Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) secara resmi mengumumkan bakal memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akibat dampak destruktif perang di Timur Tengah. Kabar jelek ini disampaikan langsung oleh bos IMF pada Kamis, nan memperingatkan adanya "efek luka mendalam" pada ekonomi bumi meskipun gencatan senjata nan rentan mulai diberlakukan.
Kondisi ekonomi bumi diprediksi tidak bakal bisa kembali ke titik normal seperti sebelum bentrok pecah meski situasi keamanan mulai mereda. Kerusakan pada struktur pasar dunia dinilai sudah terlalu masif untuk diperbaiki dalam waktu singkat.
"Bahkan dalam kasus terbaik sekalipun, tidak bakal ada pengembalian nan rapi dan bersih ke status quo ante," tegas Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, Jumat (10/4/2026).
Georgieva memaparkan bahwa dalam skenario paling optimis nan dimiliki IMF, lonjakan biaya energi, kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasok, hingga hilangnya kepercayaan pasar tetap bakal membikin pertumbuhan ekonomi jauh lebih rendah dari nan diharapkan. IMF sekarang bersiap menyediakan support finansial darurat hingga US$ 50 miliar (Rp 855,75 triliun) untuk negara-negara nan terdampak, mengingat krisis pangan sekarang menakut-nakuti sedikitnya 45 juta orang.
"Mengingat akibat limpahan dari perang, kami memperkirakan permintaan jangka pendek untuk support neraca pembayaran IMF bakal meningkat antara US$ 20 miliar (Rp 342,3 triliun) hingga US$ 50 miliar (Rp 855,75 triliun), dengan pemisah bawah bertindak jika gencatan senjata bertahan," ujar Georgieva.
Peringatan senada juga datang dari Bank Dunia nan ikut bersiaga menghadapi potensi kebangkrutan di negara-negara berkembang. Krisis nan dipicu oleh bentrok antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak 28 Februari lampau ini telah melumpuhkan jalur perdagangan utama dan membikin nilai minyak mentah melambung tinggi setelah Teheran memblokir Selat Hormuz.
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, menyatakan kesiapan lembaga nan dipimpinnya untuk menyuntikkan biaya support dalam jumlah besar bagi negara-negara nan berada di periode kolaps. Prioritas support bakal diarahkan pada stabilitas fiskal jangka pendek.
"Lembaga kami dapat mengucurkan pembiayaan hingga US$ 25 miliar (Rp 427,87 triliun) dengan sangat sigap ke negara-negara berkembang nan terkena akibat perang. Sebanyak US$ 60 miliar (Rp 1.026,9 triliun) mungkin tersedia dalam jangka panjang jika negara-negara membutuhkannya," kata Ajay Banga pada Kamis (09/04/2026).
Konflik ini menciptakan pengaruh nan tidak merata, di mana negara-negara berpenghasilan rendah nan mengimpor daya menjadi korban paling parah. Kristalina Georgieva menyoroti nasib negara-negara mini nan berada di jalur logistik paling ujung nan sekarang terancam kehilangan akses daya sama sekali.
"Coba pikirkan negara-negara kepulauan Pasifik di ujung rantai pasokan nan panjang, nan bertanya-tanya apakah bahan bakar tetap bisa sampai ke mereka setelah gangguan parah seperti ini," tutur Georgieva.
Berdasarkan info Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi di area Timur Tengah di luar Iran diprediksi melambat tajam menjadi hanya 1,8% pada tahun 2026. Angka ini mencerminkan penurunan drastis sebesar 2,4 poin persentase dibandingkan dengan proyeksi sebelum perang pecah.
Kenaikan nilai minyak, gas, dan pupuk nan ekstrem sekarang mulai merembet ke sektor pangan nan bisa memicu krisis kemanusiaan global. Situasi ini diperparah dengan pembengkakan utang pemerintah di beragam negara lantaran upaya menahan guncangan ekonomi nan terjadi secara beruntun.
"Kenaikan tajam nilai minyak, gas, dan pupuk, berbareng dengan halangan transportasi, secara tak terelakkan bakal menyebabkan kenaikan nilai pangan dan ketahanan pangan nan terancam," bunyi pernyataan berbareng ketua IMF, Bank Dunia, dan Program Pangan Dunia (WFP).
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·