PGN Perluas Layanan CNG di Yogyakarta dan Sekitarnya Melalui Dua Skema

Sedang Trending 9 menit yang lalu
PGN perluas akses gas bumi untuk pengguna komersial di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan melalui jasa Compressed Natural Gas (CNG) nan tidak terjangkau pipa menggunakan skema klastering dan point-to-point. Foto: Dok. Pertamina

Keterbatasan jaringan pipa tidak lagi menjadi penghalang bagi pelaku upaya untuk memanfaatkan gas bumi. Melalui jasa Compressed Natural Gas (CNG), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) memperluas akses gas bumi bagi pengguna komersial di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan.

Berbeda dengan penyaluran melalui jaringan pipa, CNG memungkinkan gas bumi dikompresi, diangkut, dan disalurkan ke pengguna menggunakan moda non-pipa. Skema ini memberikan elastisitas bagi PGN Gagas untuk menjangkau pengguna nan lokasinya belum terhubung dengan jaringan pipa gas bumi.

Di Yogyakarta, pemanfaatan CNG terus berkembang, terutama untuk mendukung kebutuhan daya sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Saat ini, volume penyaluran CNG PGN Gagas untuk skema point-to-point di Jawa Tengah Bagian Selatan telah mencapai sekitar 74.000 meter kubik per bulan.

“PGN Gagas mengembangkan CNG Jawa Tengah Bagian Selatan, termasuk Yogyakarta, menggunakan skema klastering dan point-to-point. Kami menargetkan klastering pada sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), sehingga pengiriman CNG dapat dilakukan kepada sejumlah pengguna dalam satu area dan lebih efisien,” jelas Direktur Utama PGN, Gagas Santiaji Gunawan.

Melalui skema point-to-point, CNG dapat disalurkan langsung dari sumber alias akomodasi pengisian menuju pengguna sesuai kebutuhan. Sementara melalui skema klastering, beberapa pengguna nan berada dalam satu area dapat dilayani secara lebih terintegrasi. Model tersebut menjadi salah satu pendekatan PGN Gagas untuk memperluas pemanfaatan gas bumi tanpa kudu menunggu pembangunan jaringan pipa.

Pengembangan CNG juga memberikan elastisitas bagi pelaku upaya dalam memilih sumber daya sesuai kebutuhan operasional. Bagi sektor Horeka nan memerlukan daya secara konsisten setiap hari, kesiapan pasokan dan efisiensi menjadi pertimbangan krusial dalam menentukan pilihan bahan bakar.

Selain sektor komersial, pemanfaatan CNG mulai merambah kebutuhan pelayanan publik. Di Magelang, Jawa Tengah, CNG telah digunakan untuk mendukung operasional salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

CNG digunakan untuk mendukung proses memasak sekitar 1.500–2.000 porsi MBG per hari. Pemanfaatan tersebut menunjukkan elastisitas CNG untuk mendukung beragam kebutuhan energi, termasuk akomodasi nan memerlukan pasokan bahan bakar secara rutin untuk aktivitas operasionalnya.

Menurut Santiaji, pengembangan CNG di Jawa Tengah Bagian Selatan mempunyai prospek nan semakin terbuka seiring dengan pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.

“Pertumbuhan jasa CNG di Jawa Tengah Bagian Selatan mempunyai prospek nan menarik seiring dengan berkembangnya sektor pariwisata seperti perhotelan, kuliner, jasa, dan UMKM. Kehadiran jasa CNG diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan daya sekaligus mendukung produktivitas masyarakat,” ujar Santiaji.

Petugas PGN saat instalasi CNG untuk pengguna komersial di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan dengan skema point-to-point. Foto: Dok. Pertamina

PGN Gagas bakal terus mengembangkan pemanfaatan CNG dengan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan, keekonomian, serta potensi pertumbuhan pasar di masing-masing wilayah. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya PGN menghadirkan solusi gas bumi nan lebih elastis sekaligus memperluas pemanfaatan daya gas bumi di beragam sektor.

Dengan model clustering dan point-to-point, CNG menjadi salah satu solusi PGN untuk menghadirkan gas bumi secara lebih elastis di wilayah nan belum terjangkau jaringan pipa, sekaligus membuka kesempatan pemanfaatan gas bumi bagi semakin banyak pelaku upaya dan aktivitas produktif masyarakat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan