Taufik Fajar
, Jurnalis-Sabtu, 17 Oktober 2026 |07:26 WIB

BEI soal MSCI (Foto: Okezone)
JAKARTA - Usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan pengelompokkan pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market berpotensi menimbulkan sejumlah akibat bagi pasar modal domestik.
Persoalan ini disebut tidak hanya menyangkut potensi tekanan jual dalam jangka pendek, tetapi juga posisi Indonesia dalam indeks saham global, akses terhadap penanammodal institusional internasional, serta daya tarik pasar saham Indonesia sebagai tujuan investasi.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, andaikan perubahan pengelompokkan tersebut diterapkan, saham-saham Indonesia berpotensi dikeluarkan dari indeks Emerging Market nan menjadi referensi beragam produk investasi global.
Kondisi ini berisiko memicu tindakan jual oleh penanammodal pasif nan mengikuti indeks tersebut, sekaligus mendorong penanammodal institusional aktif menyesuaikan alokasi investasinya di pasar saham Indonesia.
“Risikonya bukan hanya berapa besar biaya asing nan berpotensi keluar. Dalam jangka lebih panjang, perubahan pengelompokkan ini dapat mempersempit pedoman penanammodal institusional, mengurangi likuiditas pasar, dan meningkatkan premi akibat nan diminta penanammodal untuk berinvestasi di saham Indonesia. Dengan kata lain, dampaknya bisa lebih luas daripada tekanan jual nan kita lihat saat ini,” jelas Rully di Jakarta.
Diketahui, MSCI memulai konsultasi atas usulan perubahan pengelompokkan pasar saham Indonesia pada 15 Oktober 2026. Langkah tersebut menyusul kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham, kualitas free float, serta dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi. Adapun keputusan final mengenai perubahan pengelompokkan tersebut dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·