Ilustrasi(MI/Faishol Taselan)
PERTAMINA Patra Niaga Region Jatim Balinus menjamin krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali tidak bakal berkapak di Jawa Timur, kendati ditemui di beberapa wilayah di Jawa Timur sempat adanya kelangkaan BBM khususnya jenis Pertalite.
“Stok BBM kami pastikan aman. Hari ini dan besok, insyaallah, ada tiga kapal nan siap bongkar sehingga stok bakal meningkat,” kata Pjs. EGM Regional Jatimbalinus Melissa Yolanda di Surabaya, Sabtu (17/10).
Ditemui usai melakukan Rapat Koordinasi dengan Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak, di Gedung Negara Grahadi, Melissa mengatakan stok BBM di Jawa Timur dalam kondisi aman. situasi dunia sempat memengaruhi kelancaran penyaluran. Meski demikian, Pertamina terus berupaya memulihkan pengedaran agar kembali normal.
Ia menambahkan, pasokan dari Jawa Tengah turut mendukung upaya menjaga kelancaran pengedaran BBM di Jatim. Pertamina juga bakal memprioritaskan penyaluran ke SPBU nan mengalami hambatan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Dari sisi penyaluran, rata-rata pengedaran harian Pertalite di Jawa Timur pada 2026 tercatat sebesar 10.953 KL per hari. Adapun rata-rata penyaluran Solar/Biosolar mencapai 7.317 KL per hari.
“Penyaluran bakal kami prioritaskan kepada masyarakat, terutama SPBU nan membutuhkan,” katanya.
Karena itu, Pertamina Patra Niaga memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) di Jawa Timur dalam kondisi kondusif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan info Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus per 16 Oktober 2026, stok Pertalite tercatat sekitar 35 ribu kiloliter (KL), Pertamax sekitar 10 ribu KL, dan Biosolar sekitar 35 ribu KL.
Sementara itu, proyeksi stok selama periode 16–31 Oktober menunjukkan kesiapan pasokan pada kisaran 145–150 ribu KL untuk Pertalite, 110–115 ribu KL untuk Pertamax, dan 140–160 ribu KL untuk Biosolar.
Wagub jatim Emil Elestianto dardak mengatakan, meski stok tersedia, pemerintah tetap melakukan penemuan awal terhadap potensi gangguan penyaluran di sejumlah SPBU. Langkah ini menyusul adanya antrean dan kekosongan stok pada jam-jam tertentu di beberapa lokasi.
“Kita mencoba penemuan awal di beberapa titik. Memang ada kecenderungan antrean dan juga ada kecenderungan di SPBU tertentu stoknya tidak ada pada jam tertentu,” kata Emil.
Dari hasil pantauan di lapangan, dia menjelaskan bahwa hambatan nan terjadi bukan semata-mata berangkaian dengan kesiapan stok, melainkan juga pengedaran BBM ke SPBU.
“Yang kita pastikan adalah pengedaran ke SPBU terus kita sorong agar melangkah lancar. Ketika ada SPBU nan mengalami kekosongan pada jam tertentu, pasokan kudu segera diupayakan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Karena itu, kita lakukan penemuan awal dan koordinasi dengan Pertamina agar hambatan di lapangan bisa segera ditangani,” katanya.
Terkait perihal tersebut, Pertamina telah menyiapkan sejumlah langkah guna mempercepat penyaluran BBM, termasuk memperpanjang jam operasional terminal dan menambah armada angkutan.
“Sejak minggu pertama Oktober, operasional terminal nan biasanya 12 jam ditingkatkan menjadi 24 jam. Ada juga tambahan 21 unit armada pikulan dengan kapabilitas sekitar 860 KL untuk mempercepat penyaluran, terutama ke titik-titik nan susah dijangkau,” katanya.
Selain itu, Pertamina juga mengoptimalkan jaringan terminal dan jalur pengedaran agar pasokan dari letak lain dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan SPBU nan mengalami kendala.
Ia menjelaskan, jaringan terminal BBM di Jatim terhubung dengan terminal di Boyolali dan Semarang, Jawa Tengah. Di Jawa Timur, terminal BBM berada di Tuban, Madiun, Camplong, Tanjungwangi, Malang, dan Surabaya.
“Untuk Surabaya, Tanjungwangi, dan Tuban, pengiriman bisa melalui jalur laut maupun darat. Pasokan dari Tuban ke Surabaya juga bisa disalurkan melalui pipa dan kereta api. Jadi, ada beberapa jalur nan bisa dimanfaatkan untuk memastikan pasokan BBM sampai ke SPBU,” jelasnya.(FL/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·