Jakarta -
Peternak ayam pedaging alias ayam broiler mengaku rugi hingga ratusan juta akibat nilai ayam di kandang terjun bebas. Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengatakan saat ini nilai belum berangsur naik, tetap di sekitar Rp 15.500-16.000/kilogram (kg).
Padahal berasas patokan Badan Pangan Nasional, Harga Acuan Pembelian Ayam di produsen alias peternak Rp 25.000/kg. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 5 Tahun 2022 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen Komoditas Jagung, Telur Ayam Ras, dan Daging Ayam Ras.
"Harga tetap ke tahan Rp 15.500-16.000/kg. Belum bisa naik lagi. (Kerugian) ratusan juta jika nan punya populasi besar. Tapi jika populasi mini tetap puluhaan lantaran per kg-nya tetap rugi Rp 4.000," kata Peternak dari Persatuan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Asep Saepudin, saat dihubungi, Sabtu (13/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerugian dialami lantaran nilai pokok produksi telah mengalami kenaikan siginifikan. Sepanjang tahun 2026 terjadi kenaikan nilai pakan pada kisaran Rp 8.800-Rp 9.400/kg.
Dalam keterangan terpisah, Ketua Umum Permindo Kusnan mengatakan nilai day old chick (DOC) alias anak ayam di final stock tetap berada pada kisaran Rp 5.000-Rp6.000 per ekor, sehingga semakin meningkatkan biaya produksi peternak.
"Akibat kenaikan beragam komponen biaya tersebut, Harga Pokok Produksi (HPP) broiler saat ini diperkirakan telah mencapai Rp 21.000-Rp 22.000/kg live bird. Artinya, peternak rakyat saat ini menanggung kerugian sekitar Rp 5.000-Rp 7.000/kg live bird alias sekitar Rp10.000-Rp 14.000 per ekor ayam panen berbobot 2 kilogram," terang dia.
Untuk memperbaiki nilai ayam di kandang, peternak meminta 7 perihal kepada pemerintah. Pertama, memperluas akses produk unggas di ritel modern nasional, dengan memastikan kesiapan ayam karkas segar, ayam beku, dan telur di seluruh jaringan ritel modern seperti minimarket, supermarket, hypermarket, dan gerai pangan modern lainnya.
Kedua, membangun program penyerapan ayam dan telur secara berkepanjangan melalui Bulog alias BUMN Pangan sebagai instrumen stabilisasi pasar. Sebagaimana pemerintah melakukan penyerapan gabah dan beras untuk menjaga kesejahteraan petani, sistem serupa dinilai perlu diterapkan untuk protein hewani rakyat ketika terjadi kelebihan pasokan dan nilai jatuh di tingkat peternak.
Ketiga, mengintegrasikan produk unggas ke dalam beragam program pemerintah, antara lain Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program penanganan stunting, support sosial pangan, persediaan pangan pemerintah, serta kebutuhan pesantren, sekolah, rumah sakit, asrama, TNI, Polri, dan lembaga negara lainnya.
Keempat, memperkuat pengedaran antarwilayah dan antarpulau melalui support logistik nasional, pengembangan rantai dingin (cold chain), penambahan cold storage regional, serta penguatan pengedaran antarpulau. Dengan pengedaran nan lebih merata, disparitas nilai antarwilayah dapat ditekan sekaligus meningkatkan serapan hasil produksi peternak.
Kelima, menyusun peta produksi dan kebutuhan unggas nasional nan lebih jeli sebagai dasar pengembangan investasi peternakan. Menurut peternak, saat ini sekitar 70% populasi ayam pedaging dan ayam petelur nasional tetap terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga kerap memicu tekanan nilai akibat kelebihan pasokan.
"Ke depan, investasi peternakan baru diharapkan diarahkan ke wilayah-wilayah potensial di luar Jawa nan tetap mempunyai ruang pertumbuhan konsumsi dan kebutuhan protein hewani nan tinggi," lanjutnya.
Keenam, membentuk Cadangan Protein Hewani Nasional berbasis ayam dan telur, sebagaimana pemerintah mempunyai Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Peternak menyebut saat ini terjadi surplus produksi dilakukan penyerapan, sedangkan ketika terjadi kekurangan pasokan alias kondisi darurat pangan, stok tersebut dapat didistribusikan kepada masyarakat.
Ketujuh, menjalankan program nasional "Ayam Rakyat Lawan Stunting". Peternak mengaku siap mendukung penyaluran ayam rakyat kepada family berisiko stunting, ibu hamil, dan golongan rentan gizi.
(ada/ara)
11 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·