Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Industri Mineral (BIM) membeberkan peta sebaran produksi dan persediaan logam tanah jarang (LTJ) global. Saat ini, China, Vietnam, hingga Rusia tercatat sebagai negara dengan persediaan LTJ terbanyak di dunia.
Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi menjelaskan bahwa peta sebaran tersebut mencakup info sumber daya (resources), persediaan (reserve), hingga nomor produksi di tingkat internasional.
Namun, Yogi menyampaikan bahwa Indonesia belum masuk ke dalam peta sebaran tersebut. Hal ini dikarenakan proses pemetaan serta pengesahan info di lapangan tetap terus diselesaikan.
"Nah, jika kita lihat dari peta sebaran produksi dan persediaan logam tanah jarang di mancanegara, maka sejumlah negara memang telah memberikan pernyataan, baik nan berkarakter resources, nan bersifat reserve, dan juga produksinya. Nah, ini memang menjadi salah satu informasi, statement, nan bisa memberikan satu posisi tawar nan sangat kuat ya bagi masing-masing negara," katanya dalam aktivitas nan digelar Perhimpuan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), di JIExpo, dikutip Senin (14/9/2026).
Berdasarkan catatannya, dari info USGS 2023 nan dikutip pihaknya, saat ini negara dengan sumber persediaan LTJ terbanyak ialah China dengan total persediaan mencapai 44 juta ton dan produksi hingga 210 ribu ton.
Negara kedua dengan persediaan LTJ terbanyak ialah Vietnam dengan persediaan sebanyak 22 juta ton dengan produksi 4,2 ribu ton. Diikuti dengan Rusia dan Brazil dengan persediaan hingga 21 ton dan masing-masing produksinya mencapai 2,6 ribu ton dan 80 ton.
Berikut daftar negara dengan persediaan LTJ terbanyak di dunia:
China - persediaan 44 juta ton; produksi 210 ribu ton
Vietnam - persediaan 22 juta ton; produksi 4,2 ribu ton
Rusia - persediaan 21 juta ton; produksi 2,6 ribu ton
Brasil - persediaan 21 juta ton; produksi 80 ton
India - persediaan 6,9 juta ton; produksi 2,9 ribu ton
Australia - persediaan 4,2 juta ton; produksi 18 ribu ton
Amerika Serikat - persediaan 2,3 juta ton; produksi 43 ribu ton
Greenland - persediaan 1,5 juta ton
Tanzania - persediaan 890 ribu ton
Kanada - persediaan 830 ribu ton
Afrika Selatan - persediaan 790 ribu ton
Indonesia sendiri belum mencantumkan posisinya dalam peta tersebut bukan lantaran tidak mempunyai potensi, melainkan tetap menunggu penyelesaian aktivitas survei, eksplorasi, serta kesiapan sumber daya manusia (SDM).
"Di dalam peta ini memang jika kita lihat Indonesia belum dimunculkan, ya. Bukan berfaedah tidak ada, memang kita sedang memastikan, sedang menunggu beberapa aktivitas survei, eksplorasi, kemudian juga kita perlu untuk menyiapkan competent person, sehingga kelak pada waktunya diharapkan kita bisa segera memberikan pernyataan," tandasnya.
(ven/wia)
[Gambas:Video CNBC]
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·