Pelatih tim nasional Austria Ralf Rangnick menegaskan skuadnya hanya konsentrasi memenangi laga pamungkas Grup J melawan Aljazair.(Dok. Antara)
PELATIH tim nasional Austria Ralf Rangnick menegaskan skuadnya hanya konsentrasi memenangi laga pamungkas Grup J melawan Aljazair pada Minggu (28/6) di Kansas City Stadium, daripada berbilang menghindari juara Eropa, Spanyol, di babak 32 besar.
Laga penentu nan digelar di Kansas City tersebut dipastikan melangkah setara lantaran kedua tim sama-sama mengincar kemenangan demi mengamankan tiket kelolosan.
Pertandingan ini memicu spekulasi strategi lantaran tim nan finis sebagai runner-up Grup J kemungkinan besar langsung menantang Spanyol di fase gugur.
Sebaliknya, tim ranking ketiga diproyeksikan menghadapi musuh nan di atas kertas lebih ringan. Namun, Rangnick langsung membantah keras dugaan bahwa timnya sengaja mengincar kekalahan.
"Tidak, pasti tidak. Pertanyaan berikutnya," jawab Rangnick dikutip dari New Straits Times, Sabtu (27/6).
Sikap serupa ditunjukkan oleh arsitek Aljazair Vladimir Petkovic. Saat ini, Argentina telah mengunci posisi juara grup, sementara Austria dan Aljazair sama-sama mengoleksi tiga poin, di mana hasil seri sudah cukup membawa Austria finis di posisi kedua berkah kelebihan selisih gol.
"Ini tidak ada," kata Petkovic mengenai pendapat untuk menghindari musuh knockout nan lebih tangguh.
"Kami bakal memandang apa nan terjadi setelah pertandingan. Namun kami kudu melakukan nan terbaik untuk mempromosikan ambisi kami dan mencoba memenangi pertandingan," imbuhnya.
Gelandang Austria Konrad Laimer turut mempertegas komitmen timnya nan tidak peduli dengan kalkulasi skema turnamen di fase berikutnya. Penggawa Bayern Muenchen tersebut menyatakan konsentrasi utama tim hanyalah memenangi laga.
"Saya tidak peduli, sejujurnya. Kami keluar, kami mau memenangi pertandingan. Kami mau lolos dari fase grup, dan kemudian kami tidak tahu apakah itu Spanyol alias bukan," cetus Laimer.
Laga ini juga sempat dikaitkan dengan memori kelam Piala Dunia 1982 di Gijon, saat Austria dan Jerman Barat dituduh "main mata" untuk menyingkirkan Aljazair. Kendati demikian, Rangnick langsung menepis komparasi tersebut lantaran rentang waktu nan sudah terlampau jauh.
"Ketika pertandingan itu berlangsung, tidak ada satu pun dari... tim saya nan sudah lahir, dan saya berumur 24 tahun saat itu. Ini menunjukkan kepada Anda sungguh lamanya perihal itu terjadi, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertandingan besok," pungkas Rangnick. (New Straits Times/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·