Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik selama tujuh minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tak hanya berakibat pada geopolitik global, tetapi juga membuka satu titik lemah utama Presiden AS Donald Trump. Apa itu? ialah tekanan ekonomi dalam negeri.
Serangan militer nan dilakukan AS berbareng Israel sejak akhir Februari belum sukses menjatuhkan rezim Iran alias memaksa Teheran memenuhi seluruh tuntutan Washington. Namun, krisis ini justru memperlihatkan akibat ekonomi menjadi aspek nan paling membatasi langkah Trump.
Di tengah kenaikan nilai bensin, inflasi nan meningkat, serta penurunan tingkat persetujuan publik, Trump sekarang didorong untuk segera mencari solusi diplomatik guna meredam akibat perang di dalam negeri.
Iran memang mengalami tekanan militer, tetapi dinilai sukses membalas dengan pukulan ekonomi nan signifikan. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz sempat memicu guncangan daya dunia terburuk nan mendorong lonjakan nilai minyak dunia.
Kenaikan biaya daya tersebut langsung dirasakan konsumen AS, meskipun negara itu tidak sepenuhnya berjuntai pada jalur tersebut. Dana Moneter Internasional apalagi memperingatkan akibat resesi dunia akibat gejolak ini.
Tekanan politik juga meningkat menjelang pemilu paruh waktu November, di mana Partai Republik berupaya mempertahankan kebanyakan tipis di Kongres. Kondisi ini membikin kebutuhan untuk mengakhiri bentrok semakin mendesak.
Para analis menilai Iran memanfaatkan posisinya untuk mendorong AS kembali ke meja perundingan. Sementara itu, rival AS seperti China dan Rusia kemungkinan memandang bahwa Trump tetap garang secara militer, tetapi sigap mencari jalan diplomasi saat tekanan ekonomi meningkat.
"Trump merasakan tekanan ekonomi, nan merupakan titik lemahnya dalam perang pilihan ini," kata Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri di pemerintahan Obama nan memimpin konsultan strategis Global Situation Room, dikutip dari Reuters pada Sabtu (18/4/2026).
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai mengatakan, sembari berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran untuk menyelesaikan masalah pasar daya sementara, pemerintah tidak pernah kehilangan konsentrasi pada penerapan agenda keterjangkauan dan pertumbuhan presiden. "Presiden Trump dapat melakukan dua perihal sekaligus," katanya.
Pada 8 April, Trump mulai mengalihkan pendekatan dari serangan udara ke jalur diplomasi, menyusul tekanan dari pasar finansial dan sebagian pedoman pendukungnya. Dampak ekonomi juga dirasakan sektor domestik seperti petani akibat gangguan pasokan pupuk serta kenaikan nilai tiket pesawat lantaran bahan bakar mahal.
Meski begitu, masa depan bentrok tetap belum pasti. Dengan gencatan senjata dua minggu nan terus berjalan, Trump dihadapkan pada pilihan apakah bakal mencapai kesepakatan, memperpanjang gencatan, alias kembali melanjutkan serangan.
Harga minyak dunia sempat turun dan pasar finansial menguat setelah Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam kerangka gencatan senjata 10 hari nan dimediasi AS. Trump pun menyebut kesepakatan dengan Iran nyaris tercapai, meski sumber dari Teheran menyatakan tetap ada perbedaan nan belum terselesaikan.
Para mahir memperingatkan, apalagi jika perang segera berakhir, akibat ekonominya bisa berjalan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Salah satu rumor utama adalah apakah kesepakatan nantinya betul-betul bisa menghentikan ambisi nuklir Iran, nan selama ini dibantah oleh Teheran.
Di sisi lain, sekutu AS di Eropa dan Asia mulai mempertanyakan konsistensi kebijakan Washington. Keputusan Trump memulai perang tanpa konsultasi luas memicu kekhawatiran soal stabilitas geopolitik dan keamanan ekonomi global.
"Lonceng peringatan nan bersuara bagi sekutu saat ini adalah gimana perang telah menyoroti bahwa pemerintahan dapat bertindak secara tidak menentu, tanpa banyak mempertimbangkan konsekuensinya," kata Gregory Poling, seorang mahir Asia di Center for Strategic and International Studies di Washington.
Trump sebenarnya bukan pertama kali berhati-hati soal akibat ekonomi dari kebijakan luar negeri. Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Presiden AS saat itu, Joe Biden memilih tidak gegabah menjatuhkan hukuman daya ke Moskow lantaran cemas bisa mengganggu pasokan minyak dunia dan mendorong kenaikan nilai bensin di AS.
Sebaliknya, Donald Trump nan kembali maju dengan janji nilai daya murah dan inflasi rendah, dinilai sangat sensitif terhadap rumor kenaikan harga. Salah satu contohnya, dia sempat menurunkan tarif terhadap China setelah mendapat serangan jawaban dalam perang dagang.
Salah Hitung Dampak
Sejumlah analis menilai Trump keliru membaca respons lawan. Seperti saat perang jual beli dengan China, dia kembali dinilai salah mengantisipasi langkah Iran dalam bentrok bersenjata.
Alih-alih hanya merespons secara militer, Iran justru menyerang dari sisi ekonomi, termasuk dengan mengganggu prasarana daya di area Teluk dan menekan jalur strategis pengiriman minyak global.
Awalnya, Trump disebut mengira bentrok ini bakal berjalan singkat, seperti operasi militer sebelumnya di Venezuela alias serangan terbatas ke akomodasi nuklir Iran. Namun, dampaknya kali ini jauh lebih luas dan berkepanjangan.
Situasi ini juga memicu kekhawatiran di kalangan sekutu AS di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Mereka menilai kebijakan Trump condong susah diprediksi dan kurang mempertimbangkan akibat geopolitik serta ekonomi bagi mitra.
Di Eropa, negara-negara sekutu juga mulai resah lantaran kudu menanggung akibat ekonomi dari bentrok nan bukan mereka mulai. Kekhawatiran pun meningkat soal komitmen AS terhadap support jangka panjang untuk Ukraina.
Negara-negara Teluk Arab sendiri mendorong agar perang segera diakhiri, namun tetap menginginkan agunan keamanan jika kesepakatan tercapai.
Sementara itu, support politik dalam negeri Trump tetap relatif kuat di pedoman pendukungnya. Meski begitu, muncul keraguan apakah dia bisa mengembalikan support pemilih independen menjelang pemilu paruh waktu.
"Dia sadar bahwa sebagian besar masyarakat di luar pedoman pendukungnya, apalagi sebagian di dalamnya, menolak kebijakan ini. Dan pada akhirnya, nilai politiknya bakal dibayar," ujar analis politik Chuck Coughlin.
(fab/fab)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·