Perang Iran Dorong Teluk Cari Sekutu Baru, Apa Kabar "NATO Muslim"?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara Teluk mulai meninjau ulang strategi keamanan mereka setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengguncang stabilitas area dan merusak ekonomi. Selain mempercepat pemulihan, mereka juga mempertimbangkan menambah mitra pertahanan baru di tengah meningkatnya ketegangan dengan Teheran.

Para pemimpin area menyadari ancaman dari Iran belum sepenuhnya hilang, terutama dengan sisa arsenal rudal nan dimiliki negara tersebut. Keberadaan pangkalan militer AS di wilayah Teluk apalagi menjadikan negara-negara itu sasaran serangan jawaban Iran setelah operasi campuran Washington dan Israel.

Namun, negara-negara Teluk menegaskan mereka tidak bisa menerima Iran mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur vital nan dilalui sebagian besar perdagangan mereka.

Dalam kesepakatan gencatan senjata pekan ini, Iran bersikeras mempertahankan posisi nan diambil selama perang di jalur perairan tersebut, nan berpotensi memberi Teheran keahlian menekan negara-negara Teluk sewaktu-waktu. Masa depan selat itu menjadi salah satu sengketa utama dalam perundingan antara AS dan Iran di Islamabad nan dijadwalkan mulai berjalan secepatnya pada Jumat.

Negara-negara Teluk mengeklaim keberhasilan dalam mencegat sebagian besar serangan rudal dan drone Iran selama lima pekan konflik, sebagai bukti mereka bisa mempertahankan diri.

Meski demikian, para mahir menilai negara-negara tersebut terpecah dalam menentukan hubungan ke depan dengan Iran. Kelompok nan lebih keras dipimpin oleh Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, sementara negara lain berambisi meredakan ketegangan melalui hubungan nan diperbarui dengan Teheran.

Media pemerintah Iran pada Rabu menuduh UEA kemungkinan berada di kembali serangan terhadap akomodasi minyak di Pulau Lavan beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata, dan Iran disebut membalas. Jika benar, itu bakal menjadi satu-satunya tindakan ofensif nan diketahui dari negara Teluk selama konflik.

Sementara itu, Arab Saudi dan Iran pada Kamis melakukan kontak resmi pertama sejak bentrok dimulai melalui percakapan telepon antara menteri luar negeri kedua negara. Dalam pembicaraan tersebut, mereka "membahas langkah mengurangi ketegangan untuk memulihkan keamanan dan stabilitas di kawasan".

Profesor di Kuwait University, Bader Mousa Al-Saif, mengatakan negara-negara Teluk perlu mempertimbangkan ulang arsitektur keamanan mereka dengan menjalin kemitraan dengan negara seperti Turki dan kekuatan menengah lainnya, bukan hanya berjuntai pada AS. Ia menilai area kudu menjauh dari akibat bentrok berulang agar fondasi ekonomi dapat dibangun kembali.

"Ini menjadi tanggungjawab semua negara di area untuk memikirkan ulang modelnya," kata Al-Saif, dilansir The Guardian, Jumat (10/4/2026). "Pertanyaannya adalah gimana melindungi area secara keseluruhan dari terjerumus ke dalam perang tanpa akhir."

Negara seperti Turki dan Pakistan nan mempunyai militer besar diperkirakan bakal memainkan peran lebih besar di Teluk. Langkah ke arah itu sebenarnya sudah terlihat sebelum perang.

Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi meneken pakta pertahanan dengan Pakistan, sementara UEA mengumumkan kemitraan pertahanan dengan India. Selama konflik, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga menandatangani perjanjian pertahanan dengan Ukraina untuk menghadapi ancaman drone Iran.

Gagasan membentuk "NATO Muslim" sempat muncul, tetapi dinilai sangat mini kemungkinan terwujud. Penyelarasan baru nan terbentuk pada Maret melibatkan Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Pakistan dalam format nan disebut "Step".

Namun rivalitas di antara negara-negara tersebut serta ketidakjelasan apakah mereka konsentrasi menghadapi Iran alias Israel membikin hubungan itu rumit. Turki dan Pakistan juga berbatasan langsung dengan Iran dan tidak mau konfrontasi dengan Teheran.

Inggris, nan membantu mempertahankan langit Teluk selama perang, juga bisa terlibat lebih jauh. Saat tiba di Jeddah pada Rabu, Perdana Menteri Keir Starmer membahas dengan putra mahkota Arab Saudi "bagaimana Inggris dan Arab Saudi dapat memperdalam kerja sama industri pertahanan untuk meningkatkan keahlian dan keamanan bersama".

Profesor pengetahuan politik di Uni Emirat Arab, Abdulkhaleq Abdulla, mengatakan dia memperkirakan hubungan keamanan dengan AS bakal makin dalam, sekaligus lebih banyak negara mengikuti langkah UEA menjalin hubungan dengan Israel, termasuk kerja sama militer dan intelijen.

UEA disebut paling terdampak oleh serangan Iran, dengan menjadi sasaran 2.256 drone dan lebih dari 563 rudal, di mana lebih dari 90% sukses dicegat, menurut otoritas setempat. Angka itu dibandingkan dengan sekitar 850 proyektil nan ditembakkan Iran ke Israel.

"Iran telah berkembang selama 40 hari terakhir sebagai musuh publik nomor satu, bagi Uni Emirat Arab dan negara-negara Arab lainnya," kata Abdulla. "Dengan musuh publik nomor satu seperti itu, Anda betul-betul kudu waspada 24 jam, tujuh hari seminggu."

Direktur proyek Teluk di International Crisis Group, Yasmine Farouk, menilai Arab Saudi berada pada posisi lebih baik untuk pulih, berkah jalur pipa minyak dan pelabuhan di Laut Merah, luas wilayah, serta prasarana daya nan tidak terkena akibat sebesar negara Teluk lainnya. Meski demikian, biaya rekonstruksi dapat memengaruhi ambisi Riyadh untuk mendiversifikasi ekonomi hingga 2030.

"Arab Saudi mempunyai kedalaman strategis, dan sumber daya untuk pulih. Geografinya sangat membantu," kata Farouk.

Sementara itu, guru besar asosiasi di King's College London, Andreas Krieg, mengatakan negara-negara Teluk tidak bakal mengganti perlindungan Amerika Serikat, tetapi bakal menambah kemitraan keamanan dengan pihak lain, khususnya Eropa.

Ia memperkirakan negara-negara Teluk bakal meningkatkan investasi pada pertahanan udara dan rudal, penguatan pelabuhan serta pabrik desalinasi, pengawasan maritim, dan jalur ekspor alternatif.

"Amerika Serikat tetap satu-satunya kekuatan luar dengan arsitektur militer nyata di Teluk, tetapi sekarang terlihat bagi banyak pemimpin Teluk sebagai penyedia keamanan nan tidak dapat diandalkan dan sangat mahal dalam hubungan di mana Teluk sering bayar mahal dan tetap menanggung akibat pembalasan," kata Krieg.

"Pangkalan itu bakal tetap ada, tetapi sekarang terlihat kurang seperti perisai dan lebih seperti pemicu."

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News