Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sasaran Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mempunyai 1.100 perusahaan tercatat pada 2030 dan membawa pasar modal Indonesia masuk dalam jejeran 10 bursa saham terbesar bumi tetap realistis untuk dicapai.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan saat ini jumlah perusahaan tercatat di BEI telah mencapai 963 emiten. Dengan sasaran 1.100 emiten pada 2030, diperlukan penambahan sekitar 30 perusahaan baru melalui penawaran umum perdana saham (IPO) setiap tahun.
"Saat ini perusahaan tercatat ada 963. Bila tahun 2030 ditargetkan 1100 maka ada penambahan 30-an IPO saham baru setiap tahun,” kata Hasan, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis (30/7).
Hasan menjelaskan, pertumbuhan jumlah emiten bakal melangkah seiring dengan peningkatan kapitalisasi pasar. Pada akhir 2025, kapitalisasi pasar tercatat mencapai sekitar Rp 15.000 triliun.
Menurutnya, penambahan sekitar 150 perusahaan baru hingga 2030, terutama nan mempunyai kualitas esensial baik, bakal semakin meningkatkan nilai kapitalisasi pasar nasional.
"Pada akhir tahun 2025 nilai kapitalisasi pasar sekitar 15.000 Triliun. Dengan jumlah 963 perusahaan nan terus bertumbuh tentu nilai kapitalisasi pasarnya juga bakal tumbuh,” kata dia.
Hasan melanjutkan, posisi pasar modal RI saat ini juga telah berada di golongan 20 besar bumi berasas kapitalisasi pasar dan nilai transaksi.
Karena itu, Hasan menilai sasaran nan dicanangkan dewan baru BEI tetap bisa diwujudkan selama reformasi pasar modal terus berjalan, termasuk peningkatan kualitas emiten, pendalaman pasar, transparansi, dan tata kelola.
Sebelumnya, BEI telah menargetkan 1.100 perusahaan bisa tercatat alias melakukan IPO pada 2030. Meski sekarang terdapat ketidakpastian global, optimisme sasaran tersebut tetap ditegaskan.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik membuka kemungkinan untuk terus melakukan penyesuaian sasaran tahunan seiring perkembangan situasi hingga 2030 nanti.
“Jadi, tentu untuk tahun 2030, ya, kami tetap optimis lebih dari 1.100 perusahaan bakal tercatat. Tetapi dari tahun ke tahun, ya, tentu bakal kita sesuaikan dengan kondisi pasar di tahun tersebut,” ujarnya dalam obrolan berbareng media di Kantor BEI, Jakarta pada Senin (13/7).
Ia mengakui tahun 2026 ini kondisi pasar memang kurang kondusif. Hal ini mempunyai akibat langsung pada minat perusahaan untuk melakukan IPO.
“Ya, seperti kita ketahui, di tahun 2026 ini, kan, kondisi pasar kurang kondusif. Ya, banyak uncertainty nan timbul dari kondisi dunia saat ini. Jadi, tentu itu juga bakal mengurangi minat dari perusahaan-perusahaan untuk mencatatkan saham,” ujarnya.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·