Perempuan ini Nyaris Meninggal usai Makan Apel sebelum Lari, Ternyata Alami Alergi Langka

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Perempuan ini Nyaris Meninggal usai Makan Apel sebelum Lari, Ternyata Alami Alergi Langka Ilustrasi(magnifik)

Tak disangka, camilan sehat seperti apel justru menjadi ancaman nyawa bagi wanita pelari asal Somerset, Inggris. Dea Gagoshidze (29), nyaris kehilangan nyawanya akibat asal menyantap apel sebelum lari. Awalnya dikira alergi serbuk sari biasa, rupanya alergi langka nan mematikan.

Awalnya Dikira Alergi Serbuk Sari

Kejadiannya bermulai Agustus tahun lalu. Dea sedang lari trek berbareng temannya ketika mata dan bibirnya tiba-tiba mulai membengkak. 

Awalnya dia mengira itu hanya indikasi hay fever namalain alergi serbuk kembang biasa, perihal nan wajar dialami banyak orang saat musim panas. Alih-alih memperlakukan reaksi tersebut sebagai kejadian sepele, kondisi Dea justru memburuk. 

Sadar bakal situasinya nan tak kunjung membaik, Dea bergegas mendatangi meja resepsionis untuk mencari antihistamin.

Namun, tak lama kemudian dia langsung ambruk ke lantai dan lenyap kesadaran. Untungnya paramedis datang tepat waktu dan langsung memberikan suntikan adrenalin (epinefrin), obat nan biasa diberikan kepada penderita alergi berat tiba tiba alias anafilaksis, nan membikin kondisinya berangsur pulih.

Diagnosa Alergi Langka

Setelah menjalani serangkaian tes pada bulan September, master mendiagnosa Dea dengan kondisi langka berjulukan _Food-Dependent Exercise-Induced Anaphylaxis (FDEIA)_ alias anafilaksis nan hanya muncul andaikan seseorang makan makanan pemicu tertentu, lampau berolahraga tak lama setelahnya.

Menurut Anaphylaxis UK, anafilaksis akibat olahraga tergolong reaksi alergi serius meski jarang terjadi. Apabila ada aspek tambahan seperti makanan tertentu nan ikut memicunya, baru dapat disebut FDEIA. 

Anaphylaxis UK menyarankan siapa pun nan pernah mengalami indikasi alergi saat alias setelah beraktivitas bentuk untuk segera berkonsultasi ke dokter.

Penyebab Awal Reaksi Alergi: Protein di Kulit Buah dan Sayur

Baru saja diketahui belakangan ini, pemicu alergi FDEIA nan dialami Dea adalah lipid transfer proteins (LTP), sejenis protein nan banyak ditemukan pada buah, sayur, kacang-kacangan, serta biji-bijian dan sereal. 

Setelah diingat kembali, Dea menyantap wrap berisi paneer, sayuran, dan apel untuk makan siang di hari kejadian. Karena LTP adalah pemicunya, dia menduga sayur dan apel berupa penyebab utama reaksi alerginya akibat kadar LTP nan cukup tinggi.

Tekad Kuat Berlari Maraton dengan Kondisi Langka

Kini, Dea kudu menghindari LTP sebelum berolahraga. Buah alias sayuran dalam dosis sekecil apapun dapat memicu reaksi anafilaksisnya. Salah satu santan nan kondusif bagi Dea hanyalah bagel polos dengan sedikit mentega lantaran relatif kondusif dari kandungan LTP.

Walau sekarang didiagnosa dengan serius dan langka nan menyusahkan masa latihannya, Dea tetap semangat menyelesaikan Paris Marathon pada April 2026. 

"Kalau saya lupa alias kurang hati-hati sedikit saja, itu bisa bikin satu malam olahraga saya kandas total," ujar Dea. 

Sebagai salah satu penyintas kondisi FDEIA, Dea aktif menyuarakan edukasi mengenai kondisi FDEIA melalui akun TikTok pribadinya. Dea menyuarakan bahwa alergi semacam ini dapat muncul kapan saja dalam hidup seseorang, apalagi pada orang nan sudah lama beraktivitas bentuk dan terlihat bugar.

Sumber: ladbible.com, Anaphylaxis UK

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia