Picu Perpecahan, Trump Balut Ambisi Perang AS dengan Retorika Agama

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menggunakan retorika Kristen untuk menggalang support dari pedoman pemilih intinya. Pesan tersebut tidak hanya disampaikan oleh Trump, tetapi juga diperkuat oleh para pemimpin evangelikal nan menggambarkan bentrok sebagai pertarungan antara kebaikan dan kejahatan.

Trump, nan mengumumkan gencatan senjata dua minggu pada Selasa (7/4/2026), menghadapi kesulitan meyakinkan penduduk AS untuk mendukung perang tersebut. Konflik itu memicu lonjakan nilai energi, menewaskan personel militer AS serta penduduk Iran, dan makin menggerus posisinya di mata pemilih.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali menggunakan bahasa religius. Ia menyebut pengamanan seorang penerbang AS nan jatuh di Iran sebagai "keajaiban Paskah" dan menyiratkan bahwa serangan AS dan Israel mendapat restu Tuhan.

Dilansir Reuters, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth apalagi melangkah lebih jauh dengan mengutip kitab suci untuk membenarkan penggunaan "kekerasan nan luar biasa" terhadap musuh nan menurutnya "tidak layak mendapat belas kasihan".

Pesan tersebut digaungkan oleh sejumlah pemimpin Kristen konservatif, mulai dari tokoh dekat Trump seperti pendeta berpengaruh asal Texas Robert Jeffress hingga pengkhotbah di kota-kota kecil. Mereka menekankan makna alkitabiah negara Israel modern, nan oleh banyak evangelikal dikaitkan dengan nubuat tentang kehadiran Yesus Kristus nan kedua.

Pendeta evangelikal dan pendukung Trump nan juga mencalonkan diri untuk Kongres AS, Jackson Lahmeyer, mengatakan kepada jemaatnya di Tulsa, Oklahoma, bahwa perang biasanya merupakan pertarungan antara baik dan jahat, dan bentrok dengan Iran tidak terkecuali.

"Orang jahat itu ada, dan jika Anda tidak menghadapi mereka, mereka bakal menghadapi Anda," katanya. "Baik dan jahat, itulah kisah Alkitab. Kabar baiknya adalah pada akhirnya kebaikan selalu menang."

Pemilih evangelikal kulit putih merupakan salah satu pedoman pendukung terkuat Trump. Lebih dari 80% dari golongan ini memilihnya pada pemilu 2024.

Realitas politik tersebut dinilai menjadi argumen Trump dan personil kabinetnya semakin menggunakan kerangka religius dalam konflik.

"Lihat posisi Trump dalam jajak pendapat dan sadari bahwa dia hanya mempunyai sedikit lebih dari sepertiga publik di pihaknya. Sebagian besar konstituen itu terdiri dari Kristen evangelikal kulit putih," kata Jim Guth, guru besar pengetahuan politik di Furman University nan meneliti hubungan kepercayaan dan politik di AS.

Gedung Putih tidak menanggapi pertanyaan mengenai penggunaan retorika Kristen oleh Trump. Namun ahli bicara Taylor Rogers mengatakan dalam pernyataan bahwa presiden telah mengambil langkah tegas "untuk menghilangkan ancaman dari rezim teroris ini, nan bakal melindungi rakyat Amerika untuk generasi mendatang."

Para mahir mencatat bahwa presiden AS sebelumnya juga pernah menggunakan bahasa religius saat perang. Namun penggunaan bahasa nan tegas dan definitif untuk membenarkan kekerasan dalam istilah religius oleh pemerintahan Trump dianggap berbeda.

"Ini adalah bahasa nan sama dengan perang salib di Abad Pertengahan. Anda tahu, kita kudu menghentikan orang kafir, kita kudu mengalahkan nan jahat," kata John Fea, guru besar sejarah di Messiah University. "Kami belum pernah memandang perihal seperti ini dalam sejarah Amerika."

Pesan religius tersebut juga menuai kritik dari sebagian Demokrat dan pemimpin Kristen progresif nan menilai penggunaan kepercayaan untuk membenarkan perang lima minggu nan tidak terkenal sebagai langkah keliru. Adapun perang tersebut telah menewaskan 13 personel militer AS dan ribuan penduduk Iran.

Sementara itu, berbincang di Lapangan Santo Petrus pada Minggu Palma, nan membuka Pekan Suci bagi sekitar 1,4 miliar umat Katolik, Pope Leo menyebut bentrok itu "mengerikan" dan mengatakan nama Yesus tidak boleh digunakan untuk menyebarkan perang.

Pendeta evangelikal progresif Doug Pagitt menilai pemerintah menggunakan "narasi Kristen nan sangat spesifik" untuk menjaga support evangelikal dan mempertahankan koalisi "Make America Great Again" (MAGA).

"Apa nan mereka katakan adalah Trump berada di pihak Tuhan. Anda bisa tidur nyenyak," katanya. "Karena tanpa koalisi Kristen, pedoman support MAGA bakal sangat terpecah."

Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos nan dirilis pekan lalu, 60% responden menolak serangan militer AS terhadap Iran. Survei tersebut menunjukkan perpecahan tajam, dengan 74% pemilih Partai Republik mendukung perang, sementara hanya 22% pemilih Demokrat nan setuju.

Tokoh evangelikal terkemuka Franklin Graham memuji serangan terhadap Iran dengan istilah alkitabiah dan menyamakan Trump dengan tokoh Alkitab Ester, ratu Yahudi nan diyakini diangkat Tuhan untuk menyelamatkan rakyatnya dari kehancuran di Persia kuno, wilayah nan sekarang menjadi Iran.

Pesan serupa disampaikan Ken Peters, pemimpin Patriot Church di Tennessee, kepada jemaatnya. Ia berambisi perang bakal menghasilkan "Iran nan pro-Israel dan pro-Amerika", pernyataan nan disambut tepuk tangan menurut rekaman video.

"Kami memandang Trump sebagai seorang dari bumi ini nan digunakan Tuhan untuk membantu kami," katanya, seraya menyatakan support terhadap penggunaan kerangka religius dalam perang.

Hegseth juga menggunakan bahasa religius secara terang-terangan. Ia menyamakan pengamanan penerbang AS di Iran dengan kebangkitan Yesus pada Minggu Paskah.

"Seorang pilot dilahirkan kembali, semuanya pulang dan lengkap, sebuah bangsa bersukacita," katanya. "Tuhan itu baik."

Juru bicara Pentagon Kingsley Wilson mengatakan para pemimpin masa perang telah lama menggunakan ketaatan Kristen, mencontohkan Presiden AS Franklin D. Roosevelt nan membagikan Alkitab kepada pasukan selama Perang Dunia II.
"Sekretaris Hegseth, berbareng jutaan penduduk Amerika, adalah seorang Kristen nan bangga. Mendorong rakyat Amerika untuk bermohon bagi pasukan kami bukanlah sesuatu nan kontroversial."

Retorika serupa juga muncul dalam aktivitas Paskah di Gedung Putih pekan lalu. Televangelis Paula White-Cain, penasihat senior Kantor Iman Gedung Putih, menyamakan Trump dengan Yesus dengan mengatakan keduanya "dikhianati dan ditangkap serta dituduh secara salah".

Sementara itu, Jeffress, pendeta First Baptist Church di Texas, mengatakan dia tidak memandang perang Iran sebagai bentrok melawan Islam alias umat Muslim, tetapi "perang spiritual antara baik dan jahat, antara kerajaan Tuhan dan kerajaan Setan."

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News