Perempuan Indonesia Masuk Daftar 50 Tokoh Muda ESG Dunia

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Perempuan Indonesia Masuk Daftar 50 Tokoh Muda ESG Dunia Karida Humaira Niode, Vice President Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk, masuk dalam daftar Women of the Future 50 Rising Stars in ESG 2026.(Dok. PT TBS Energi Utama)

KIPRAH wanita Indonesia dalam mendorong praktik upaya berkepanjangan mendapat pengakuan internasional. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap perubahan suasana dan transisi energi, keterlibatan wanita dalam pengambilan keputusan upaya dan pembiayaan menjadi salah satu aspek krusial untuk mempercepat penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG).

Karida Humaira Niode, Vice President Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk, masuk dalam daftar Women of the Future 50 Rising Stars in ESG 2026. Ia menjadi satu-satunya wanita Indonesia nan tercatat dalam daftar 50 ahli wanita muda bumi nan dinilai berkontribusi terhadap pengembangan praktik ESG.

Pengakuan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam penyusunan salah satu rencana transisi suasana (Climate Transition Plan) korporasi pertama di Indonesia, serta keterlibatannya dalam pengembangan skema pembiayaan campuran (blended finance) untuk sektor transportasi berkelanjutan.

Salah satu kontribusi Karida adalah memimpin aspek ESG dalam akomodasi pembiayaan senilai US$15 juta bagi pengembangan upaya transportasi rendah emisi melalui Electrum, anak upaya TBS.

Fasilitas pembiayaan tersebut melibatkan Asian Development Bank (ADB), DBS Bank, dan Australian Climate Finance Partnership. Pendanaan itu diarahkan untuk mendukung pengembangan ekosistem transportasi berkepanjangan sekaligus mempercepat peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil.

Karida menilai penerapan ESG tidak semestinya berakhir pada penyusunan laporan keberlanjutan alias pemenuhan standar perusahaan. Prinsip tersebut perlu menjadi bagian dari keputusan strategis, terutama dalam investasi dan pembiayaan.

“Kita bisa saling menginspirasi dan membangun hubungan dengan membuka lebih banyak kesempatan bagi wanita untuk terlibat dalam pengambilan keputusan finansial, bukan hanya membahas rumor keberlanjutan,” ujar Karida saat dihubungi, Kamis (15/10).

Menurutnya, pada awal perjalanan karier, pembahasan ESG tetap sering dipisahkan dari keputusan bisnis. Kondisi tersebut juga memengaruhi ruang keterlibatan wanita nan lebih banyak ditempatkan pada kegunaan keberlanjutan dibandingkan pengambilan keputusan keuangan.

“Di awal pekerjaan saya, pembahasan ESG sering kali melangkah terpisah dari keputusan bisnis. Saya memandang wanita di sekitar saya lebih banyak dilibatkan dalam obrolan keberlanjutan, tetapi belum banyak mendapat ruang dalam pengambilan keputusan finansial,” ungkapnya.

Karena itu, dia mendorong peningkatan keahlian teknis wanita di bagian penghitungan emisi, penetapan nilai karbon, serta pembiayaan transisi. Penguasaan bagian tersebut dinilai krusial agar ahli wanita dapat terlibat langsung dalam penyusunan strategi investasi dan struktur pendanaan.

Karida juga menekankan perlunya program pendampingan nan mempertemukan wanita muda di bagian ESG dengan para pengambil keputusan keuangan, termasuk kepala finansial dan ahli pembiayaan.

“Representasi wanita di bagian ESG semestinya bukan sekadar membikin lebih banyak wanita menyusun laporan. Kita perlu lebih banyak wanita nan terlibat dalam merancang transaksi dan struktur pembiayaan,” katanya.

Di TBS, menurut Karida, tim keberlanjutan telah dilibatkan dalam proses investasi sebagai bagian dari upaya perusahaan mencapai sasaran netralitas karbon pada 2030.

“Beruntungnya di TBS, manajemen perusahaan sangat bersungguh-sungguh untuk mencapai netralitas karbon di 2030 dan melibatkan tim Sustainability, termasuk saya dalam transaksi mengenai investasi,” ujarnya.

Keterlibatan tersebut berjalan seiring transformasi upaya TBS dari perusahaan berbasis batu bara menuju pengembangan prasarana berkepanjangan di area Asia.

Pada 2025, TBS telah menyelesaikan divestasi seluruh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) miliknya. Perusahaan sekarang memfokuskan pengembangan upaya pada pengelolaan limbah di Indonesia dan Singapura, daya terbarukan, serta ekosistem kendaraan listrik melalui Electrum, perusahaan patungan dengan GoTo.

Dalam laporan Diversification Gap in Indonesia’s Coal Sector nan diterbitkan Energy Shift Institute pada Agustus 2026, TBS disebut sebagai salah satu dari dua perusahaan dengan kemajuan diversifikasi paling nyata di antara 13 perusahaan batu bara nan diteliti.

Laporan tersebut mencatat lebih dari 60% pendapatan TBS telah berasal dari upaya non-batu bara. Perkembangan ini menjadi salah satu parameter pergeseran portofolio perusahaan menuju sektor nan lebih berkelanjutan.

Selain transformasi bisnis, TBS juga mencatat peningkatan keterwakilan wanita dalam posisi kepemimpinan. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, proporsi wanita dalam jejeran kepemimpinan perusahaan mencapai 37,5%, melampaui sasaran nan ditetapkan untuk 2030 alias lima tahun lebih awal.

Sementara itu, program Women of the Future nan didirikan Pinky Lilani CBE DL bermaksud memperluas kesempatan kepemimpinan wanita melalui pengembangan kapabilitas dan jejaring ahli internasional.

Daftar 50 Rising Stars in ESG secara unik memberikan pengakuan kepada wanita muda nan berkontribusi dalam pengembangan solusi lingkungan, sosial, dan tata kelola, termasuk penerapan strategi keberlanjutan dalam bumi usaha.

Pada 2026, program tersebut mendapat support dari Financial Times dan University of Oxford, dengan rangkaian penghargaan diselenggarakan di London, Inggris.

Masuknya Karida dalam daftar tersebut sekaligus memperlihatkan kontribusi ahli Indonesia dalam mengintegrasikan agenda keberlanjutan dengan keputusan investasi dan pembiayaan, terutama di tengah kebutuhan percepatan transisi daya dan pengembangan ekonomi rendah karbon. (E-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑