Jakarta, CNBC lndonesia - Kelompok Houthi nan berkawan dengan Iran memperluas kendali di pesisir Yaman dan menakut-nakuti jalur ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah. Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan daya dunia setelah perang juga mengganggu Selat Hormuz.
Melansir Reuters, Jumat (11/9/2026), Houthi merebut kota pelabuhan Mocha pada Kamis dan bergerak menuju Kepulauan Hanish, menurut sumber militer pemerintah Yaman. Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg memperingatkan bahwa penguasaan Mocha memberi Houthi "kehadiran langsung di akses menuju salah satu selat paling vital di dunia".
Pergerakan tersebut memperkuat posisi Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk selatan Laut Merah nan menjadi salah satu jalur perdagangan paling strategis dunia. Jika golongan itu bisa menguasai jalur tersebut, Iran berpotensi mendapatkan kartu tekanan tambahan terhadap Amerika Serikat sekaligus mengganggu koridor pasokan minyak utama lainnya.
Arab Saudi sekarang semakin berjuntai pada Laut Merah setelah bentrok dengan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur nan sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Houthi apalagi menyatakan pelayaran di Laut Merah kondusif bagi semua perusahaan, selain kapal-kapal milik Arab Saudi.
Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak 4% hingga menembus US$105 alias sekitar Rp1,848 juta per barel, sementara nilai rata-rata diesel nasional di Amerika Serikat menembus US$6 alias sekitar Rp105.600 per galon.
Sumber dari pemerintah Yaman, Iran, dan area setempat mengatakan bahwa pergerakan Houthi di sepanjang pesisir pekan ini dilakukan dengan pengarahan langsung Korps Garda Revolusi Iran. Namun, ahli bicara Houthi Mohammed Abdulsalam menegaskan operasi mereka berkarakter melindungi dan bakal berakhir andaikan serangan terhadap Yaman dihentikan.
Amerika Serikat menilai eskalasi ini tidak dapat diterima. Perwakilan AS Jenifer Neidhart de Ortiz menyebut Houthi sebagai "agen dan perangkat bagi Iran", sementara Grundberg menyerukan langkah internasional untuk menghadapi "fase baru nan lebih berbahaya" dalam perang Yaman.
Di tengah ancaman Laut Merah, upaya membuka kembali Selat Hormuz juga kembali terhambat. Data awal pencarian kapal menunjukkan hanya tujuh kapal melintasi selat tersebut pada Rabu, sekitar separuh dari rata-rata 10 hari terakhir, sementara media pemerintah Iran melaporkan Garda Revolusi menyerang kapal nirawak AS di pintu masuk Hormuz.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·