(MI/Ardi)
PERSAINGAN lulusan perguruan tinggi di dunia kerja saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Meskipun nilai akademik tetap menjadi parameter penting, IPK tinggi tidak serta-merta menjamin kesiapan lulusan memasuki bumi ahli tanpa disertai kompetensi tambahan dan soft skill.
Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Zuly Qodir, mengingatkan pentingnya keselarasan antara kompetensi akademik dan keahlian nan dibutuhkan industri. Menurutnya, perguruan tinggi memikul tanggung jawab besar untuk memastikan alumni mempunyai daya saing nyata.
"Bahaya sekali jika kita punya mahasiswa, tetapi kemudian alumninya menganggur. Itu saya jangan-jangan ikut berdosa, ya," seloroh Zuly seusai membuka UMY Career Fair 2026 di Gedung E8 Djarnawi Hadikusumo UMY, Jumat (28/8/2026).
Fenomena Skill Mismatch dan Pengangguran Terdidik
Kekhawatiran tersebut sejalan dengan info ketenagakerjaan nasional. Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS) nan dikutip Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah penganggur berlatar pendidikan tinggi (D-IV hingga S3) mencapai 1.033.182 orang per Mei 2026. Salah satu aspek utamanya adalah skill mismatch alias ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan bumi upaya dan industri.
Zuly menjelaskan bahwa saat ini terjadi kejadian membeludaknya lulusan dengan IPK tinggi, apalagi mendekati sempurna. Hal ini membikin perusahaan tidak lagi bisa menjadikan IPK sebagai satu-satunya parameter pembeda dalam proses rekrutmen.
"IPK 3 alias IPK 4 sekarang membeludak di mana-mana. Saya nyaris tiap tahun mewisuda nan IPK-nya 4, nan IPK-nya 3,9," ungkapnya.
Keseimbangan Akademik, Etika, dan Talenta
Oleh lantaran itu, Zuly menekankan pentingnya keseimbangan antara keahlian akademik, keahlian individual, talenta khusus, serta etika dan moral. Lulusan nan hanya mengandalkan nilai di atas kertas tanpa mempunyai karakter dan keahlian pendukung bakal susah bersaing di pasar kerja nan semakin ketat.
"Bukan hanya soal IPK lantaran IPK sekarang membeludak. Namun, jika etikanya tidak bagus, moralnya kurang bagus, dan tidak punya skill nan lain, tentu menjadi persoalan. IPK penting, keahlian perseorangan penting, talenta unik penting, dan moral juga sangat penting," tegas Zuly.
Info Acara: UMY Career Fair 2026 digelar pada 28-29 Agustus 2026 dengan melibatkan 20 perusahaan dari sektor BUMN maupun swasta, menyediakan kesempatan rekrutmen langsung bagi pencari kerja.
Langkah ini, menurut Zuly, sejalan dengan pengarahan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi nan mendorong sinergi antara kampus dan industri. Tujuannya agar lulusan lebih adaptif terhadap transformasi ekonomi dan perkembangan teknologi.
Di akhir penjelasannya, Zuly mendorong mahasiswa dan alumni untuk memperluas orientasi pekerjaan dan tidak hanya terpaku pada jalur aparatur sipil negara (ASN). Ia menilai sektor swasta mempunyai ruang serapan tenaga kerja nan sangat luas, asalkan pemerintah juga aktif mengarahkan suasana investasi dan industri secara tepat. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·