Perang AS-Iran Pangkas Pasokan Helium, Industri Cip Tetap Tangguh

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Perang AS-Iran Pangkas Pasokan Helium, Industri Cip Tetap Tangguh Ilustrasi.(Magnific)

PERANG di Timur Tengah memutus sekitar sepertiga pasokan helium dunia, gas tak kasatmata nan menjadi salah satu penopang krusial teknologi modern. Namun, industri semikonduktor nan krusial bagi sistem kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI) justru tidak banyak terguncang.

Para kreator cip telah lebih dulu menyiapkan jaringan pemasok nan beragam. Strategi itu memungkinkan pabrik-pabrik mereka di beragam negara tetap beroperasi, didukung perjanjian jangka panjang, akomodasi penyimpanan helium bawah tanah, serta persediaan di letak produksi.

Helium selama ini lebih dikenal sebagai gas pengisi balon. Namun, dalam industri modern, gas tersebut jauh lebih strategis. Helium merupakan produk sampingan produksi gas alam dan dibutuhkan dalam pembuatan semikonduktor canggih. Gas ini juga berkedudukan dalam propulsi roket dan pendinginan mesin MRI.

Qatar Hentikan Produksi, Pasokan Global Terganggu

Qatar, nan menyumbang sekitar 30% pasokan helium global, terpaksa menghentikan produksi gas alam cair alias liquefied natural gas (LNG) pada awal bentrok setelah serangan Iran terhadap Ras Laffan, area industri besar di utara Doha.

Gangguan terhadap produksi LNG secara langsung ikut memangkas pasokan helium. Pengiriman dari Qatar juga tersendat setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur krusial bagi perdagangan daya global.

Ketika pasokan helium mengetat, sejumlah pengamat industri menyebut nilai spot sempat melonjak lebih dari dua kali lipat pada awal perang. Kenaikan itu dipicu kekhawatiran bahwa kelangkaan helium bakal mengganggu industri semikonduktor. Namun, tekanan nan dikhawatirkan tidak betul-betul terjadi.

Produsen Cip Ditopang Kontrak Jangka Panjang

Produsen cip mempunyai perjanjian jangka panjang dengan pemasok gas krusial seperti helium, nitrogen, dan argon. Kontrak semacam itu membantu menjaga kelangsungan produksi saat terjadi gangguan pasokan.

Pemasok gas industri asal Prancis, Air Liquide, disebut bakal menyediakan gas kemurnian tinggi kepada SK Hynix di Korea Selatan. Sementara itu, Samsung Electronics pada April menunjuk Air Products untuk memasok gas industri ke akomodasi semikonduktor di Korea Selatan.

Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), kreator cip perjanjian terbesar di bumi nan memasok perusahaan seperti Nvidia dan Apple, menyatakan tidak memperkirakan akibat signifikan dari gangguan pasokan.

Di Eropa, Infineon Technologies asal Jerman menyebut produksinya tidak terdampak lantaran tetap dapat memperoleh helium dari beragam wilayah. STMicroelectronics, pemasok utama bagi Apple, Tesla, dan SpaceX, juga melaporkan tidak ada gangguan operasional.

Harga Tinggi tidak Terlalu Membebani Industri Semikonduktor

Menurut Andrei Quinn-Barabanov, pemimpin praktik industri rantai pasok Moody’s, ketahanan industri semikonduktor terutama disebabkan rendahnya sensitivitas perusahaan cip terhadap nilai helium nan tinggi.

"Alasan utama ketahanan ini adalah perusahaan semikonduktor nyaris tidak sensitif terhadap nilai helium nan tinggi. Dengan kata lain, perusahaan cip mempunyai margin nan memungkinkan mereka mengalahkan nyaris semua pengguna gas lain untuk mengamankan pasokan nan memadai," kata Quinn-Barabanov.

Sekitar seperempat konsumsi helium dunia digunakan oleh perusahaan cip. Quinn-Barabanov juga menyebut kapabilitas penyimpanan nan ada saat ini melampaui konsumsi tahunan industri tersebut.

Cadangan Helium Jadi Penyangga Pasar

Linde, pemasok gas industri terbesar di dunia, menyatakan relatif terlindungi dari gangguan terbaru berkah pedoman pasokan nan luas. Perusahaan itu juga tetap berfokus memenuhi komitmen kepada pengguna nan sudah ada sembari mengejar perjanjian multiyear baru.

Linde mengoperasikan salah satu akomodasi penyimpanan helium terbesar di Beaumont, Texas, dengan kapabilitas lebih dari 3 miliar kaki kubik. Lokasi itu merupakan satu dari hanya tiga gua garam helium berskala besar di dunia, selain akomodasi di Jerman dan Rusia.

Air Products, pemasok dan pemasok utama helium bagi pengguna di sektor elektronik, kedirgantaraan, dan pencitraan medis, menyebut penggunaan akomodasi penyimpanan di Beaumont memungkinkan perusahaan tetap melayani pengguna meski pasokan dari Qatar berkurang.

AS Jadi Penopang Penting Pasokan Helium

Meski Qatar tetap menjadi pemasok utama, sumber pengganti semakin berkedudukan dalam meredam tekanan pasar. Amerika Serikat, sebagai produsen helium terbesar di dunia, menopang pasokan dunia melalui prasarana penyimpanan dan kapabilitas ekspor nan besar.

Oxford Economics menyebut pengiriman gas langka, termasuk helium, meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.

"AS adalah produsen helium terbesar di bumi dan mempunyai kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan cip," kata Quinn-Barabanov.

Ia menambahkan, keahlian industri menyerap nilai tinggi dan kepentingan nasional AS dalam mendukung produksi semikonduktor membikin pasokan helium kudu mengetat jauh lebih parah sebelum produsen semikonduktor menghadapi gangguan serius.

Pelajaran bagi Rantai Pasok Teknologi

Kasus helium menunjukkan bahwa rantai pasok teknologi tidak hanya berjuntai pada komponen utama seperti wafer, peralatan litografi, alias kreasi cip. Gas industri nan jarang terlihat publik juga dapat menjadi titik krusial dalam produksi semikonduktor.

Namun, industri cip tampaknya belajar dari beragam gangguan rantai pasok sebelumnya. Diversifikasi pemasok, perjanjian jangka panjang, dan investasi pada persediaan strategis membikin sektor ini lebih tahan terhadap gejolak geopolitik.

Di tengah meningkatnya kebutuhan cip untuk AI, pusat data, kendaraan listrik, dan perangkat elektronik, ketahanan pasokan helium menjadi bagian krusial dari stabilitas industri teknologi global. (Wall Street Journal/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia