Permintaan Obligasi Danantara Membeludak 4 Kali Lipat

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Permintaan Obligasi Danantara Membeludak 4 Kali Lipat CEO BPI Danantara dalam konvensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (15/6).(Dok. Antara)

BADAN Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mencatat permintaan penanammodal nan jauh melampaui sasaran dalam publikasi obligasi dunia perdana. Dari sasaran awal US$1 miliar, minat penanammodal mencapai US$4,6 miliar, mendorong Danantara meningkatkan nilai publikasi menjadi US$1,5 miliar.

CEO BPI Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan capaian tersebut menjadi bukti nyata tingginya kepercayaan pasar internasional terhadap Danantara maupun prospek ekonomi Indonesia.

"Ini membuktikan juga bahwa kepercayaan penanammodal terhadap Indonesia itu tinggi, dan ini real," kata Rosan dalam konvensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (15/6).

Keberhasilan itu diraih setelah Danantara melakukan rangkaian roadshow ke sejumlah pusat finansial bumi sejak awal Juni. Kunjungan dilakukan ke Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York untuk memperkenalkan profil Danantara serta memaparkan strategi investasi nan tengah dijalankan.

Menurut Rosan, langkah tersebut dilakukan setelah Danantara memperoleh ranking layak investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkat internasional Moody's, S&P, dan Fitch. Peringkat nan diperoleh apalagi setara dengan sovereign rating alias ranking utang Pemerintah Indonesia. Sebelumnya, Danantara juga meraih ranking tertinggi AAA dari Pefindo.

Berbekal capaian itu, Danantara untuk pertama kalinya menawarkan obligasi dunia kepada penanammodal internasional. Hasilnya di luar perkiraan.

Rosan mengungkapkan, tim Danantara berjumpa sekitar 122 penanammodal dari beragam negara selama roadshow berlangsung. Setelah proses pertemuan dan penjajakan pasar, minat nan masuk melalui book building mencapai lebih dari empat kali sasaran awal.

Melihat tingginya permintaan tersebut, Danantara akhirnya meningkatkan nilai publikasi menjadi US$1,5 miliar nan dibagi dalam tenor 5 tahun dan 10 tahun.

Keberhasilan itu juga tercermin dari tingkat kupon nan sukses diperoleh. Untuk obligasi tenor 5 tahun, Danantara menutup transaksi pada tingkat kembang 5,35%. Sementara obligasi tenor 10 tahun ditetapkan pada 5,95%.

Padahal sebelumnya, kondisi pasar finansial dinilai kurang ideal. Saat itu pasar saham domestik mengalami tekanan dan nilai tukar rupiah juga melemah sehingga banyak pihak mempertanyakan waktu publikasi obligasi tersebut.

Namun tingginya permintaan penanammodal membikin biaya pendanaan nan diperoleh justru lebih kompetitif dari perkiraan awal. "Kalau mereka tidak percaya, pastinya mereka minta yield premium nan sangat tinggi. Ini tidak mereka minta yield, apalagi kita lihat yieldnya sangat-sangat kompetitif sekali," ujar Rosan.

Ia menjelaskan proses publikasi obligasi telah memasuki tahap final. Penandatanganan dilakukan pada 11 Juni dan biaya hasil publikasi dijadwalkan masuk ke kas Danantara pada 18 Juni.

Menurut Rosan, keberhasilan ini sekaligus menjawab keraguan sejumlah pihak nan sebelumnya mempertanyakan keahlian Danantara menarik penanammodal global, mengingat lembaga tersebut tetap relatif baru.

"Danantara juga baru satu separuh tahun. Tetapi kita bisa menerbitkan obligasi dengan kepercayaan nan begitu tinggi," katanya.

Komposisi penanammodal menunjukkan kekuasaan pemodal dari Amerika Serikat. Untuk obligasi tenor lima tahun, sebanyak 38% penanammodal berasal dari Amerika Serikat, 41% dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21% dari Asia.

Sementara pada tenor 10 tahun, penanammodal asal Amerika Serikat mencapai 52%, diikuti Eropa dan Timur Tengah sebesar 31%, serta Asia 17%. Rosan menilai komposisi tersebut cukup menarik lantaran berbeda dengan tren publikasi obligasi Indonesia sebelumnya nan umumnya didominasi penanammodal Asia.

"Justru fans dan nan membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat. Terutama nan 10 tahun, 52% nan subscribe dari bond kita adalah dari Amerika Serikat," ujarnya.

Tingginya minat penanammodal itu juga membuka kesempatan bagi Danantara untuk menerbitkan obligasi dengan tenor nan lebih panjang pada masa mendatang. Rosan mengungkapkan sejumlah penanammodal apalagi menyampaikan kesiapan mereka andaikan Danantara menerbitkan obligasi hingga tenor 30 tahun.

Menurut dia, minat tersebut muncul lantaran penanammodal memandang esensial ekonomi Indonesia tetap kuat dan mempunyai prospek pertumbuhan nan stabil di tengah tantangan geopolitik dan geoekonomi global.

Keberhasilan obligasi perdana Danantara juga mendapat perhatian media internasional. Rosan menyebut sejumlah media, termasuk Bloomberg, menyoroti kuatnya permintaan penanammodal terhadap surat utang tersebut dan menilainya sebagai sinyal positif bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Rosan menilai pencapaian ini menjadi tonggak krusial bagi Danantara. Selain menjadi publikasi obligasi dunia pertama, hasil nan diperoleh juga dinilai setara apalagi lebih kompetitif dibandingkan sejumlah sovereign wealth fund lain dari sisi tingkat imbal hasil.

"Ini membuktikan bahwa Danantara dalam perihal ini mempunyai kredibilitas nan baik dan ini tercermin dari obligasi nan mempunyai oversubscribe sampai lebih dari tiga kali," pungkas Rosan. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia