Menteri Keuangan Suahasil Nazara (tengah) didampingi istri Christina Pusporini Messakh menyapa wartawan dan pegawai Kemenkeu seusai dilantik presiden di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (14/9/2026). Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Suahasil Naz(MI/Usman Iskandar)
PENUNJUKKAN Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) dinilai dapat memperkuat kredibilitas fiskal Indonesia. Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan penunjukan tersebut berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.
Kondisi itu juga dinilai dapat menjaga persepsi positif penanammodal terhadap keahlian pemerintah mengelola anggaran.
"Penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan memperkuat kredibilitas fiskal Indonesia, dengan kontinuitas institusional nan memberikan anchor lebih kuat bagi kerangka fiskal," kata Jessica dalam keterangannya, Selasa (15/9).
Jessica memperkirakan defisit fiskal Indonesia tetap berada di bawah pemisah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Mirae Asset mempertahankan proyeksi defisit fiskal 2026 sebesar 2,9% produk domestik bruto (PDB).
Menurutnya, posisi tersebut tetap sejalan dengan ketentuan pemisah defisit fiskal dan dapat membantu menjaga ranking investasi Indonesia pada level BBB. Kondisi itu sekaligus dinilai bisa menurunkan akibat penurunan ranking alias downgrade.
"Defisit fiskal kami perkirakan tetap di bawah pemisah 3% PDB, sehingga membantu menjaga status investment grade BBB Indonesia dan menurunkan akibat downgrade," ujarnya.
Hingga Agustus 2026, defisit fiskal tercatat sekitar 0,9% PDB. Posisi tersebut dinilai tetap memberikan ruang bagi pemerintah untuk mempercepat realisasi shopping pada akhir tahun tanpa mengganggu pemisah defisit nan ditetapkan.
Jessica menilai ekspansi fiskal nan lebih banyak dilakukan pada paruh kedua tahun tetap dapat diakomodasi. Dengan demikian, sasaran defisit 2,9% PDB pada 2026 tetap dinilai realistis.
"Defisit fiskal nan tetap rendah memberikan ruang cukup bagi percepatan shopping menjelang akhir tahun," kata Jessica.
Di sisi pasar surat utang, permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) semakin meluas. Arus biaya penanammodal asing ke SBN tercatat sekitar Rp11,7 triliun secara month-to-date dan Rp40 triliun secara year-to-date.
Selain penanammodal asing, arus biaya juga berasal dari perbankan sebesar Rp11,4 triliun dan reksa biaya sekitar Rp4,4 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan pedoman permintaan SBN semakin beragam.
Jessica mengatakan pasokan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) nan lebih ketat serta penurunan imbal hasil SRBI turut mengalihkan likuiditas ke pasar SBN. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi penyangga permintaan di tengah tingkat suku kembang dunia nan tetap tinggi.
"Permintaan SBN semakin broad-based, dengan inflow asing Rp40 triliun secara year-to-date dan didukung perbankan serta reksa dana," ujarnya.
Pada perdagangan 15 September 2026, pemerintah bakal menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) dengan sasaran sugestif Rp32 triliun dan maksimum penyerapan Rp48 triliun. Sebanyak sembilan seri ditawarkan dalam lelang tersebut di sepanjang kurva.
Mirae Asset memperkirakan seri FR0110 dan FR0111 tetap menjadi anchor permintaan. Arus masuk portofolio nan kuat dan pasokan SRBI nan lebih terbatas dinilai dapat menjaga sasaran lelang tetap dapat terserap meski kondisi suku kembang dunia semakin hawkish.
"FR0110 dan FR0111 kami perkirakan tetap menjadi anchor permintaan, dengan demand buffer yang tetap kuat," kata Jessica. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·