Perang Tetangga RI Panas! Militer Siapkan Drone-Kirim Kapal Perang

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Rezim militer Myanmar dilaporkan telah meningkatkan pengerahan kapal angkatan laut secara besar-besaran di perairan lepas pantai negara bagian Rakhine selatan. Langkah provokatif ini menyasar wilayah Kotapraja Taungup, Ramree, dan Thandwe nan saat ini berada di bawah kendali tentara etnis Arakan Army (AA), sembari terus membombardir wilayah utara secara membabi buta.

Mengutip laporan dari The Irrawaddy, sumber perlawanan dan masyarakat setempat mengungkapkan bahwa junta militer juga telah meningkatkan pengawasan menggunakan pesawat nirawak alias drone di wilayah-wilayah nan dikuasai AA tersebut. Peningkatan aktivitas militer ini menandai babak baru ketegangan nan kian memanas di wilayah bentrok tersebut.

Sebelumnya, hanya terlihat beberapa kapal angkatan laut nan berjaga di sepanjang area pesisir dekat Kotapraja Thandwe, Taungup, Ramree, dan Manaung. Namun, saat ini dilaporkan sekitar 10 kapal terpantau beraksi di perairan tersebut dengan posisi nan semakin mendekat ke arah pantai.

Seorang masyarakat Ramree memberikan kesaksian mengenai situasi mencekam nan terjadi di wilayahnya. Ia menyebut bahwa kehadiran angkatan laut telah meningkat drastis sejak sebelum seremoni Thingyan alias Tahun Baru tradisional Myanmar pada Selasa, (21/04/2026).

"Kehadiran angkatan laut telah meningkat sejak sebelum Thingyan. Sebelumnya, mereka berada sekitar 20 hingga 30 mil (sekitar 30-50 km) dari pantai, tetapi sekarang mereka jauh lebih dekat. Drone juga dikerahkan setiap hari, sehingga orang-orang takut dan menghindari area tersebut," kata penduduk Ramree tersebut.

Kapal-kapal angkatan laut militer dilaporkan telah menahan dan menembaki kapal nelayan lokal di laut, nan memicu indikasi kuat bakal adanya rencana operasi amfibi. Akibatnya, banyak nelayan nan sekarang tidak berani melaut lantaran nyawa mereka terancam oleh kehadiran armada perang tersebut.

Seorang penduduk dari Kotapraja Thandwe juga mengonfirmasi adanya eskalasi jumlah kapal nan beraksi di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa pergerakan kapal-kapal tersebut sangat intens dan sering kali melepaskan tembakan senjata berat.

"Sebelumnya, hanya ada sekitar dua kapal di sini secara rutin. Sekarang kami memandang tiga, apalagi terkadang empat kapal. Mereka bergerak mendekat ke pantai lampau menarik diri berulang kali. Senjata berat juga ditembakkan nyaris setiap hari," ujar penduduk Thandwe menjelaskan kondisi di lapangan.

Mengutip laporan media lokal Rakhine, enam kapal angkatan laut sempat mendekati muara sungai di Kotapraja Taungup nan dikuasai AA pada hari Sabtu. Armada tersebut melakukan operasi pengawasan menggunakan drone sebelum akhirnya mundur kembali ke laut lepas pada keesokan harinya.

Seorang analis militer dari Kyaukphyu nan mempunyai hubungan dekat dengan AA menilai bahwa junta kemungkinan besar tidak bakal bisa meluncurkan serangan kembali nan efektif untuk merebut kembali kota-kota di Negara Bagian Rakhine. Menurutnya, kekuatan militer junta sudah sangat terbatas untuk melakukan serangan darat besar-besaran.

"Tidak bakal mudah untuk merebutnya kembali. Paling-paling, mereka mungkin bakal menggunakan serangan udara dan penghancuran sasaran sipil," kata analis tersebut memberikan pandangannya mengenai strategi junta.

Meski demikian, bentrok terus berjalan di wilayah-wilayah nan tetap dikuasai junta seperti Kotapraja Sittwe dan Kyaukphyu. Pasukan AA juga dilaporkan telah membalas dengan menembaki kapal-kapal angkatan laut nan berada di sepanjang garis pantai.

Saat ini, rezim militer Myanmar mulai mengalihkan tekanan militer melalui operasi laut lantaran AA telah mengamankan wilayah nan luas, termasuk wilayah di timur Pegunungan Arakan di wilayah Ayeyarwady, Bago, dan Magwe. Hal ini membikin manuver darat junta semakin terjepit dan terbatas.

Selain tekanan dari laut, rezim tersebut telah meningkatkan serangan udara terhadap sasaran sipil di Kotapraja Kyauktaw, Ponnagyun, dan Mrauk-U dalam beberapa hari terakhir. Serangan udara pada hari Minggu pagi di kota Ponnagyun dilaporkan menghancurkan pusat training kejuruan pemuda etnis dan stasiun pasokan listrik, serta melukai penduduk sipil.

Pada hari Minggu nan sama, sebuah jet tempur junta menjatuhkan peledak di sebuah desa di Ponnagyun nan menewaskan seorang penduduk. Tak berakhir di situ, pesawat tempur junta juga melakukan dua serangan udara nan menargetkan sebuah biara dan rumah-rumah di sebuah desa di Kotapraja Mrauk-U, menghancurkan gedung keagamaan dan melukai 13 orang termasuk para biksu.

Sejauh ini, AA telah sukses menguasai 14 dari 17 kotapraja di Negara Bagian Rakhine serta Kotapraja Paletwa di Negara Bagian Chin. Dalam pidatonya pada Hari Angkatan Bersenjata AA tanggal 10 April lalu, Panglima Tertinggi AA, Tun Myat Naing, menegaskan ambisi kelompoknya untuk merebut sisa kotapraja nan ada.

"Kami bermaksud untuk merebut kotapraja nan tersisa pada akhir tahun 2026 alias pada tahun 2027, dan jika tidak, kami bakal terus maju hingga kemenangan penuh tercapai," tegas Naing dalam pernyataan resminya.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News