Pertamina Blak-blakan Alasan Dibalik Kenaikan Harga BBM Pertamax

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Patra Niaga menyampaikan argumen dibalik kenaikan nilai Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter nan bertindak mulai 10 Juni 2026. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara keterjangkauan nilai bagi masyarakat dan keberlanjutan pasokan BBM nasional.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan menjelaskan nilai BBM di pasar dunia mengalami kenaikan signifikan akibat meningkatnya tensi geopolitik internasional nan mendorong lonjakan nilai minyak mentah dunia.

Menurutnya, Pertamina selama ini telah berupaya menahan kenaikan nilai jual BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, meskipun biaya pengadaan impornya sudah melampaui nilai nan dijual di SPBU.

Kenaikan nilai Pertamax ini merupakan nan perdana setelah lonjakan nilai minyak bumi akibat perang Israel-Iran pecah sejak 28 Februari 2026 lalu. Ketika nilai BBM non subsidi lainnya sudah mengalami kenaikan nilai sejak 18 April 2026 lalu, nilai BBM Pertamax tetap belum mengalami penyesuaian harga.

Bahkan, menurutnya, nilai keekonomian BBM Pertamax (RON 92) sekarang sudah berada di kısaran Rp 20.000-Rp 21.000 per liter. Artinya, meski nilai Pertamax sekarang sudah naik menjadi Rp 16.250 per liter, ini tetap tetap di bawah nilai keekonomiannya.

"Pertamax RON 92 kebetulan di market itu lantaran kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu jika di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita tetap tahan, tetap berupaya menahan di Rp12.300," jelasnya dalam aktivitas Sarasehan Energi DEN, di Kampus IPB Bogor, dikutip Kamis (11/6/2026).

Ia menyebut secara regulasi, penentuan nilai BBM non subsidi dalam negeri mengikuti nilai pasar dan tidak mendapatkan support fiskal dari pemerintah. Karena itu, Pertamina menekankan penyesuaian nilai sangat krusial untuk menjamin keahlian perusahaan dalam membeli kembali bahan baku BBM di pasar internasional guna menjaga ketahanan stok nasional.

"Logikanya, kami Pertamina membeli peralatan di market impor harganya tinggi, terus kami jual di domestik harganya di bawah. Uang nan kami dapat kami gunakan untuk membeli di market nggak dapat lagi volume nan sama. Volumenya bakal turun. Akibatnya adalah kesiapan stok itu bakal turun," imbuhnya.

Sigit menilai, andaikan nilai terus dipertahankan di bawah nilai keekonomian, perihal tersebut dikhawatirkan bakal memicu hambatan nan berakibat langsung pada masyarakat. Sehingga setelah melakukan koordinasi dengan pemerintah, Pertamina memutuskan untuk melakukan penyesuaian nilai secara terukur.

"Kami tidak mau kondisinya adalah terus-terusan seperti ini, sehingga kesiapan peralatan produk daya itu bakal turun di masyarakat. Once ada peak demand, maka itu bakal menjadi masalah," tambahnya

Terpisah, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan penyesuaian nilai BBM non subsidi jenis Pertamax dilakukan dengan tetap memperhatikan daya beli dan roda perekonomian nasional. Di sisi lain, nilai BBM bersubsidi tidak mengalami penyesuaian dan tetap dijual sesuai ketentuan nan berlaku.

Menurutnya, aspek nilai pasar dan nilai keekonomian menjadi salah satu argumen dilakukannya penyesuaian harga. Setelah dilakukan koordinasi dengan regulator, penyesuaian nilai Pertamax akhirnya dilakukan.

"Lebih kepada proses upaya hulu ke hilir penyediaan daya nan sesuai kordinasi dengan regulator perlu bergerak dan beradaptasi atas kondisi terkini menanggapi kejadian saat ini," ujarnya.

Berikut Daftar Harga BBM Non Subsidi Pertamina per 11 Juni 2026

Pertamax Series:

- Pertamax (RON 92): naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.

- Pertamax Green 95 (RON 95): naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

- Pertamax Turbo (RON 98): tetap Rp20.750 per liter.

Dex Series:

- Dexlite (CN 51): tetap Rp23.000 per liter.

- Pertamina Dex (CN 53): tetap Rp24.800 per liter.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News