Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena cuaca El Nino bakal semakin meningkat pada tahun 2027 dan bisa menjadi nan terkuat nan pernah ada. Bahkan, perihal ini bakal meningkatkan akibat cuaca ekstrem hingga tahun depan.
"Jika tren ini terus berlanjut, maka perihal ini mungkin bakal menjadi lebih kuat dari apa pun sejak pemantauan kami dimulai," kata Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia, WMO, Celeste Saulo pada konvensi pers di Jenewa, Kamis (3/9/2026).
"Benar-benar di luar diagram nan telah kami gunakan selama empat dasawarsa terakhir," tambahnya dimuat Reuters.
Badan cuaca PBB itu mengatakan dalam perkiraannya, nyaris 100% El Nino bakal bersambung hingga Februari 2027. Suhu Samudra Pasifik nan sangat hangat menjadi penyebab.
Saulo mengatakan WMO meningkatkan upaya kesiap-siagaan dan peringatan awal sebagai persiapan.
"WMO berkomitmen untuk bekerja sama dengan mitra-mitra di PBB dan sistem kemanusiaan untuk memberikan intelijen suasana dan wawasan nan diperlukan untuk mendukung manajemen musibah dan sektor-sektor sensitif terhadap suasana seperti pertanian, kesehatan, daya dan sumber daya air," katanya.
Perlu diketahui, El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut secara berkala di Pasifik bagian timur nan disebabkan oleh melemahnya angin pasat. Hal ini terjadi secara alami setiap dua hingga tujuh tahun dan condong berjalan hingga 12 bulan, menyebabkan hujan lebat dan kekeringan di seluruh Amerika Latin.
Fenomena tahun ini telah berakibat pada komoditas lunak di wilayah tropis, menyebabkan krisis pangan nan parah di Koridor Kering Amerika Tengah. Hal ini diperkirakan bakal mencapai puncaknya menjelang akhir tahun ini.
El Nino nan sangat kuat dapat secara signifikan mengubah pola curah hujan dan suhu di seluruh dunia. Hal itu dapat memicu cuaca ekstrem, seperti topan.
"El Nino menjadi sangat besar di depan mata kita. Ilmu pengetahuan tidak diragukan lagi: Planet ini berada di perairan nan belum dipetakan, dan perairan tersebut sedang memanas," tambah Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
(sef/luc)
[Gambas:Video CNBC]
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·