Perubahan Iklim Picu Ular Masuk Pemukiman, Pakar IPB University Ingatkan Mitigasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Perubahan Iklim Picu Ular Masuk Pemukiman, Pakar IPB University Ingatkan Mitigasi Puluhan ekor ular menyerbu perkampungan rumah warga, di Kelurahan 13 Ulu Kecamatan Seberang Ulu II Palembang,(MI/Dwi Apriani)

MASUKNYA ular ke area pemukiman penduduk sekarang bukan lagi sekadar gangguan musiman. Pakar ekologi satwa liar dari IPB University, Prof Mirza Dikari Kusrini, memperingatkan bahwa perubahan iklim dan masifnya alih kegunaan lahan menjadi pemicu utama meningkatnya gelombang pertemuan antara manusia dan ular.

Sebagai hewan ektotermik, ular sangat berjuntai pada suhu lingkungan untuk mengatur metabolisme tubuhnya. Peningkatan suhu rata-rata dunia memaksa predator ini mengubah pola aktivitas harian, termasuk waktu berburu dan mencari kediaman baru nan lebih stabil secara termal.

“Peningkatan suhu rata-rata dapat mengubah pola aktivitas harian dan musiman ular, termasuk waktu berburu, reproduksi, dan penggunaan habitat,” ujar Prof Mirza, nan merupakan Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fahutan IPB University, Minggu (7/6).

Faktor Pemicu: Dari Cuaca Ekstrem hingga Rantai Makanan

Selain suhu, perubahan pola curah hujan nan ekstrem seperti banjir alias kekeringan panjang turut merusak kualitas kediaman alami ular. Kondisi ini diperparah dengan pergeseran populasi mangsa utama ular, ialah hewan pengerat (rodensia) dan amfibi, nan mulai mendekat ke area aktivitas manusia.

Pemukiman manusia menjadi sasaran ideal bagi ular lantaran menyediakan beragam akomodasi pendukung hidup, seperti:

  • Sumber makanan melimpah (tikus dan ayam).
  • Area lembap dan perlindungan (saluran drainase dan tumpukan barang).
  • Ketersediaan air (kolam alias bak penampungan).

Prof Mirza menyebut beberapa jenis nan patut diwaspadai di Indonesia, terutama nan sering bersenggolan dengan lanskap pertanian dan pinggiran kota, adalah ular kobra, ular welang, dan weling.

Tips Mitigasi Konflik dengan Ular:

  • Menjaga kebersihan lingkungan secara rutin.
  • Mengendalikan populasi tikus di sekitar rumah.
  • Menutup celah-celah gedung nan berpotensi menjadi akses masuk.
  • Dilarang keras menangkap alias membunuh ular tanpa training unik lantaran akibat gigitan nan fatal.

Desakan Penguatan Sistem Kesehatan

Prof Mirza menegaskan bahwa strategi mitigasi tidak boleh bermaksud untuk memusnahkan ular, mengingat peran vital mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem sebagai pengendali (benih)penyakit tikus.

Pemerintah didorong untuk segera memperkuat sistem respons bentrok satwa dan meningkatkan kapabilitas tenaga kesehatan. Salah satu poin krusial adalah percepatan penelitian serta penyediaan Venom Detection Kits (VDK) dan antivenom nan lebih spesifik untuk jenis ular di Indonesia.

“Perlu mendorong penelitian dan pengembangan antivenom dan VDK untuk membantu identifikasi jenis bisa ular dan meningkatkan efektivitas penanganan kasus gigitan,” pungkasnya.

Perlindungan terhadap koridor ekologis juga menjadi mendesak agar satwa liar tetap mempunyai ruang hidup nan layak tanpa kudu beranjak ke ruang domestik manusia. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia