Jakarta, CNBC Indonesia - Piala Dunia FIFA 2026 selama ini dipromosikan sebagai mesin penggerak ekonomi bagi kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat (AS). Turnamen sepak bola terbesar di bumi itu diharapkan mendatangkan jutaan wisatawan, meningkatkan okupansi hotel, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong miliaran dolar shopping konsumen.
Namun, menjelang bergulirnya pertandingan, sejumlah parameter justru memunculkan keraguan terhadap besarnya akibat ekonomi nan dijanjikan. Tingginya nilai tiket, lemahnya pemesanan hotel, serta ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dinilai dapat membatasi jumlah visitor nan datang ke AS.
"Minat untuk berjalan dan bayar nilai tiket nan tinggi semakin berkurang. Saya pikir ada juga beberapa rumor geopolitik nan tentu saja membikin orang lebih waspada untuk berjalan ke AS dan menghabiskan duit di AS," kata Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University, Mike Edwards, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (9/6/2026).
Kekhawatiran juga datang dari visitor internasional. Kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump disebut menjadi salah satu aspek nan mengurangi minat berkunjung. Pada April lalu, sejumlah organisasi termasuk American Civil Liberties Union (ACLU) apalagi mengeluarkan peringatan bagi penduduk asing nan hendak berjalan ke AS untuk menyaksikan Piala Dunia.
Selain itu, kebingungan mengenai patokan visa dan laporan keterlambatan proses publikasi visa turut menimbulkan ketidakpastian bagi para fans sepak bola dari luar negeri. Situasi ini berpotensi mengurangi jumlah visitor internasional nan biasanya menjadi penyumbang shopping terbesar selama arena olahraga dunia berlangsung.
Di sisi domestik, masyarakat AS juga menghadapi tekanan ekonomi. Harga bensin tercatat mencapai US$4,16 (sekitar Rp75.275) per galon, naik dari US$2,98 (Rp53.923) per galon pada akhir Februari. Kenaikan biaya hidup dan pasar tenaga kerja nan melambat membikin masyarakat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan duit untuk perjalanan dan hiburan.
Dampaknya mulai terlihat pada sektor perhotelan. Berdasarkan survei American Hotel and Lodging Association, sekitar 80% hotel melaporkan tingkat pemesanan nan tetap di bawah ekspektasi hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai. Sebanyak 70% responden menyebut halangan visa dan gejolak geopolitik sebagai penyebab utama lemahnya permintaan.
Di New York City nan bakal menjadi letak partai final, pemesanan hotel baru mencapai sekitar 65% dari sasaran nan diharapkan. Sementara di Seattle, sekitar 80% hotel tercatat tetap tertinggal dibandingkan tingkat pemesanan musim panas normal. Kondisi serupa juga terjadi di Vancouver, Kanada, nan turut menjadi salah satu kota penyelenggara.
Meski demikian, sebagian pelaku industri tetap optimistis. CEO Airbnb Brian Chesky mengatakan perusahaan memperkirakan jumlah pemesanan selama Piala Dunia bakal menjadi nan terbesar sepanjang nyaris 18 tahun sejarah Airbnb.
Optimisme tersebut terlihat dari tingginya nilai akomodasi di sejumlah kota tuan rumah. Di sekitar stadion Dallas, tarif penginapan untuk dua malam menjelang pertandingan 14 Juni mencapai nyaris US$700 (Rp12,67 juta). Di Philadelphia, nilai terendah untuk dua malam mendekati US$300 (Rp5,43 juta).
Sementara itu, menjelang laga final 19 Juli di area Stadion MetLife, New Jersey, sejumlah akomodasi Airbnb dipasarkan dengan nilai lebih dari US$5.600 (Rp101,33 juta) untuk masa menginap tertentu.
Permintaan perjalanan udara juga menunjukkan tren positif. Data perusahaan analitik perjalanan Sojern mencatat pemesanan penerbangan ke Houston melonjak 38% dibandingkan periode nan sama tahun lalu, sedangkan Dallas naik 42%. Namun, sekitar 70% pemesanan tersebut berasal dari visitor domestik, sementara kontribusi visitor internasional tetap relatif rendah.
Menurut United States Travel Association, visitor asing sebenarnya mempunyai nilai ekonomi lebih besar lantaran rata-rata menghabiskan lebih dari US$5.000 (Rp90,48 juta) per orang selama berkunjung. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengeluaran visitor domestik.
Di sisi lain, tingginya nilai tiket pertandingan juga menjadi sorotan. Harga tiket kategori tribun atas untuk laga awal di Dallas dilaporkan berada di atas US$800 (Rp14,48 juta) per lembar. Untuk partai final, tiket di pasar sekunder dijual mulai US$9.200 (Rp166,47 juta) hingga mencapai US$43.553 (Rp787,84 juta) per tiket.
FIFA memihak strategi penetapan nilai bergerak nan membikin nilai tiket naik mengikuti permintaan pasar. Namun, kebijakan tersebut menuai kritik dari golongan suporter nan menilai turnamen semakin susah diakses oleh fans biasa.
Di tengah mahalnya tiket dan ketidakpastian jumlah visitor asing, sejumlah analis menilai akibat ekonomi Piala Dunia 2026 kemungkinan tidak bakal sebesar proyeksi awal nan selama ini dijanjikan kepada kota-kota tuan rumah.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·