Perang Menggila, Arab Saudi Diam-Diam Serang Langsung Wilayah Iran

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Timur Tengah rupanya berkembang jauh lebih luas dari nan selama ini diketahui publik. Arab Saudi dilaporkan diam-diam melancarkan serangan militer langsung ke wilayah Iran sebagai jawaban atas rentetan serangan rudal dan drone nan menghantam kerajaan tersebut selama perang Iran-AS-Israel berlangsung.

Informasi itu diungkap oleh dua pejabat Barat nan mengetahui persoalan tersebut serta dua pejabat Iran. Jika benar, tindakan ini menjadi pertama kalinya Arab Saudi diketahui melakukan operasi militer langsung di tanah Iran, sekaligus menandai perubahan besar sikap Riyadh nan sekarang dinilai jauh lebih garang menghadapi rival utamanya di kawasan.

Dilansir Reuters, Rabu (13/5/2026), serangan itu disebut dilakukan Angkatan Udara Arab Saudi pada akhir Maret lalu. Salah satu pejabat Barat menggambarkan operasi tersebut sebagai "serangan jawaban setimpal sebagai respons ketika Arab Saudi diserang."

Namun hingga sekarang belum diketahui secara pasti sasaran apa saja nan diserang Arab Saudi di Iran.

Pemerintah Saudi juga tidak secara gamblang membenarkan laporan itu. Saat dimintai komentar, seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Saudi tidak menjawab langsung apakah kerajaan memang melakukan serangan ke Iran, sementara Kementerian Luar Negeri Iran juga belum memberikan tanggapan.

Adapun perang nan berjalan selama 10 pekan terakhir telah mengguncang keseimbangan keamanan di Teluk. Selama ini Arab Saudi sangat berjuntai pada perlindungan militer Amerika Serikat, namun bentrok terbaru menunjukkan sistem pertahanan payung AS rupanya tidak sepenuhnya bisa melindungi kerajaan dari serangan Iran.

Konflik Melebar ke Negara-Negara Teluk

Serangan Saudi terhadap Iran memperlihatkan bahwa perang nan dimulai sejak serangan udara AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari sekarang telah menyeret lebih banyak negara di Timur Tengah ke dalam bentrok secara langsung.

Sejak operasi militer itu dimulai, Iran disebut menyerang seluruh negara personil Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menggunakan rudal dan drone. Sasaran serangan tidak hanya pangkalan militer AS, tetapi juga airport sipil, prasarana minyak, hingga akomodasi umum.

Iran juga menutup Selat Hormuz nan menjadi jalur utama perdagangan daya dunia, memicu gangguan besar terhadap rantai pasok global.

Tidak hanya Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) juga disebut ikut melakukan serangan militer terhadap Iran. Wall Street Journal melaporkan tindakan tersebut pada Senin.

Gabungan langkah Saudi dan UEA menunjukkan bahwa monarki-monarki Teluk nan selama ini menjadi sasaran serangan Iran sekarang mulai membalas secara langsung.

Meski demikian, pendekatan kedua negara berbeda. UEA dinilai mengambil sikap lebih keras dan garang terhadap Teheran serta jarang melakukan diplomasi terbuka.

Sebaliknya, Arab Saudi disebut tetap berupaya mencegah eskalasi lebih jauh sembari menjaga komunikasi dengan Iran, termasuk melalui duta besar Iran di Riyadh.

Pejabat senior Kementerian Luar Negeri Saudi juga menegaskan posisi resmi kerajaan nan tetap mengedepankan upaya meredakan konflik.

"Kami menegaskan kembali posisi konsisten Arab Saudi nan mendukung de-eskalasi, pengendalian diri, dan pengurangan ketegangan demi stabilitas, keamanan, dan kemakmuran area serta rakyatnya," katanya.

Serangan Dibalas Diplomasi

Menurut pejabat Iran dan Barat, Arab Saudi memberi tahu Iran mengenai serangan tersebut. Setelah itu terjadi komunikasi diplomatik intensif disertai ancaman Riyadh untuk melakukan jawaban lebih besar jika serangan terhadap wilayahnya terus berlanjut.

Langkah itu kemudian menghasilkan kesepahaman informal antara kedua negara untuk menurunkan tensi konflik.

Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai pola tersebut menunjukkan kedua negara memahami akibat besar jika perang terus membesar.

Ia mengatakan serangan jawaban Saudi nan diikuti kesepakatan de-eskalasi memperlihatkan adanya "pengakuan pragmatis di kedua pihak bahwa eskalasi nan tidak terkendali membawa biaya nan tidak dapat diterima."

Menurutnya, situasi itu bukan berfaedah kedua negara saling percaya, melainkan sama-sama mempunyai kepentingan untuk mencegah bentrok berubah menjadi perang regional penuh.

"Bukan lantaran saling percaya, tetapi lantaran adanya kepentingan berbareng untuk membatasi konfrontasi sebelum berkembang menjadi bentrok regional nan lebih luas," katanya.

Kesepahaman informal itu mulai bertindak pada pekan sebelum Washington dan Teheran menyetujui gencatan senjata pada 7 April.

Salah satu pejabat Iran juga membenarkan adanya kesepakatan deeskalasi dengan Riyadh.

Ia menyebut langkah itu bermaksud untuk "menghentikan permusuhan, melindungi kepentingan bersama, dan mencegah peningkatan ketegangan."

Hubungan Saudi-Iran sendiri selama puluhan tahun diwarnai rivalitas tajam antara kekuatan Sunni dan Syiah terbesar di Timur Tengah. Keduanya mendukung golongan berbeda dalam beragam bentrok regional.

Namun pada 2023, China sukses memediasi rekonsiliasi kedua negara nan berujung pada pemulihan hubungan diplomatik dan gencatan senjata antara Saudi dengan golongan Houthi di Yaman nan didukung Iran.

Dengan Laut Merah tetap terbuka untuk pelayaran, Arab Saudi tetap bisa melanjutkan ekspor minyak selama bentrok berlangsung, berbeda dengan sebagian besar negara Teluk lainnya. Hal itu membikin kerajaan relatif lebih terlindungi dari akibat perang.

Hindari "Tungku Kehancuran"

Dalam tulisan opini di Arab News akhir pekan lalu, mantan kepala intelijen Saudi Pangeran Turki al-Faisal menggambarkan strategi kerajaan selama perang berlangsung.

Ia menulis, "ketika Iran dan pihak lain mencoba menyeret kerajaan ke tungku kehancuran, kepemimpinan kami memilih menanggung rasa sakit nan disebabkan oleh negara tetangga demi melindungi nyawa dan kekayaan barang rakyatnya."

Serangan Saudi disebut muncul setelah ketegangan meningkat selama berminggu-minggu.

Pada konvensi pers di Riyadh tanggal 19 Maret, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan kerajaan "memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan militer jika dianggap perlu."

Tiga hari kemudian, Arab Saudi menetapkan atase militer Iran dan empat staf kedutaan lainnya sebagai persona non grata.

Sumber Barat mengatakan komunikasi diplomatik dan ancaman Saudi untuk mengambil pendekatan lebih keras seperti UEA akhirnya membikin Iran mengurangi serangan langsung ke kerajaan tersebut.

Data Reuters menunjukkan jumlah serangan drone dan rudal ke Arab Saudi turun drastis. Pada periode 25-31 Maret tercatat lebih dari 105 serangan, namun antara 1-6 April jumlahnya turun menjadi sedikit di atas 25 serangan.

Sumber Barat juga menilai proyektil nan ditembakkan menjelang gencatan senjata lebih banyak berasal dari Irak, bukan langsung dari Iran. Hal itu dianggap sebagai sinyal bahwa Teheran mulai membatasi serangan langsung, meskipun golongan sekutunya tetap aktif.

Arab Saudi apalagi memanggil duta besar Irak pada 12 April untuk memprotes serangan nan berasal dari wilayah Irak.

Meski komunikasi Saudi-Iran tetap berjalan, ketegangan kembali muncul di awal masa gencatan senjata lebih luas antara Iran dan AS. Kementerian Pertahanan Saudi melaporkan adanya 31 drone dan 16 rudal nan menyerang kerajaan pada 7-8 April.

Lonjakan serangan tersebut membikin Riyadh kembali mempertimbangkan tindakan jawaban terhadap Iran dan Irak.

Di tengah situasi itu, Pakistan mengirim jet tempur untuk menenangkan Saudi sekaligus mendesak semua pihak menahan diri ketika jalur diplomasi mulai bergerak.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News