
Perang AS-Iran Kembali Memanas, Ancaman bagi IHSG (Foto: Okezone)
JAKARTA - Perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran kembali memanas. Sentimen ini bakal menjadi ancaman bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada pekan ini, IHSG tetap dibayangi sentimen eksternal seperti ketegangan AS-Iran hingga aspek internal seperti kesiapan fiskal.
"Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para penanammodal dunia condong mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka beramai-ramai menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset mata uang digital untuk mengamankan likuiditas," kata Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan dalam laporan risetnya, Senin (13/7/2026).
Arah pergerakan biaya dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi pertempuran di Timur Tengah nan memasuki fase kritis setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam konfrontasi militer secara terbuka. Konflik bersenjata ini memicu kekhawatiran sistemik atas potensi terhambatnya jalur logistik minyak mentah dunia.
Imbas dari kepanikan tersebut, arus modal internasional dilaporkan beranjak secara masif ke instrumen investasi safe-haven nan dinilai kondusif dari guncangan, seperti logam mulia emas dan mata duit dolar AS.
Pergeseran likuiditas ini diproyeksikan bakal mengatrol nilai emas bumi sekaligus memperkuat keperkasaan kurs dolar AS di panggung kurs asing.
Dari dalam negeri, kondisi esensial ekonomi makro Indonesia dinilai tetap berada dalam koridor nan terukur. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang paruh pertama tahun 2026 bertengger di nomor Rp196,5 triliun, alias setara dengan 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Secara izin baku, posisi defisit ini tetap berada dalam pemisah kondusif lantaran posisinya berada jauh di bawah periode maksimal nan ditetapkan undang-undang, ialah sebesar 3 persen. Kendati demikian, David memberikan catatan bahwa percepatan shopping negara nan melaju lebih sigap daripada penerimaan sektor publik tetap kudu diwaspadai.
"Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh kedua tahun ini. Langkah ini krusial guna meminimalisir akibat penambahan utang baru nan tidak efisien, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi domestik tetap kokoh di tengah gejolak global," tambah David.
Memasuki periode perdagangan tanggal 13 hingga 17 Juli 2026, konsentrasi perhatian para pelaku pasar bakal tersita oleh draf agenda ekonomi krusial dari panggung internasional.
Peluncuran info Tingkat Inflasi alias Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Juni pada hari Selasa menjadi parameter paling krusial, lantaran bakal menjadi kompas utama pasar dalam menerjemahkan arah kebijakan suku kembang The Fed.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·