Perbedaan Sistem Subsidi BBM Indonesia dengan Malaysia, Mana Lebih Tepat Sasaran?

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Perbedaan Sistem Subsidi BBM Indonesia dengan Malaysia, Mana Lebih Tepat Sasaran?

Perbedaan Sistem Subsidi BBM Indonesia dengan Malaysia. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA — Sistem subsidi BBM di Malaysia dinilai lebih maju dibanding Indonesia lantaran pemerintahnya berani menata ulang pengedaran subsidi agar lebih tepat sasaran. Di Malaysia, subsidi tidak lagi sekadar menjaga nilai murah, tetapi diatur berasas kuota dan identitas warga, sehingga siapa nan berkuasa dan berapa banyak nan boleh dikonsumsi menjadi jelas.

Pengamat Energi, Sofyano Zakaria, menilai Malaysia telah bergerak lebih maju dengan menerapkan sistem subsidi berbasis kuota dan identitas warga.

“Malaysia tidak lagi sekadar menjual BBM murah, tetapi mengatur siapa nan berkuasa dan berapa banyak nan boleh dikonsumsi. Ini langkah berani dan rasional,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Di Malaysia, subsidi BBM seperti RON95 diberikan dengan kuota sekitar 200 liter per bulan per individu. Jika konsumsi melampaui pemisah tersebut, masyarakat kudu membeli dengan nilai pasar. 

Skema ini dinilai bisa menekan pemborosan sekaligus memastikan subsidi hanya dinikmati oleh golongan nan memang membutuhkan.

Sebaliknya, Indonesia tetap terjebak dalam pola lama: menjaga nilai tetap murah tetapi lemah dalam pengendalian distribusi.

“Indonesia seolah takut meningkatkan nilai alias membatasi konsumsi, sehingga subsidi justru dinikmati oleh golongan nan tidak berhak, termasuk pemilik kendaraan besar dan industri,” ujar Sofyano.

Ia menegaskan, nilai BBM subsidi di Indonesia memang relatif terjangkau, seperti Pertalite dan Solar. Namun, tanpa pembatasan konsumsi nan tegas, subsidi menjadi tidak efisien dan membebani anggaran negara.

“Ini bukan soal murah alias mahal, tapi soal tepat alias tidak tepat sasaran,” tegasnya.

Sofyano juga menyoroti bahwa sistem Indonesia nan berbasis kendaraan dan barcode belum cukup efektif. Masih banyak celah penyalahgunaan, termasuk praktik pengisian berulang dan pengedaran ilegal. Sementara itu, Malaysia menggunakan pendekatan berbasis perseorangan nan lebih susah dimanipulasi.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com