Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden China Xi Jinping berjumpa dengan Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un, Senin (8/6/2026) di Pyongyang. Pesawat Xi dilaporkan resmi mendarat, di mana dirinya dan istri Peng Liyuan, disambut Kim dan istrinya, Ri Sol-ju.
Dilaporkan gimana Xi memuji "persahabatan nan tak tergoyahkan" dengan Pyongyang saat tiba di Korut. Ini menjadi perjalanan luar negeri pertamanya tahun ini, setelah menjadi tuan rumah pertemuan puncak berturut-turut di Beijing.
Xinhua melaporkan gimana kedua pemimpin berjabat tangan. Anak-anak memberikan kembang kepada Xi dan Peng.
Spanduk bertuliskan "Kami menyambut hangat Kamerad Xi Jinping" dibentangkan. Ada lagi spanduk lain nan memuji "persahabatan tak tergoyahkan" kedua negara di bawah bendera China dan Korut.
"Xi melakukan perjalanan ini setelah menjamu Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara terpisah di Beijing dan ketika pembicaraan nuklir Korut dengan Washington tetap buntu," muat AFP.
"Gedung Putih mengatakan bulan lampau bahwa Xi dan Trump mengkonfirmasi tujuan berbareng mereka untuk denuklirisasi Korut selama pertemuan puncak mereka di Beijing," tambahnya.
"Namun, kerabat wanita pemimpin Kim Jong Un nan berpengaruh mengatakan pada malam kehadiran Xi bahwa program senjata nuklir Korea Utara adalah garis tanpa mundur," lapor laman tersebut.
Sementara itu, Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung, mengatakan pada hari Senin bahwa Seoul tidak boleh menyerah pada denuklirisasi Korut. Ia menambahkan bahwa "Korut tetap memproduksi material nuklir apalagi pada saat ini".
"Beijing mungkin telah menerima Korut sebagai negara nuklir," kata seorang guru besar diplomasi di Universitas DePaul, Minseon Ku.
"Tetapi Xi mungkin bakal mengatakan kepada Kim bahwa China menginginkan stabilitas lebih dari apa pun," tambahnya.
"China selalu memprioritaskan stabilitas dan saat ini kudu mengelola hubungan dan perbedaan dengan AS", kata Ku.
Sementara itu, pengamat lain, sarjana tamu di Pusat Asia Universitas Harvard, Seong-Hyon Lee, mengatakan Beijing sedang beranjak arah. Kini China sedang "menjamin ketahanan rezim" daripada berupaya memaksa Korut untuk melakukan denuklirisasi.
"Strategi regional China nan lebih luas mendapat faedah dari negara penyangga nan stabil, bersenjata lengkap, dan selaras nan menyerap kapabilitas militer AS dan sekutu," katanya.
Korut telah berulang kali menyatakan dirinya sebagai negara nuklir nan "tidak dapat diubah" sejak pertemuan puncak Kim dan Trump pada tahun 2019 kandas lantaran perbedaan cakupan denuklirisasi dan pencabutan sanksi. Kim juga semakin berani setelah perang di Ukraina, mengamankan support krusial dari Moskow setelah mengirim pasukan untuk bertempur berbareng pasukan Rusia.
Beberapa analis mengatakan bahwa pertemuan puncak tersebut bisa jadi langkah Xi untuk melawan pengaruh Rusia nan semakin besar atas Korut. Namun secara keseluruhan, Moskow bukanlah kekuatan besar seperti China.
Xi terakhir kali berjumpa Kim pada bulan September. Kala itu, dia mengundang pemimpin Korea Utara dan Putin ke parade militer di Beijing untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.
China-Korut dan Korsel-Jepang
Sebagian analis lain mengatakan Korut juga merupakan satu-satunya negara nan mempunyai aliansi militer resmi dan mengikat dengan China. Karenanya Korut dapat berfaedah sebagai penyeimbang nan berfaedah bagi mitra AS di area tersebut, termasuk Korsel dan Jepang.
Perlu diketahui, hubungan China-Jepang nan telah lama dingin memburuk sejak Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi, seorang tokoh keamanan garis keras, tahun lampau mengisyaratkan bahwa Tokyo mungkin bakal kombinasi tangan secara militer dalam upaya China untuk merebut Taiwan. Taiwan sendiri mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka meski China menentangnya.
"Seiring meningkatnya kedudukan internasional Tiongkok, Beijing kemungkinan besar berupaya untuk lebih aktif menarik Pyongyang ke dalam orbit diplomatiknya," kata seorang mahir Korut di Universitas Kyungnam, Lim Eul-chul.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·