Perundingan AS-Iran Buntu Terus, Ternyata Kuncinya Dipegang China

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - China kian menegaskan perannya sebagai tokoh krusial dalam upaya meredakan bentrok antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata nan tetap rentan dan penuh ketidakpastian.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengungkap adanya peran Beijing di kembali tercapainya gencatan senjata sementara antara Washington dan Teheran. Bahkan, China disebut ikut mendorong Iran agar bersedia masuk ke meja perundingan.

Seiring berjalannya waktu, peran tersebut makin terbuka. Pemerintah China secara aktif menyerukan penghentian bentrok dan menekankan pentingnya menjaga momentum gencatan senjata nan sudah tercapai. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah mencegah bentrok kembali pecah dan menjaga stabilitas kawasan.

Beijing juga menunjukkan support terhadap jalur diplomasi setelah AS memperpanjang masa gencatan senjata guna memberi waktu bagi Iran menyusun proposal bersama.

"Situasi saat ini berada pada tahap krusial. Prioritas mendesak adalah mencegah bentrok kembali terjadi," kata ahli bicara Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip Newsweek, Kamis (23/4/2026).

Di sisi lain, kepentingan ekonomi menjadi aspek kuat di kembali manuver China. Negeri Tirai Bambu mempunyai ketergantungan besar terhadap pasokan daya dari area Teluk, termasuk Iran. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi menekan pasokan daya dunia dan berakibat langsung pada ekonomi China.

Bahkan, ketegangan terbaru menunjukkan akibat tersebut semakin nyata. Iran menegaskan pembukaan Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan selama bentrok dan blokade tetap berlangsung, memperburuk gangguan terhadap perdagangan global.

Selain kepentingan energi, China juga mempunyai hubungan strategis dengan Iran, termasuk dalam sektor ekonomi dan politik. Hubungan ini memberi Beijing posisi unik sebagai salah satu pihak nan tetap mempunyai akses komunikasi kuat dengan Teheran, sekaligus tetap menjaga hubungan dengan Washington.

Analis China dari Planet Nine, Tuvia Gering, menilai kedekatan Beijing dengan struktur kekuasaan Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menjadi untung tersendiri.

"Dengan tokoh-tokoh nan dekat dengan IRGC, China kemungkinan memandang organisasi tersebut tetap menjadi kekuatan dominan dalam politik Iran," ujarnya.

Ia menambahkan, hubungan ekonomi melalui pembelian minyak membikin China secara tidak langsung menopang struktur kekuatan di Iran. "Ini menjadi untung bagi Beijing lantaran hubungan tersebut sudah terinstitusionalisasi," katanya.

Presiden China Xi Jinping pun mulai mengirim sinyal lebih tegas dengan mendorong stabilitas area dan menyerukan pembukaan kembali jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz.

Sementara itu, ahli bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menegaskan negaranya bakal terus mengambil peran aktif dalam meredakan konflik.

"China telah memegang posisi objektif dan setara serta berupaya membantu mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri konflik," ujarnya. "Untuk menyelesaikan masalah, bentrok kudu dihentikan sesegera mungkin dan semua pihak perlu menahan diri."

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News