Pengembang Properti Dorong Pemanfaatan Teknologi untuk Tekan Biaya

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Ilustrasi rumah berkelanjutan. Foto: ungvar/Shutterstock

Para pengembang properti mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam proses kreasi arsitektur guna menekan biaya investasi di sektor industri properti. Penggunaan teknologi memungkinkan perencanaan dilakukan lebih presisi sejak tahap awal, sehingga pengembang properti dapat mengurangi pengeluaran alias investasi nan tidak diperlukan sebelum proyek masuk tahap konstruksi.

Principal Zaha Hadid Architects (ZHA), Patrik Schumacher, mengatakan perkembangan teknologi telah memperluas kemungkinan dalam industri arsitektur. Teknologi tidak lagi hanya berfaedah sebagai perangkat bantu dalam proses perancangan, tetapi juga dapat mengubah langkah arsitektur dirancang, dikembangkan, dan digunakan.

Platform dan teknologi seperti metaverse, virtual reality (VR), hingga gaming engines memungkinkan beragam pihak bekerja-sama secara lebih interaktif sejak tahap awal proyek. Pengembang dan arsitek dapat mengeksplorasi serta menyesuaikan ruang secara virtual sebelum proyek direalisasikan.

Pendekatan tersebut dapat membantu menghasilkan rancangan nan lebih sesuai dengan kebutuhan sekaligusmengurangi biaya investasi nan tidak diperlukan dalam pengembangan proyek properti. Perangkat digital dengan patokan struktural dan material juga dapat membantu memastikan konfigurasi kreasi tetap layak secara teknis, apalagi membuka kesempatan penggunaan metode prefabrikasi.

Efisiensi biaya proyek menjadi semakin relevan seiring besarnya aliran investasi nan masuk ke sektor properti dan area industri. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, sektor perumahan, area industri, dan perkantoran masuk dalam lima sektor dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia sepanjang semester I 2026.

LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD) 2026 di Ciputra Artpreneur. Foto: Dok. LIXIL

Secara keseluruhan, realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut setara dengan 49,5 persen dari sasaran investasi 2026 sebesar Rp 2.041,3 triliun. Dari jumlah tersebut, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 507,6 triliun, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 502,9 triliun.

Selain teknologi, penggunaan material lokal dan kreasi nan menyesuaikan kondisi suasana turut menjadi pembahasan dalam forum tersebut. Principal Andramatin Studio, Andra Matin, menunjukkan gimana tradisi, material lokal, dan prinsip arsitektur tropis dapat diterjemahkan menjadi karya kontemporer.

Penggunaan ventilasi alami, naungan, lanskap, serta ruang sosial menjadi bagian dari strategi kreasi untuk menciptakan gedung nan mempunyai identitas sekaligus responsif terhadap suasana dan kebutuhan penggunanya.

Sementara itu, Principal Yolodi+Maria Architects Gregorius Supie menilai corak arsitektur tidak kudu ditentukan sejak awal, melainkan dapat berkembang dari proses observasi terhadap lingkungan sekitar. Karena itu, proses kreasi perlu mempertimbangkan kondisi alam, kebutuhan dan budaya masyarakat, pemilihan material, hingga karakter suasana di letak proyek.

instagram embed

Managing Director Asia Snøhetta, Richard Wood, menambahkan proyek arsitektur juga dapat memberikan akibat ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal melalui pemanfaatan keahlian dan potensi nan telah tersedia. Menurut dia, arsitektur bukan hanya mengenai bangunan, tetapi juga menciptakan ruang bagi kehidupan publik dan hubungan manusia dengan ruang.

Leader LIXIL Water Technology APAC Audrey Yeo mengatakan LDAD menjadi bagian dari kontribusi perusahaan terhadap perkembangan organisasi arsitektur dan kreasi di Indonesia.

“Bagi kami, LDAD lebih dari sekadar sebuah acara. LDAD merupakan kontribusi LIXIL bagi organisasi arsitektur dan kreasi Indonesia, mencerminkan komitmen kami untuk terus tumbuh berbareng industri,” ujar Audrey.

Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara, mengatakan kerjasama beragam pemangku kepentingan diperlukan untuk menghadapi tantangan tata ruang nan semakin dinamis.

“Setiap pengetahuan dapat saling melengkapi dalam menjawab tantangan tata ruang nan semakin dinamis. Dialog, pemahaman serta kerjasama merupakan kunci krusial dalam membentuk arsitektur nan relevan, solutif, dan berkelanjutan,” kata Arfindi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan