Ilustrasi(Dok Istimewa)
Momen Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi panggung bagi ZARFIX, perusahaan teknologi lokal nan mengenalkan ekosistem upaya berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan blockchain.
Di kembali pengembangan platform tersebut, terdapat sosok Muhammad Ayyash Nahdi, Founder & Visionary Chairman ZARFIX, nan mengusung pendapat bahwa pertumbuhan ekonomi digital nasional kudu dibarengi dengan keahlian bangsa menciptakan teknologi mandiri.
Ayyash menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus memposisikan diri hanya sebagai pasar konsumen bagi produk teknologi asing, melainkan kudu berani menjadi pembuat (builder) penemuan digital.
"Indonesia mempunyai pasar, talenta, dan kebutuhan nan sangat besar. Tetapi kita tidak boleh berakhir hanya sebagai pengguna teknologi nan dibuat negara lain. Kita kudu punya keberanian untuk menciptakan teknologi sendiri dan membangun ekosistem nan bisa tumbuh dari Indonesia untuk dunia," ujar Ayyash, Kamis (3/9/2026).
Platform ZARFIX dikembangkan untuk mengintegrasikan marketplace, AI engine, serta sistem pendukung upaya lainnya. Pemanfaatan AI difokuskan pada otomatisasi dan pengambilan keputusan berbasis data, sementara teknologi blockchain digunakan untuk menjamin kejelasan transparansi dan keterlacakan (traceability) transaksi bisnis, khususnya bagi pelaku UMKM hingga perusahaan berskala besar.
Co-Founder & Researcher of Technology/Business Strategy ZARFIX, Ahmad Abdul Ghofar, menambahkan bahwa penerapan kedua teknologi tersebut dirancang untuk menyelesaikan masalah operasional harian para pelaku usaha.
"AI dan blockchain bagi kami bukan sekadar tren. Teknologi kudu mempunyai kegunaan nan jelas dalam menyelesaikan persoalan bisnis. Karena itu, ZARFIX dikembangkan agar AI dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, sementara blockchain memperkuat transparansi dan kepercayaan dalam ekosistem," tutur Ahmad.
Ayyash menilai kedaulatan digital Indonesia ditentukan oleh kepemilikan kewenangan kekayaan intelektual (intellectual property) dan keberadaan builder lokal. Visi ini didukung oleh rekam jejak internasionalnya sewaktu menempuh pendidikan di Istanbul, Turki, serta keberhasilan membawa ZARFIX dalam arena Take Off Istanbul 2025 untuk berjumpa dengan para penanammodal global.
Ke depan, ZARFIX menargetkan pengembangan sistem pembayaran terintegrasi, ekspansi jaringan kemitraan, hingga ekspansi jasa menuju pasar regional dan internasional.
"Kalau kita mau mempunyai kedaulatan digital, Indonesia kudu punya lebih banyak builder. Saya mau generasi muda Indonesia memandang bahwa kita juga bisa menjadi pembuat teknologi. Bukan hanya menggunakan produk dunia, tetapi suatu hari bumi juga menggunakan teknologi nan lahir dari Indonesia," pungkas Ayyash. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·