Perang Iran Gak Ngaruh, Ekonomi India Terbang 7,8%

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian India berhasil mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 7,8% pada kuartal kedua (Q2) 2026. Angka ini secara mengejutkan sukses melampaui ekspektasi jajak pendapat Reuters nan sebelumnya hanya memperkirakan pertumbuhan berada di level 7,1%.

Mengutip CNBC International, Rabu (2/9/2026), pencapaian gemilang ini utamanya didorong oleh keahlian nan kuat di sektor keuangan, real estat, teknologi informasi, dan jasa profesional. Kementerian Statistik dan Implementasi Program India merilis info nan menunjukkan bahwa meskipun sektor pertanian dan sejenisnya melaporkan pertumbuhan nan lesu, keahlian sektor manufaktur serta jasa justru meningkat tajam pada kuartal Juni, menyusul nomor pertumbuhan 7,8% di kuartal sebelumnya.

Gudwani menambahkan bahwa tingkat permintaan konsumen tetap kuat, sementara sektor manufaktur, jasa, penjualan mobil, serta pertumbuhan pinjaman juga tetap memperkuat dengan sangat baik. Meski demikian, bank sentral India (RBI) pada awal bulan lampau sempat memperingatkan bahwa meski ekonomi negara tetap handal di tengah rentetan ketidakpastian geopolitik, pertumbuhan secara keseluruhan diperkirakan bakal melambat selama tahun finansial ini.

RBI sebelumnya memperkirakan ekonomi India hanya bakal tumbuh sebesar 7,0% dalam tiga bulan nan berhujung Juni dan 6,7% selama tahun finansial nan berhujung Maret 2027. Otoritas moneter tersebut turut menyoroti ancaman kondisi suasana ekstrem seperti El Nino nan dapat menyebabkan curah hujan monsun barat daya tidak merata, sehingga menimbulkan akibat besar bagi sektor pertanian dan berpotensi melemahkan permintaan di pedesaan.

"Lingkungan ekonomi dunia nan bergolak bakal berakibat pada aktivitas ekonomi domestik lantaran nilai daya dan tekanan rantai pasokan tetap tinggi dan tidak pasti," tegasnya.

Dampak tingginya nilai daya ini sejatinya sudah mulai terasa nyata di jalanan India. Inflasi negara tersebut dilaporkan terus merangkak naik secara stabil selama sembilan bulan berturut-turut hingga menyentuh nomor 4,45% pada bulan Juli. Namun, tidak seperti langkah pengetatan moneter nan diambil oleh beberapa bank sentral di negara Asia lainnya, RBI bersikeras mempertahankan arah kebijakannya dan memutuskan untuk tidak meningkatkan suku kembang referensi pada bulan Agustus lalu.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News