Penyekapan Perempuan di Bandung Dinilai Grooming pada Orang Dewasa

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Penyekapan Perempuan di Bandung Dinilai Grooming pada Orang Dewasa Ilustrasi.(Magnific)

KASUS penyekapan dan penganiayaan terhadap YSR,29, selama sekitar tiga tahun di sebuah rumah kontrakan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Imran Pambudi merupakan corak grooming pada orang dewasa.

Ia menjelaskan bahwa grooming bukan sekadar rayuan manis alias perhatian berlebihan. Perilaku itu, kata dia, merupakan strategi nan sistematis. Dimulai dari pelaku mendekati korban dengan sikap penuh perhatian, hadiah, alias janji-janji nan membikin korban merasa istimewa. 

"Namun di kembali itu, pelaku menanamkan kontrol. Korban diminta menyimpan rahasia, dijauhkan dari family dan teman, hingga perlahan kehilangan kemandirian," kata Imran saat dihubungi, Kamis (256).

Selain itu, rasa bersalah ditanamkan setiap kali korban mencoba menolak, sehingga lama-kelamaan korban merasa berjuntai sepenuhnya pada pelaku.

Imran menjelaskan dalam beberapa kasus nan sempat ramai di media, pola grooming terlihat bahwa korban tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tetapi juga kehilangan kebebasan dan kekayaan benda. 

Selama tiga tahun korban hidup dalam penyekapan. Meski disiksa oleh pelaku, akibat adanya ikatan manipulatif, korban susah keluar dari hubungan tersebut.

"Trauma, ancaman, dan stigma sosial semakin memperkuat jerat nan menahan korban. Ia tidak berani melapor, lantaran merasa tidak ada jalan keluar. Fenomena ini menunjukkan bahwa grooming tidak hanya menimpa anak-anak, tetapi juga orang dewasa," ungkapnya.

Berbeda dengan grooming pada anak nan berujung pada pemanfaatan seksual.  Pada orang dewasa, imenurutnya grooming bisa berkembang menjadi kontrol emosional, finansial, apalagi penyekapan. Ia mengatakan ada persamaan ialah pelaku membangun kepercayaan untuk kemudian menguasai korban.

Imran mengatakan korban susah melawan lantaran adanya trauma psikologis nan membikin kehilangan keberanian. 

Ketergantungan emosional menjadikan pelaku seolah satu-satunya sumber dukungan. Selain itu, ancaman dan intimidasi menutup ruang untuk melapor. Ditambah stigma sosial nan membikin korban takut dihakimi, lingkaran ini semakin susah diputus.

"Ketika korban mulai ragu, pelaku menggunakan rasa bersalah dan ancaman, memaksa korban percaya bahwa menolak berfaedah menghancurkan kepercayaan alias bakal berakibat buruk," tuturnya.

"Semua pola ini menjadikan grooming sebagai jerat lembut nan akhirnya menutup ruang perlawanan dan membikin korban semakin susah keluar dari lingkaran manipulasi," pungkasnya. (H-4)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia