Peran Pesantren dan Literasi Digital dalam Menangkal Radikalisme

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Peran Pesantren dan Literasi Digital dalam Menangkal Radikalisme Memperkuat Peran Pesantren dalam Penguatan Literasi Digital Generasi Muda dalam Menangkal Radikalisme.(Dok. Istimewa)

PERINGATAN Hari Santri Nasional nan jatuh pada 22 Oktober menjadi momentum krusial untuk merefleksikan kembali peran pesantren dalam menjaga keutuhan bangsa. Di tengah maraknya ancaman intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan di era digital, lingkungan pendidikan Islam seperti pesantren diharapkan bisa menjadi tembok utama pertahanan ideologi bangsa.

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Didin Nurul Rosidin menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan nan diajarkan di pesantren mempunyai potensi besar untuk membentuk keimunan generasi muda terhadap mengerti radikal.

"Kekuatan utama santri itu terletak pada pertemuan antara kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan. Maka otomatis, ketika keempatnya melangkah dengan baik, pesantren sebenarnya mempunyai modal krusial untuk membentuk ketahanan terhadap intoleransi, ekstremisme, dan juga kekerasan," kata Prof. Didin di Cirebon, Kamis (22/10).

Pendidikan Karakter nan Berkelanjutan

Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa ketahanan tersebut bukan sesuatu nan instan. Karakter moderat kudu terus dipupuk melalui proses pendidikan nan konsisten dan berkesinambungan.

"Namun, kita juga kudu menyadari bahwa status sebagai santri itu tidak otomatis membikin mereka menjadi kebal terhadap propaganda. Inilah nan kemudian kudu kita jadikan refleksi bahwa ketahanan itu merupakan hasil pendidikan nan kudu terus dirawat," jelas Prof. Didin.

Menurutnya, tradisi keilmuan di pesantren melatih para santri untuk tidak terburu-buru mengambil konklusi keagamaan nan sempit. Melalui metode belajar sorogan, bandongan, dan musyawarah, santri terbiasa memandang dinamika perbedaan pandangan secara bijaksana.

"Santri belajar bahasa, membaca kitab, kemudian memahami penjelasan guru, dan mengenali perbedaan pendapat ulama. Ini tentunya diharapkan membikin santri berlatih untuk lebih berhati-hati menghadapi konklusi keagamaan nan terlalu instan, terutama nan suka mengkafirkan, menyesatkan, alias menghalalkan kekerasan," ungkapnya.

Sinergi dengan BNPT dan Literasi Digital

Menghadapi tantangan di era digital, kerja sama antara lembaga pendidikan dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi sangat krusial. BNPT diharapkan terus membangun ekosistem pencegahan nan memungkinkan generasi muda belajar, berdialog, dan menyikapi perbedaan secara damai.

Rekomendasi Langkah Konkret:

  • Membangun kemitraan pendidikan berkepanjangan antara pengasuh pesantren, akademisi, dan BNPT.
  • Menerapkan pembelajaran berbasis kasus nyata untuk mengidentifikasi narasi provokatif.
  • Melibatkan generasi muda (Gen Z dan Gen Alfa) sebagai perancang program pencegahan.
  • Memperluas ruang perjumpaan lintas golongan dan menyediakan jalur pendampingan bagi remaja.

Guna melengkapi ketahanan di ruang digital, Prof. Didin mendorong penerapan konsep kewaspadaan epistemik (epistemic vigilance). Konsep ini menekankan pentingnya sikap kritis dalam menyeleksi setiap info di media sosial sebelum memercayai alias menyebarkannya.

"Dengan generasi muda nan moderat dan kritis itulah, maka bakal muncul generasi nan kuat keyakinannya, bening pertimbangannya, luas pergaulannya, dan bertanggung jawab atas tindakannya," pungkasnya. (I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑