Perang Tak Kunjung Tuntas, Presiden AS Sepakat Luncurkan Bom Nuklir

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri bentrok dengan Iran secepat mungkin bukan ancaman belaka. Dalam catatan sejarah, Presiden AS Harry S. Truman pernah menempuh langkah ekstrem untuk memaksa musuh menyerah, ialah dengan menjatuhkan peledak nuklir ke Jepang.

Peristiwa tersebut berjalan pada Juli hingga Agustus 1945, ketika Perang Dunia II di area Pasifik tetap berkecamuk. Jepang tetap menolak menyerah meski beragam kota luluh lantak dan korban jiwa terus bertambah. Truman berbareng negara-negara Sekutu sebelumnya telah menuntut Jepang menyerah tanpa syarat, namun Tokyo tetap menolak.

Awalnya, Pentagon menyiapkan invasi darat besar-besaran ke daratan utama Jepang. Operasi ini diperkirakan bakal menelan ratusan ribu korban tentara AS dan jutaan penduduk Jepang.

Tentara Jepang dikenal siap bertempur sampai meninggal demi kaisar dan negaranya. Mengutip situs Truman Library, skenario invasi darat dianggap terlalu mahal dan berisiko tinggi, sehingga Presiden Truman memilih tindakan radikal.

Pada, 6 Agustus 1945 peledak atom pertama, Little Boy, dijatuhkan di Hiroshima. Tiga hari kemudian, peledak kedua, Fat Man, menghancurkan Nagasaki.

Mengutip situs Britannica, korban jiwa di Hiroshima diperkirakan mencapai 70.000-140.000 orang, sedangkan di Nagasaki sekitar 40.000-80.000 orang. Angka ini belum termasuk ratusan ribu nan menderita pengaruh radiasi jangka panjang.

Serangan nuklir itu menjadi titik kembali perang. Kaisar Jepang Hirohito akhirnya menyerah pada 15 Agustus 1945, menandai berakhirnya Perang Dunia II di Pasifik. Penyerahan resmi dilakukan pada 2 September 1945 di kapal perang USS Missouri.

Meski langkah Truman mengakhiri perang lebih cepat, keputusan itu tetap kontroversial. Sejarawan Sergey Rachenko dalam tulisan berjudul "Did Hiroshima Save Japan From Soviet Occupation?" menilai peledak nuklir tidak hanya memaksa Jepang menyerah, tetapi juga sebagai pesan kekuatan kepada Uni Soviet.

Dampak jangka panjangnya terasa hingga kini. Peluncuran peledak nuklir memicu perlombaan senjata dunia dan meninggalkan gambaran ancaman nuklir dalam setiap ketegangan internasional. Hingga hari ini, pemerintah AS belum pernah meminta maaf resmi atas tindakan nuklir pertama dan satu-satunya dalam sejarah perang.

Sejarah mengingatkan kita AS pernah mengambil langkah nekat untuk mengakhiri perang. Di tengah ketegangan dengan Iran saat ini, kemungkinan tindakan serupa tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa sekarang lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa silam nan tetap bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News