Penjual di Glodok Mau Nangis, Masa Jaya Hilang-Toko Bertumbangan

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan Pasar Glodok Jaya nan di masa lampau tersohor sebagai salah satu pusat perdagangan elektronik terbesar di Jakarta, sekarang keadaannya kian meredup dan lengang. Terpantau Selasa (2/6/2026), deretan ruko sekarang memilih untuk menyudahi operasionalnya, beriringan dengan penurunan drastis jumlah visitor nan datang berbelanja.

Kondisi sunyi nan berkepanjangan ini memicu keluhan dari para pedagang setempat, lantaran menyusutnya nomor fans berkapak langsung pada kemerosotan omzet penjualan nan tak lagi sejaya dulu. Situasi ini memaksa mereka untuk memperkuat dengan hanya mengandalkan loyalitas dari para pengguna setia nan tersisa.

Salah satunya Ginti, pedagang CCTV nan sekarang mengandalkan langganannya. Namun, penjualan saat ini, menurutnya, sudah turun hingga 30%, lantaran langganannya juga mulai mengurangi pembelian saat daya beli masyarakat sedang lesu.

"Wah, sudah beda banget jika sama nan dulu, sekarang inginnya nangis, belum langganan saya juga mulai mengurangi pembelian, jadi penjualan mungkin sudah turun 30%," kata Ginti saat ditemui CNBC Indonesia, dikutip Sabt (6/6/2026).

Dahulu saat tetap ramai, Ia bisa meraup untung hingga puluhan juta rupiah. Kini, dengan hanya mengandalkan langganannya, Ia hanya bisa meraup kurang dari Rp5 juta.

"Dulu pas di sini tetap jaya-jayanya, ada kali dapat hingga Rp20 juta, sekarang mau Rp3 juta saja susah, kadang Rp1 juta saja juga susah," terangnya.

Di tokonya, nilai CCTV dibanderol mulai dari Rp150.000 hingga Rp1 juta. Harga tersebut belum termasuk ongkos pemasangan dan lain-lain. Bahkan, harga-harga CCTV di tokonya sudah mengalami kenaikan sekitar Rp50.000, pengaruh dari kenaikan nilai komponen nan tetap impor dan pelemahan rupiah.

"Iya, memang naik harganya, ya sekitar Rp50.000, tergantung jenis CCTV-nya, lantaran kan komponennya tetap impor dan ditambah rupiah melemah terus," ungkap Ginti.

Senada dengan Ginti, pedagang sound system ialah Yofi mengungkapkan penjualan juga turun sekitar 30%, lantaran langganannya juga sudah mulai mengurangi pembelian.

"Memang sekarang mengandalkan langganan, hanya memang saat ini langganan saya juga lagi mengurangi pembelian, biasanya seperti beli mikrofon 5 buah, Clinical sekarang hanya 2 buah," kata Yofi.

Ia mengungkapkan daya beli nan sedang lesu membikin langganannya mulai mengurangi jumlah pembelian.

"Daya beli memang sedang lesu, sudah sejak 2025 mungkin ya, jadinya kami khawatir," ujarnya.

Sementara itu Ayong, pedagang elektronik komponen komputer juga mengungkapkan penjualan turun 30%-40%, sejak pengguna makin sunyi dan juga terdampak dari kenaikan nilai komponen dan pelemahan rupiah.

"Kalau penjualan, saya enggak terlalu mengerti berapa penurunannya, ya mungkin bisa 40% lah, lantaran nan biasanya ke sini buat cari komponen, sudah enggak ada sejak nilai komponen naik terus dan dolar Amerika Serikat (AS) makin mahal," kata Ayong.

Ayong menambahkan, sebelum kenaikan nilai komponen dan pelemahan rupiah terjadi, tetap cukup banyak nan mencari komponen seperti SSD, RAM, hingga perkabelan. Namun, sejak nilai komponen makin naik, pengguna makin berkurang.

"Memang nilai komponen sih nan mahalnya ampun, contoh saja SSD internal, nan 1 terabyte (TB) aja sekarang tetap Rp1,5 juta, nan 512 gigabyte (GB) aja Rp1,3 juta, sekarang orang-orang lagi mengelak beli SSD," jelas Ayong.

Suasana aktivitas para pedagang di Pasar Glodok, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Suasana aktivitas para pedagang di Pasar Glodok, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Suasana aktivitas para pedagang di Pasar Glodok, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News