Ketika akses internet wanita terus bertambah, kecakapan digital dan keamanan ruang online bagi anak-anak Indonesia turut berjuntai di tangan mereka.
Anak-anak lahir sebagai digital native. Mereka lahir dan tumbuh di tengah-tengah perkembangan pesat bumi digital dan penggunaan gadget nan masif. Tidak semua anak siap dan mempunyai pengetahuan tentang bumi digital nan kompleks. Dunia digital di satu sisi memang menawarkan beragam macam perihal positif dan kemudahan-kemudahan nan tersaji secara instan. Di sisi lain bumi digital juga memberikan akibat negatif bagi penggunanya, seperti akibat terpapar konten negatif, cyberbullying, dan kecanduan.
Pengguna Digital Indonesia dan Posisi Perempuan
Jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Mengacu pada survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet nasional tercatat 204,7 juta orang alias 73,7% dari total masyarakat pada awal 2022. Angka itu terus merangkak naik, hingga pada Survei Profil Internet Indonesia 2026 tercatat 235,26 juta pengguna alias setara 81,7% dari total populasi. Meskipun jumlah penggunanya terus bertambah, keterlibatan wanita dalam ruang digital tetap tertinggal dari laki-laki. Survei APJII 2026 mencatat tingkat penetrasi internet pada laki-laki sebesar 83,95%, sementara pada wanita sebesar 79,79%, kesenjangan nan memang terus mengecil dari tahun ke tahun namun belum sepenuhnya tertutup.
Kesenjangan itu tidak hanya soal akses, tapi juga kecakapan. Survei Status Literasi Digital Indonesia 2022 nan dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika (kini Kementerian Komunikasi dan Digital) berbareng Katadata Insight Center mencatat skor indeks literasi digital wanita berada di nomor 3,52 dari skala 1-5, sedikit lebih rendah dibanding laki-laki nan mencapai 3,56. Dari empat pilar nan diukur, ialah kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital, skor wanita berada sedikit di bawah laki-laki pada nyaris semua pilar, selain pilar budaya digital nan skornya setara.
Platform digital nan paling banyak digunakan wanita adalah media sosial. Perempuan usia produktif 18-34 tahun paling banyak mendominasi media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan Facebook. Hal tersebut menunjukkan banyak wanita usia produktif nan terlibat dalam ruang digital. Dari data-data ini, besar angan agar keterlibatan tersebut sejalan pula dengan pengetahuan wanita mengenai ruang digital nan kompleks. Tidak hanya keterlibatan wanita dalam ruang digital, pengetahuan wanita bakal ruang digital sangat diperlukan, terutama edukasi mengenai ruang digital untuk anak-anak.
Potret Aktivitas Perempuan di Ruang Digital
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2023 turut memperkuat gambaran ini. Persentase masyarakat wanita usia 5 tahun ke atas nan pernah mengakses internet tercatat sekitar 66%, sementara pada laki-laki sudah menyentuh 72%. Kesenjangan ini relatif konsisten sejak 2020, dengan selisih sekitar 5,7-5,9 poin persentase setiap tahunnya. Platform digital nan paling banyak diakses oleh wanita adalah Facebook, TikTok, Instagram, YouTube, Google, dan lain sebagainya.
Secara nasional, aktivitas komunikasi dan media sosial menjadi argumen utama masyarakat mengakses internet, diikuti intermezo digital, pencarian info alias berita, serta transaksi daring, menurut Survei Profil Internet Indonesia nan dirilis APJII. Pola serupa turut mewarnai aktivitas digital perempuan, mulai dari mengakses buletin dan hiburan, mengerjakan tugas alias pekerjaan, hingga mengelola korespondensi lewat surel. Ponsel pandai tetap menjadi perangkat utama untuk mengakses internet, dipakai oleh sekitar 83% pengguna internet Indonesia, jauh mengungguli laptop dan perangkat lainnya, sebuah pola nan juga bertindak bagi kebanyakan wanita pengguna internet. Tidak hanya media sosial, transaksi finansial digital seperti mobile banking dan dompet digital juga semakin banyak dimanfaatkan wanita pekerja, termasuk nan bergerak di sektor informal, untuk mengelola penghasilan mereka, sejalan dengan makin luasnya inklusi finansial digital di Indonesia.
Dengan banyaknya keterlibatan wanita di ruang digital, harapannya sebanding juga dengan pengetahuan wanita tentang bumi digital. Literasi digital nan sebaiknya dikuasai wanita adalah literasi teknis nan berangkaian dengan pengoperasian perangkat keras, seperti laptop, ponsel, dan komputer. Literasi info nan berangkaian dengan kecakapan wanita dalam memilih, mencari, dan mengevaluasi informasi. Kecakapan ini diikuti dengan keahlian membedakan fakta, hoaks, dan opini. Selain itu, kepintaran emosional digital juga dibutuhkan untuk mengelola emosi diri ketika berinteraksi di media online. Kemampuan komunikasi dan kreasi juga menjadi literasi digital krusial nan kudu dikuasai wanita mengenai dengan keahlian komunikasi secara etis di bumi maya (netiquette) dan bisa memanfaatkan teknologi untuk membikin konten positif. Terakhir, keahlian memahami langkah melindungi info pribadi, mengatur privasi, mengenali modus penipuan online, dan menghindari serangan malware.
Urgensi Peran Perempuan: Risiko Digital nan Mengintai Anak
Berdasarkan catatan BPS, kebanyakan anak usia 5 tahun ke atas di Indonesia sudah mengakses dan menggunakan internet, dengan porsi terbesar digunakan untuk media sosial, entah itu untuk berinteraksi sosial maupun mengakses platform lain, seperti game online, mesin pencarian, dan lain sebagainya. Baik anak laki-laki maupun wanita sama-sama rentan ketika bergesekan langsung dengan platform digital. Begitu banyak platform digital nan menyajikan konten nan mengandung unsur SARA, kekerasan seksual, kekerasan fisik, ujaran kebencian, dan tindak kejahatan lainnya.
Risiko ini bukan sekadar kekhawatiran di atas kertas. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 nan digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat 14,49% anak laki-laki dan 13,78% anak wanita usia 13-17 tahun pernah mengalami cyberbullying. Survei nan sama juga menemukan sekitar 4 dari 100 anak pernah mengalami kekerasan seksual non-kontak nan berangkaian dengan aktivitas di media sosial dan ruang digital sepanjang hidupnya.
Hal tersebut jika tidak dipantau dan diingatkan pada anak-anak, dengan sigap anak-anak mengonsumsi sajian konten nan disuguhkan platform digital. Konten kekerasan misalnya tidak hanya didapat dari media sosial nan menjadi konsumsi, bakal tetapi juga lewat game online nan dimainkan anak-anak. Kemenpppa menyebut ada beberapa aspek negatif akibat kurangnya literasi digital anak dan kurangnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital anak, seperti brain rot alias kecanduan konten digital berbobot rendah, dan membuka kesempatan berjumpa dengan orang tidak dikenal nan menyebabkan oversharing data-data pribadi seperti foto, tanda pengenal, dan alamat tempat tinggal. Hal ini rawan lantaran berakibat pada psikologi, hubungan sosial, serta penyalahgunaan dan pemanfaatan info pribadi anak.
Di sinilah pentingnya pengetahuan digital nan dimiliki wanita bisa menjadi pedoman, pengarah, dan pembimbing nan diberikan kepada anak-anak. Produktivitas wanita di ruang digital diharapkan bisa menjadi kiblat bagi perkembangan pengetahuan anak mengenai bumi digital. Edukasi nan didapatkan di sekolah diestafet oleh wanita untuk memberikan pengetahuan dan pengarahan bagi anak-anak di rumah, menjadikan dan membentuk anak sebagai pengguna media online nan aman, cerdas, dan bertanggung jawab.
Selain itu, kehadiran wanita di ruang digital diharapkan menjadi garda terdepan bagi pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2025 mencatat kenaikan laporan KBGO sebesar 40,8% dibanding tahun sebelumnya, dengan total 1.846 kasus nan dilaporkan sepanjang 2025, mencakup ancaman daring, pelecehan seksual siber, penyebaran konten intim tanpa izin, hingga penipuan. Perempuan menjadi ujung tombak untuk melahirkan dan mentransmisikan pengetahuan nan berkeadilan gender, ramah terhadap kelompok-kelompok rentan. Selama ini, wanita dan anak paling banyak menjadi korban KBGO. Perempuan dapat menjadi edukator mengenai pencegahan kekerasan berbasis kelamin online nan menyasar wanita dan anak, sehingga golongan rentan seperti anak dan wanita dapat mencegah, menghindari, dan mengatasi KBGO.
Perempuan nan dikenal sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya diharapkan tidak hanya mengetahui konten apa nan menjadi konsumsi anak, tetapi juga memahami perubahan sikap alias gejala-gejala nan ditimbulkan ketika anak-anak terpapar konten nan berbahaya. Tidak hanya sebatas itu, memahami style bahasa dan makna simbol-simbol nan sering digunakan anak-anak juga menjadi pekerjaan rumah besar bagi wanita sebagai orang tua.
Selain itu, pentingnya support dari beragam pihak dengan melakukan kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, dan LSM untuk menyediakan sumber daya dan pelatihan. Sebagai salah satu contoh konkret, program DigiHer hasil kerjasama Kementerian Komunikasi dan Digital dengan operator telekomunikasi menargetkan peningkatan literasi digital bagi 2,4 juta wanita Indonesia hingga 2026, sebagai bagian dari upaya menutup kesenjangan digital berbasis gender. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan misalnya mengatur bumi digital nan ramah bagi pengguna, khususnya anak-anak nan rentan, dengan memblokir situs-situs nan menayangkan dan membagikan konten-konten negatif. Masyarakat juga dapat ikut serta secara langsung melaporkan platform digital alias situs-situs nan mempunyai konten negatif melalui pelaporan resmi nan dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Interaksi digital sangat kompleks dan luas. Anak-anak sebagai pengguna belum mempunyai pengetahuan mapan untuk mengolah info nan setiap saat muncul di layar ponsel, laptop, alias komputer nan mereka gunakan. Ketidaksiapan anak dalam mengakses platform digital memerlukan bimbingan, arahan, dan pemantauan dari orang-orang dewasa. Inilah pentingnya peran wanita Indonesia melek literasi digital sebagai upaya melindungi anak-anak Indonesia dari pengaruh negatif perkembangan media online. Perempuan sebagai sekolah pertama bagi anak-anak menjadi pedoman dan garda terdepan dalam mencegah dan melindungi anak-anak dari konten negatif media online.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·