Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian di jalur daya paling vital bumi kian membayangi pasar global, setelah muncul perkiraan bahwa pemulihan penuh Selat Hormuz dari ancaman ranjau bisa menyantap waktu berbulan-bulan apalagi jika perang berakhir.
Sebuah penilaian Pentagon menyebut bahwa proses untuk sepenuhnya membersihkan Selat Hormuz dari ranjau nan diduga dipasang Iran dapat menyantap waktu hingga 6 bulan. Laporan tersebut, nan dikutip oleh Washington Post dan AFP, menegaskan bahwa kondisi ini berpotensi menjaga nilai minyak tetap tinggi dalam jangka waktu nan lebih lama.
Selat Hormuz, jalur sempit nan menjadi nadi perdagangan daya dunia, praktis tertutup sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Penutupan ini telah mendorong lonjakan nilai minyak dan gas sekaligus mengguncang perekonomian global.
Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas bumi melewati selat tersebut. Namun selama masa gencatan senjata nan rapuh, jalur itu tetap sebagian besar tertutup, terlebih dengan adanya blokade nan diberlakukan oleh Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, apalagi jika bentrok berakhir dan blokade dicabut, proses pembersihan ranjau tidak bakal bisa dilakukan secara instan. Pejabat nan mengetahui pembahasan itu menyebut operasi tersebut kemungkinan besar baru bisa dimulai setelah perang betul-betul berakhir.
Estimasi enam bulan itu dilaporkan telah disampaikan kepada personil House Armed Services Committee dalam sebuah pengarahan tertutup. Para personil parlemen juga diberi tahu bahwa Iran kemungkinan telah menempatkan 20 alias lebih ranjau di dalam dan sekitar selat tersebut.
Lebih lanjut, sebagian ranjau disebut menggunakan teknologi GPS sehingga dapat mengapung dan dikendalikan dari jarak jauh, membuatnya jauh lebih susah dideteksi.
Namun, ahli bicara Pentagon Sean Parnell membantah laporan tersebut dengan menyebut info nan beredar sebagai "tidak akurat."
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran telah memperingatkan adanya "zona berbahaya" seluas sekitar 1.400 kilometer persegi nan diduga mengandung ranjau.
Ketegangan pun makin meningkat setelah Ketua Parlemen Iran menegaskan bahwa negaranya tidak bakal membuka kembali selat tersebut selama blokade angkatan laut AS tetap berlangsung.
Dari sektor industri, kekhawatiran juga datang dari pelaku pelayaran global. Seorang ahli bicara perusahaan transportasi Jerman Hapag-Lloyd pekan lampau memperingatkan bahwa perusahaan pelayaran memerlukan kejelasan mengenai rute nan aman, mengingat ancaman ranjau tetap tinggi.
Ketika Selat Hormuz sempat dibuka kembali secara singkat pada awal gencatan senjata bulan ini, hanya segelintir kapal nan berani melintas, itu pun di tengah kekhawatiran bakal serangan lanjutan alias keberadaan ranjau.
Sebelumnya Angkatan Laut AS mengeklaim telah mengirim kapal untuk mulai membersihkan ranjau di jalur tersebut. Namun, klaim itu langsung dibantah oleh Garda Revolusi Iran, nan apalagi menakut-nakuti setiap kapal militer nan mencoba melintas.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·