Salah satu SPBU di Pantura Subang nan mengalami penurunan penjualan BBM jenis Pertamax.(MI/Reza Sunarya)
KENAIKAN harga pertamax nan mencapai Rp16.250/liter, berakibat pada peningkatan permintaan BBM jenis pertalite. Tingginya permintaan BBM bersubsidi itu, membikin pertalite di sejumlah SPBU di jalur pantura, Subang, Jawa Barat, kekurangan stok, sementara penjualan pertamax menurun drastis.
Harga pertamax nan sebelumnya berada di kisaran Rp12.300/liter sekarang naik menjadi Rp16.250/ liter. Kenaikan ini berakibat merosotnya penjualan BBM jenis pertamax sementara pertalite mengalami lonjakan permintaan.
Salah satunya di SPBU Al-Maskar di Desa Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sepeda motor maupun mobil kudu antre untuk mendapatkan pertalite, sementara area pertamax terlihat lengang.
Pengawas SPBU Al-Maskar Ciberes, Sunardi, menyebut kenaikan nilai pertamax berakibat pada perubahan pola pembelian masyarakat, nan biasanya membeli pertamax sekarang beranjak ke pertalite.
"Sejak nilai Pertamax naik, banyak konsumen nan beranjak menggunakan Pertalite. Akibatnya permintaan Pertalite meningkat, sementara pengguna Pertamax mengalami penurunan," kata Sunardi, Jumat (12/6)
Menurut Sunardi, di SPBU Al-maskar Ciberes, penjualan pertamax nan sebelumnya mencapai sekitar 3 ton/hari sekarang turun menjadi kisaran 2 ton. Selain penurunan pembelian, pengedaran pasokan BBM juga mengalami hambatan lantaran keterlambatan pengiriman.
"Sebelum kenaikan harga, biasanya konsumsi pertamax mencapai 3 ton, sekarang hanya 2 ton. Pembeli pertamax beranjak ke pertalite," tegas Sunardi.
Meski BBM nonsubsidi lebih banyak digunakan kendaraan pribadi, dan tidak berangkaian langsung dengan sektor pikulan maupun industri, kenaikan nilai BBM tetap memberikan tekanan bagi kondisi ekonomi masyarakat, khususnya kalangan menengah.(RZ/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·