Perundingan di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, Iran Ogah Ikuti AS

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS) tetap berjalan lantaran kandas mencapai kesepakatan dalam perundingan di Pakistan. Kegagalan tersebut lantaran Iran menduga AS mencari-cari argumen untuk meninggalkan perundingan.

Melansir Al-Jazeera nan mengutip instansi buletin Iran mengatakan, kesepakatan berjuntai pada perubahan tuntutan AS nan dianggap Iran tidak masuk akal. Padahal, mengenai area Selat Hormuz merupakan salah satu dari beberapa rumor kontroversial nan perlu diselesaikan.

Namun, kedua negara tersebut hingga saat ini sedang berupaya menemukan titik temu. Mediator Pakistan sedang berupaya untuk menyelesaikan perbedaan dan mendekatkan pendapat.

Kedua dari negara tersebut nan melakukan negosiasi telah mundur untuk berkonsultasi dengan tim mahir masing-masing mengenai teks nan diusulkan. Selanjutnya pembahasan bakal dilanjutkan setelah draf tersebut siap.

Sementara sumber lain nan dekat dengan delegasi Iran menyebut AS menuntut hal-hal nan mustahil dilakukan dari perang selama pembicaraan di Islamabad. Artinya, Iran tidak menerima syarat-syarat ambisius Amerika mengenai Selat Hormuz, daya nuklir damai, dan sejumlah rumor lainnya.

Wapres AS JD Vance Katakan Ini

Presiden AS JD Vance mengatakan Washington telah mengusulkan penawaran final dan terbaik. Vance mengisyaratkan bahwa pihaknya tetap memberi waktu kepada Iran untuk mempertimbangkan tawaran dari Amerika Serikat.

Sebelumnya, Washington mengatakan bakal menunda serangan berbareng Israel selama dua minggu sembari menunggu hasil negosiasi.

"Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal nan sangat sederhana, sebuah metode pemahaman nan merupakan penawaran final dan terbaik kami. Kita bakal lihat apakah pihak Iran menerimanya," kata Vance kepada wartawan setelah 21 jam perundingan di Islamabad, dikutip dari AFP, Minggu (12/4/2026).

Vance mengatakan bahwa sengketa utama dalam pembicaraan itu mengenai senjata nuklir. Iran bersikeras tidak sedang membikin peledak atom.

"Fakta sederhananya, kami perlu memandang komitmen tegas bahwa mereka tidak bakal mencari senjata nuklir dan tidak bakal mencari perangkat nan memungkinkan mereka sigap mencapainya," ujarnya.

Namun hingga pembicaraan berakhir, AS mengaku belum memandang komitmen tersebut dari Iran.

"Kami belum memandang itu. Kami berambisi kami bakal melihatnya," kata Vance.

Sebelumnya, Amerika Serikat menyatakan bakal menunda serangan berbareng Israel selama dua minggu untuk memberi ruang negosiasi. Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya diplomatik terakhir sebelum keputusan lanjutan diambil.

Selain rumor nuklir, pembicaraan juga berjalan di tengah ketegangan mengenai Selat Hormuz, jalur vital nan dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun Vance tidak merinci adanya perbedaan signifikan mengenai rumor tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa Presiden Donald Trump, telah bersikap akomodatif dalam perundingan tersebut.

"Saya pikir kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, kalian kudu datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan," ucap Vance.

"Kami telah melakukannya dan, sayangnya, kami tidak bisa membikin kemajuan." imbuhnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News