Perang di Iran Picu Defisit Minyak Global, Pasokan Tertekan Tahun Ini

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Sebuah bendera Iran tergeletak di tengah reruntuhan gedung Universitas Teknologi Sharif, nan rusak akibat serangan udara, di tengah bentrok AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, Selasa (7/4/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS

Dampak besar dari perang di Iran terhadap produksi minyak dunia diperkirakan menyeret pasar ke kondisi defisit pasokan sepanjang tahun ini, menurut para analis. Proyeksi ini berbalik arah dari perkiraan sebelumnya nan menyebut pasar bakal menikmati surplus pasokan nan cukup longgar.

Mengutip Reuters, bentrok nan pecah pada 28 Februari, dipicu serangan AS dan Israel ke Iran, secara efektif menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis nan dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Selain itu, gangguan produksi dan serangan ke prasarana daya turut memangkas output secara signifikan.

Berdasarkan survei Reuters terhadap delapan analis, permintaan minyak dunia diperkirakan melampaui pasokan rata-rata sebesar 750.000 barel per hari tahun ini. Padahal, survei serupa pada September lampau tetap memperkirakan surplus 1,63 juta barel per hari pada 2026, nan didorong pelonggaran pemangkasan produksi oleh OPEC+ serta tingginya produksi dari negara seperti AS, Brasil, dan Guyana.

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat perang telah memangkas pasokan sekitar 11 juta barel per hari hingga akhir Maret. Sementara itu, ANZ dalam catatan 9 April memperkirakan sekitar 9 juta barel per hari pasokan minyak mentah lenyap dari pasar. Sebagai perbandingan, total pasokan dunia pada Januari mencapai sekitar 106,6 juta barel per hari menurut IEA.

Guncangan ini diperkirakan menyebabkan kehilangan produksi rata-rata 2,13 juta barel per hari sepanjang tahun. Para analis memproyeksikan defisit terdalam terjadi pada kuartal II dengan rata-rata sekitar 3 juta barel per hari, sebelum berbalik menjadi surplus 1,4 juta barel per hari pada kuartal IV.

Namun, akibat defisit nan lebih dalam tetap terbuka, terutama jika gangguan di Selat Hormuz berjalan lebih lama dari perkiraan.

Ilustrasi - Selat Hormuz. Foto: artemegorovv/Shutterstock

Sejauh ini, arus pengiriman melalui selat tersebut tetap terbatas. Para pedagang menyebut belum ada tanda pemulihan pengedaran nan stabil meski gencatan senjata telah diumumkan sejak Selasa.

Diperkirakan sekitar 136 juta barel minyak mentah dan produk turunannya tetap tertahan di area Teluk akibat konflik. Menurut Vikas Dwivedi dari Macquarie Group, penumpukan ini tidak bakal sigap terurai lantaran beragam hambatan operasional.

"Masalahnya termasuk asuransi dan akibat pelanggaran hukuman (dengan) bertransaksi dengan Iran jika bea masuk dibayarkan," kata Dwivedi.

Gangguan pasokan juga mendorong lonjakan proyeksi nilai minyak. Dalam jajak pendapat Reuters bulan lalu, analis meningkatkan perkiraan nilai Brent 2026 sekitar 30 persen menjadi USD 82,85 per barel. Sejak bentrok pecah, nilai minyak telah melonjak sekitar 50 persen.

video story embed

Pemulihan produksi ke level sebelum perang diperkirakan menyantap waktu berbulan-bulan, berjuntai pada tingkat kerusakan akomodasi serta kelancaran pengedaran melalui Selat Hormuz.

Dalam skenario terbaik sekalipun, ANZ memperkirakan pemulihan hanya terjadi bertahap. Sekitar 2 juta hingga 3 juta barel per hari bisa kembali ke pasar pada bulan pertama, disusul tambahan 2 juta hingga 3,5 juta barel per hari hingga akhir kuartal II.

"Namun, gesekan operasional, prasarana nan rusak, dan halangan ekspor berfaedah pemulihan kemungkinan besar tidak bakal melangkah mulus," kata mereka.

ANZ juga memperingatkan potensi kehilangan kapabilitas produksi permanen sekitar 1 juta hingga 2 juta barel per hari pascaperang, nan dapat membikin pasar semakin ketat dan meningkatkan volatilitas nilai ke depan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan