PHK Tembus 43 Ribu Orang, Apindo Minta Penyelesaian Masalah di Hulu Industri

Sedang Trending 42 menit yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Jum'at, 21 Agustus 2026 |17:17 WIB

PHK Tembus 43 Ribu Orang, Apindo Minta Penyelesaian Masalah di Hulu Industri

Apindo soal PHK (Foto: Okezone)

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) belakangan ini merupakan akibat di hilir akibat belum tuntasnya beragam persoalan mendasar di sektor hulu industri.

Dunia upaya meminta pemerintah dan pemangku kepentingan tidak hanya berfokus pada statistik nomor korban efisiensi, melainkan segera menghadirkan solusi konkret untuk menyelamatkan kelangsungan bumi usaha.

Ketua Apindo Shinta Kamdani menegaskan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak boleh disikapi secara parsial hanya dengan memandang info penutupan pabrik. Langkah pengamanan sektor riil kudu difokuskan pada penuntasan halangan struktural (debottlenecking) agar pelaku upaya tidak terpaksa mengambil kebijakan rasionalisasi tenaga kerja.

"Saya sudah sampaikan berkali-kali, jadi PHK itu hanya di hilirnya, isunya itu banyak di hulunya lantaran banyak PHK terjadi akibat persoalan hulu tidak bisa diselesaikan. Kami tidak mau hanya memandang angka, melainkan gimana solusinya agar PHK tidak terjadi, dan bagi pengusaha PHK selalu menjadi opsi terakhir," ujar Shinta saat ditemui di instansi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Berdasarkan info Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja nan terimbas PHK sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat mencapai 43.805 orang. Gelombang efisiensi tersebut sebagian besar menghantam area industri manufaktur di Pulau Jawa, terutama sektor-sektor nan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Shinta menyoroti kerentanan nan terus membayangi sektor manufaktur padat karya akibat akumulasi beban operasional dan keterbatasan rantai pasok. Persoalan pasokan bahan mentah hingga tingginya biaya daya menjadi aspek penentu nan menekan keahlian industri nasional.

"Kebanyakan nan terdampak berasosiasi dengan industri padat karya, seperti tekstil dan garmen nan dari dulu tetap menjadi isu. Sektor padat karya sangat berjuntai pada kesiapan bahan baku dan pasokan gas industri nan berbiaya besar, sehingga bakal sangat berakibat jika ini tidak diselesaikan," jelas Shinta.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com