nan terbaik untuk Indonesia,” lanjutnya.
Ia juga mengapresiasi langkah-langkah diplomasi nan telah dilakukan pemerintah, termasuk upaya komunikasi dengan negara lain, salah satunya Presiden Rusia Vladimir Putin.
“(Komunikasi Presiden dengan) Putin. Iya itu kan juga upaya semua. Jadi kita tentu kudu mengapresiasi apa nan dilakukan oleh pemerintah,” kata dia.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut untuk memblokade Selat Hormuz pada Minggu (12/4). Trump disebut marah atas penolakan Iran untuk melepaskan ambisi nuklirnya setelah perundingan tenteram di Pakistan kandas meraih kesepakatan.
Merespons Trump, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa mereka telah mengendalikan sepenuhnya lampau lintas di Selat Hormuz dan bakal menjebak musuh mana pun nan mencoba menentang.
Dalam deklarasi di platform media sosial, Trump mengatakan tujuan akhirnya adalah membersihkan Selat Hormuz dari ranjau dan membukanya kembali jalur itu untuk semua pelayaran.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, nan terbaik di dunia, bakal memulai proses memblokade semua kapal nan mencoba masuk, alias keluar, dari Selat Hormuz,” kata Trump dikutip dari AFP.
“Setiap penduduk Iran nan menembak kita, alias kapal-kapal damai, bakal dihancurkan,” sambungnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·