Kapasitas kargo udara dunia nan semula diperkirakan tumbuh sebesar 5,5 persen tahun ini justru mengalami penurunan sebesar 1 persen.
Mengutip Reuters, Direktur Pelaksana firma konsultan Aevean, Marco Bloemen, menyatakan kondisi ini terjadi akibat bentrok di Iran nan pecah pada akhir Februari 2026.
Nasib industri kargo tahun ini sangat berjuntai pada pemulihan operasional pesawat penumpang berbadan lebar milik maskapai besar di area Teluk. Pesawat tersebut mencakup kira kira separuh dari total kapabilitas kargo udara di wilayah tersebut.
Pakar dari platform nilai transportasi Xeneta, Niall van de Wouw, memberikan pandangannya mengenai peran vital maskapai di area Teluk bagi perdagangan dunia.
"Maskapai Teluk seperti Emirates dan Qatar Airways mengoperasikan beberapa jaringan kargo udara paling krusial di dunia," kata Niall van de Wouw.
Ia menambahkan bahwa pemulihan pariwisata nan terlambat di Teluk setelah perang berhujung dapat memicu maskapai untuk memotong kapabilitas penumpang. Langkah tersebut diprediksi bakal berakibat langsung pada penurunan kapabilitas kargo udara.
Di sisi lain, maskapai British Airways telah mengumumkan pengurangan penerbangan ke Timur Tengah sebagai tanda melemahnya permintaan akibat ketegangan regional. Perusahaan kargo seperti UPS juga mulai menerapkan rencana darurat dengan tidak menerbangkan pilot mereka ke pusat transit utama seperti Dubai.
Masalah utama nan dihadapi saat ini adalah lonjakan biaya operasional nan sangat tinggi. Direktur Kargo Grup di Air Charter Service, Dan Morgan Evans, menyoroti kenaikan nilai bahan bakar sebagai beban terberat bagi industri.
"Isu utama bagi semua orang adalah lonjakan besar pada nilai bahan bakar," ujar Dan Morgan Evans.
Dampak biaya ini dirasakan nyata oleh para pelaku bisnis. Salah satu pengguna AIT Worldwide Logistics apalagi kudu mengeluarkan biaya 5 hingga 6 kali lipat lebih besar untuk mengirimkan peralatan pengeboran minyak ke Arab Saudi. Pengiriman terpaksa dialihkan melalui udara dan truk setelah pelayaran laut dari Houston dibatalkan lantaran kondisi perang.
Meski kudu bayar jauh lebih mahal, banyak perusahaan merasa tidak mempunyai pilihan lain demi memastikan logistik mereka tetap berjalan.
"Terkadang kargo memang kudu tetap dikirimkan," tutur Morgan Evans menekankan urgensi pengiriman peralatan di tengah krisis.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·