
Anak curhat ke AI. (Foto: Freepik)
FENOMENA anak dan remaja nan lebih nyaman bercerita kepada kepintaran buatan (AI) alias chatbot dibandingkan kepada orangtua, guru, maupun kawan dekat semakin sering ditemui. Hal ini pun jadi sorotan.
Kehadiran teknologi nan bisa merespons dengan sigap dan tersedia selama 24 jam memang membikin AI menjadi tempat baru bagi sebagian anak untuk mencari jawaban, dukungan, apalagi kawan berbagi cerita. Lantas, apakah penyebab utama dari munculnya kejadian ini?

1. Fenomena Anak Lebih Nyaman Curhat ke AI
Psikolog Anak Remaja dan Keluarga, Sani Budiantini, S.Psi, Psi, dalam aktivitas Morning Zone di Youtube Okezone menilai kondisi tersebut tidak selalu buruk. AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana sementara untuk mencari informasi, menenangkan diri, alias membantu anak memahami perasaannya.
Namun, persoalan muncul ketika anak mulai menjadikan AI sebagai pengganti hubungan emosional nan semestinya dibangun dengan orang-orang di sekitarnya. Menurut Sani, ada argumen kenapa sebagian anak merasa lebih kondusif bercerita kepada AI dibandingkan kepada manusia. Salah satu aspek utamanya adalah respons nan diterima saat mereka mengungkapkan perasaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit anak nan merasa langsung dihakimi ketika bercerita kepada orang tua alias orang dewasa. Alih-alih didengarkan, mereka justru mendapatkan kritik, penilaian, alias nasihat sebelum perasaannya dipahami.
Kalimat seperti "kamu terlalu berlebihan", "itu perihal sepele", alias "jangan dipikirkan" mungkin terdengar biasa bagi orang dewasa. Namun bagi anak, respons tersebut dapat membikin mereka merasa tidak dimengerti.
Sebaliknya, AI dirancang untuk memberikan respons nan lebih empatik dan validatif. Ketika anak mengungkapkan kesedihan, kekecewaan, alias kecemasan, chatbot biasanya bakal merespons dengan kalimat nan menunjukkan pemahaman terhadap emosi pengguna.
Respons seperti "saya mengerti emosi kamu" alias "wajar jika Anda merasa seperti itu" membikin anak merasa didengar tanpa takut dihakimi. Inilah nan kemudian menciptakan rasa kondusif dan nyaman ketika mereka berinteraksi dengan AI.
“Sebenarnya AI itu gapapa jika dipakai untuk sementara, untuk menenangkan sementara alias mencari info boleh-boleh banget. Tapi ketika anak merasa merasa sudah menggantikan corak emosional orangtua itu nan menjadi masalah,” ujar Sani.
“Itu kenapa sih? Ya ada penyebabnya juga. Kadang-kadang nih kita ngomong ke orangtua, orangtua langsung nge-judge, langsung menghakimi gitu kan. Enggak mau dengerin, enggak bisa ada di sisi pandang mana,” lanjutnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·